
Tama yang baru saja tiba di rumah sakit karena di hubungi oleh Mitha secara mendadak membuatnya terkejut. Ia terpaksa meninggalkan bengkel pada Anto demi cepat sampai di rumah sakit.
Tiba di rumah sakit Tama segera memarkirkan motor miliknya di sana dengan. terburu-buru. Ia masuk ke rumah sakit sambil berlari kecil.
Beruntung sekali dirinya ketika swkials ia melihat nnisa baru saja selesai dari resepsionis ruang sakit itu. Entah ada apa, Tama pun tak tau.
Ia berlari-lari kecil mengejar Annisa yang sedang berbicara dengan seorang anak kecil berusia tujuh tahun itu.
''Tunggu Sayang!!'' Seru Tama pada Annisa sambil berlari kecil mengejar Annisa.
Annisa berbalik karena mendengar suara Tama. Ia tersenyum. ''Abang??'' ucapnya pada Tama.
Tama tersenyum, ''Ya, ayo kita masuk. Loh, ini siapa??'' tanya Tama pada gadis kecil yang sedang menatap bingung padanya.
Melihat adik kecilnya itu kebingungan, Annisa tertawa. ''Ini Bella bang. Putri bungsu ayah bersama bunda Zizi. Dan adek, ini Bang Tama. Salim dulu,'' katanya pada Bella.
Bella mengangguk patuh, ia tersenyum. ''Hoo .. Abang kira anak siapa tadi. Hehehe.. Oh iya gimana kabar ayah??'' tanya Tama pada Annisa.
Mereka bertiga berjalan beriringan dengan Tama merangkul mesra bahu Annisa. Tidak terlihat seperti Adik Abang, tapi seperti pasangan.
__ADS_1
''Entah lah Bang,adek pun belum tau. Katanya parah harus sampai di opname begitu,'' jawab Annisa sambil terus berjalan. Tangan sebelah kiri memegang tangan halus Bella.
Sedangkan tangan Annisa yang satunya sudah nangkring di pinggang Tama. Mereka bertiga terus berjalan hingga tiba di depan beruang inap Ayah Emil.
Masih berada di depan pintu, suara Bunda Zizi sudah terdengar. Suara itu begitu tegas namun terkesan dingin dan menusuk. Tama dan Annisa saling pandang. Sedang Bella cekikikan mendengar suara Bunda Zizi mengomel pada Abang sulungnya itu.
Annisa menunduk ke bawah dan menutup mulut Bella dan berbisik. ''Sssssttt.. diam adek. Kakak mau buat kejutan, oke?''
''Oke!'' sahutnya masih dengan cekikikan. Annisa pun ikut terkikik geli. Tama menggeleng kan kepala nya. Ia pun ikut terkekeh. Melihat tingkah kakak beradik beda ibu ini.
''Kamu itu sedari dulu suka banget bikin ulah? Tidakkah kamu tau, jika ayah sakit itu gara-gara mikirin kamu, heh?!'' seru Bunda Zizi dengan suara rendahnya kepada Syakir.
Syakir melengos. Ayah Emil menghela nafasnya. ''Sudah Dek.. Annisa mana? katanya tadi kesini? Dari tadi kok nggak masuk-masuk?'' tanya ayah Emil dengan suara lemahnya.
Bunda Zizi tidak menyahut. Saat ini ia sedang kesal kepada putra sulungnya. Ayah Emil terkekeh kecil melihat wajah Bunda Zizi merengut kesal seperti itu.
''Dek-,''
Ceklek!
__ADS_1
Pintu terbuka dari luar. Semua mata melihat ke arah pintu. Bella masuk di ikuti Annisa dan Tama di belakang nya.
''Assalamu'alaikum ayah...'' sapa Annisa sembari mendekati bangkar pasien dan ingin menyalimi ayah Emil.
Beliau yang masih tiduran pun berusaha bangkit. Di bantu Bunda Zizi ayah Emil duduk menyender setelah bangkar pasien itu di tinggikan.
Ayah Emil tersenyum, ia merentangkan kedua tangannya untuk menyambut Annisa dalam pelukannya.
''Waalaikum salam sayang.. kamu datang Nak??'' tanya ayah Emil sambil mengecup dahi Annisa dengan sayang.
Annisa mengangguk dan tersenyum manis. ''Tentu. Kakak harus datang kan untuk jenguk ayah??'' kata Annisa sambil mengedip-ngedip lucu pada ayah Emil.
Ayah Emil tertawa. Begitu juga dengan Mitha. Tama Terkekeh-kekeh melihat tingkah Annisa. Bunda Zizi tersenyum tipis. Sedangkan seorang pemuda berumur tiga belas tahun yang belum genap itu menatap datar pada Annisa yang sedang memeluk ayahnya.
''Cih! Giliran anak yang lain datang, di Sayang! Giliran aku? Aku sering kali di marahi! Selalu saja! Adek Arta yang buat masalah tapi selalu aku yang kena batunya! Sebenarnya aku ini anak Mak sama ayah bukan sih?!''
Deg!
''Syakir!!!''
__ADS_1
''Apa?!''
''Dek...''