
Tama masuk terlebih dahulu di ikuti Annisa dn Papi Gilang bersamanya masih dengan memeluk Annisa begitu erat.
Annisa tersenyum kala melihat keliam adiknya kini melihatnya dengan mata berkaca-kaca. Secara bersamaan merek berlima mengejar Annisa dan memeluk Annisa bersamaan hingga Annisa terhuyung ke belakang akibat tubrukan tubuh Syakir, Kinara, Algi, Arta dan Bella.
Kelima adiknya ini tersedu kala memeluk tubuh Annisa dengan erat. Annisa tertawa melihatnya tetapi buliran bening itu mengalir deras di pipi halusnya.
Annisa mengecup satu persatu ke lima adiknya itu. Mereka semua menagis melihat Annisa. "Kok nangis? Kakak baru pualng loh.." ucapnya dengan bibir bergetar.
Kelima adiknya itu semakin tersedu kala mendenagr suar lembut Annisa yang selam ini sering mereka dengar hanya melalui ponsel saja. Dan hari ini, mereka berlima bisa mendengar kembali dan bisa memeluk erat tubuh yang selamini selalu memberi mereka motivasi agar semangat dalam belajar.
"Sudah, ayo masuk dulu. Nanti kalian bisa puas puasin ngobrol sama kakak kalian. Ayo, ia pun lelah saat ini. Ayo!" ajak Papi Gilang kepada kelima anak yang masih memeluk erat tubuhnya.
__ADS_1
Annisa tersenyum, ia pun mengurai pelukannya dari kelima adiknya yang saat ini memeluknya dari depan, belakang, dan sampingnya.
"Ayo, Kakak harus amsuk. Mana tau si kembar butuh Kakak. Kalian udah ketemu belum sama si kembar??" tanya Annisa pada kelima adiknya sambil berjalan masuk ke dalam rumah yang dulu ia tempati bersama Tama dan ia tinggalkan selama lima tahun ini.
Kelimanya mengangguk, "Udah tadi. Saat Mama Linda Dan Mak Alisa udah mengenalkan pada kita semua," jawab Syakir yang kini besar. Sudah tamat SMA dan sudah kuliah semester dua.
"Baiklah. Ayo kita masuk! Kakak ingin dengar satu-satu dari kalian berlima tentang sekolah dan mengaji kalian."
"Apa Bang? Kenapa abang liatin aku yang kayak aku ini tersangka dan pantas di hukum?" tanya Annisa pada Ragata yang kini sedang menatapnya dengan pandangan mengejek yang seharusnya ia tujukan pada Tama yang kini sedang memangku Danis dan Tania yang tidak mau lepas darinya.
"Masih ingat pulang kamu?!" ketus Kak Ira begitu tidak bersahabat pada Annisa. Bukan Bang Raga yang menahwab tetapi Kak Ira.
__ADS_1
Wanita cantik yang tertutup niqob itu kini sedikit kesal kepada adik satu ayah dan satu ibu dengannya itu. Annisa terkekeh, ia mengulurkan tangannya pada Ira untuk disalimi.
Ira memberikannya kemudian ia peluk erat tubuh adiknya yang kini sudah menjadi wanita dewasa. Ira terisak. "Kenapa pergi nggak ngomong sama kami? Kenapa kamu memilih diam daripada menyelesaikan dek? Taukah kamu? Bang Tama begitu tersiksa selama empat tahun ini karena jauh dari kamu. Ia selalu menangis di setiap sujud malamnya. Karena begitu merasa bersalah padamu. Tidakkah kamu sadar, kepergianmu yang tanpa pamit itu meninggalkan luka yang begitu dalam untuknya?" ucap Ira masih dengan memeluk erat tubuh Annisa yang juga sama sepertinya saat inis edang menangis.
Annisa sebenarnya tidak ingin menyahutinya. Karena tidak ingin memeperpanjang masalah dengan Kakaknya ini. Tetapi Annisa tetap harus menjelaskan duduk perkaranya kepada Ira agar Kakak kandung se ayah dan se ibu dengannya itu tidak salam paham terus padanya.
"Hiks.. Adek mengikuti jejak Kakak yang pergi bukan tanpa sebab. Tetapi karena adek ingin menyelamatkan. Bukan menghindar. Lagipun kakak kan tau, kalau adek pergi untuk sekolah? Bukan untuk yang lain? Hiks.. Adek tau Adek salah meninggalkan Abang begitu saja. Tetapi Adek pergi pamit kok sama Abang. Dan untuk masalah itu, akan kami bahas besok. Hari ini adek ingin berkumpul dulu dengan keluarga besar kita. Terima kasih karena kalian masih menerima dan menyambut hangat diriku yang labil ini. Adek pergi untuk memantaskan diri agar layak bersanding di samping Abang, Kak. Agar adek tidak di anggap gadis labil seperti lima tahun yang lalu. Tetapi kini Adek sudah berubah. Adek sudah menjadi wanita dewasa. Sama seperti Kakak!" Jawab Annisa dengan berbisisk tetapi masih bisa terdengar oleh Ragata.
Ia tersenyum dan segera memeluk erat kedua orang yang ia sayangi itu. Ya, Annisa masih di terima dan disambut hangat di dalam keluarga besarnya dan keluarga besar Tama.
Terlepas masalah yang mereka alami dulu, itu akan menjadi urusan Annisa esok harinya. Hari ini, ia ingin berkumpul dulu dengan seluruh keluarga besarnya dan juga keluarga besar Tama.
__ADS_1