
''Sudah siap??'' tanya Tama pada Annisa
Annisa mengangguk mantap. ''Alhamdulillah sudah! Aseeeeekkk.. liburan euuyy!''
Mitha dan Tama tertawa mendengar ucapan Annisa. ''Woke! Let's go home Mr. Adrian Pratama!'' balas Mitha pula.
Annisa dan Tama pun ikut tertawa.
Ya, setelah pembagian raport serta hadiah bagi murid yang berprestasi semua siswi di persilahkan untuk pulang bersama keluarga masing-masing.
Salah satunya Annisa. Saat ini mereka sedang berada di dalam mobil Alphard milik Tama untuk menuju ke kediaman mereka berdua. Untuk sementara Mitha tetap tinggal bersama Tama.
Padahal Anto sudah menyuruhnya untuk tinggal dirumah baru mereka. Tetapi Mitha tetap tidak ingin tinggal disana sebelum mereka sahh menjadi suami istri. Takut fitnah katanya.
Dan Anto? Ia bangga dengan jawaban Mitha untuknya. ''Ngomong-ngomong, Papa sama Mama ada di rumah nggak Bang?'' tanya Annisa pada Tama yang sedang menyetir mobil.
Tama tersenyum dan menoleh sekilas. ''Ada.. katanya sih sebelum kita tiba dirumah siang ini Mama sana Papa udah ada dirumah. Ingin menyambut menantu kesayangan, begitu katanya!'' Tama terkekeh, ia melirik Mitha dari spion depan mobil miliknya.
Wajah Mitha mendadak sendu. Tama menghela nafasnya. Annisa tau itu. ''Mitha!'' panggil Annisa
''Iya Kak..'' lirih Mitha tidak bersemangat.
''Ih, kok lemes gitu sih jawabnya? Yang semangat dong!''
Mitha menghela nafasnya. ''Iya kakak ipar kecilku yang cantik yang baik hati sejagat Medan seluas samudera Hindia....'' kelakar Mitha
Membuat Annisa melototkan matanya. ''Eh, apaan tuh ngomongnya kayak begitu?! Diikatain baik, cantik tapi sejagat Medan seliuas samudera Hindia! Mana kayak gitu!'' sungut Annisa tidak terima
Tama tertawa. Mitha pun ikut terkekeh. Annisa tersenyum. ''Malam ini kita tidur bareng ya di kamar kamu? Banyak yang harus aku omongin sama kamu!'' katanya pada Mitha
__ADS_1
Tama yang sedang menyetir pun terkejut. ''Eh, eh. Mana boleh! Malam ini kamu sama Abang dulu! Besok baru sama Mitha!'' tolak Tama dengan wajah tak bersahabat
Annisa memutar bola matanya malas. ''Abang apaan sih? Adek tuh ya kangen pingin ngobrol sama Mitha! Kok malah di larang sih? Abang nggak asik ah!''
Tama menoleh lagi, ''Ya.. kan Abang kangen juga sama kamu? Emang kamu nggak kangen gitu sama Abang?''
Annisa melengos. Mitha tertawa terbahak. Annisa pun ikut tertawa wajah di kulum. Tama tau apa tujuan Annisa ingin mengajak Mitha berbicara seperti itu.
''Iya deh iya.. Abang nyerah! Naseb... naseb! Pria tua ini selalu di kesamping kan! Apalagi kalau sudah ketemu sama yang sejoin?! Hadeeeuuhh.. naseb kamu Tama pria tua selalu harus banyak mengalah!''
Buhahahaha...
Mitha dan Annisa tertawa terbahak di dalam mobil. Tama pura-pura jutek dan tidak sial pada istri dan adik nya itu. Sepanjang perjalanan di isi dengan gelak tawa Annisa dan Mitha yang selalu mengejek Tama.
Tama pasrah selalu dikatai tua oleh sang istri tercintanya. Toh, kalaupun menolak? Buat apa. La wong yang dikatai Annisa benar adanya. Tama memang sudah tua.
''Walaupun tua tapi kamu tetap cinta kan?'' hanya itu yang bisa Tama katakan untuk menimpali ucapan istri dan adiknya itu.
''Bang??'' panggil Annisa pada Tama.
Tama tersenyum dan mengangguk. ''Ayo turun. Mereka sudah sedari tadi menunggu mu. Kamu juga Dek, ayo! Ada Abang sama Kakak iparmu tidak usah takut, hem?'' ucap Tama pada Mitha.
Mitha mengangguk walau sendu. Wajah itu begitu sendu saat ini. Annisa mengepalkan tangannya. Ia turun duluan tanpa menunggu Tama dan Mitha.
Mitha terkejut karena suara gebrakan pintu mobil yang tertutup lumayan kuat hingga membuatnya terjingkat kaget. Tama menghela nafasnya.
''Abang...'' lirih Mitha dengan bibir bergetar.
''Sudah. Kamu percaya sama kakak ipar kecil mu itu bukan?''
__ADS_1
Mitha mengangguk. ''Ya...'' lirihnya tidak bertenaga.
Mereka berdua turun dari mobil dan mbawa kopwer milik Annisa di ikuti Mitha di belakang Tama yang berjalan sambil menunduk.
Sementara Annisa. ''Assalamu'alaikum Papiiiiii!!! Maakkk!! Huaaaa!!!'' pekiknya kegirangan
Papi Gilang sampai tertawa dibuatnya.
Grep!
''Astaghfirullah! Ini anak! hampir aja Mak jatuh Kak!'' tegur Mak Alisa pada Annisa.
''Hiks.. kangen Papi sama Mak! Kalian itu kemana aja sih?! Mentang-mentang kakak udah dinikahin sama bang Tama kalian nggak ingin ketemu lagi Sama kakak! Jahat kalian!''
Bugh.
Bugh.
Bugh..
Buhahahaha...
Papi Gilang tertawa terbahak saat melihat tingkah manja Annisa yang tidak pernah berubah jika bertemu dengannya. ''Papi jahat! Awas ih! Malas Kakak peluk Papi!'' ketus Annisa sembari mengurai pelukannya dari tubuh hangat Papi Gilang.
Tubuh hangat yang dulu pernah menyelamatkan nya ketika ia masih bayi saat rumah mereka kebakaran. Papi Gilang lah penyelamat Annisa. ( Baca Pelabuhan Terakhir ku biar pada tau ye? )
Papi Gilang tertawa. Bukannya marah pada putri sambungnya itu ia malah bertambah tertawa. ''Kakak kok gitu sih ngomongnya sama Papi?? Nggak suka ya Papi datang kesini?? hem?'' tanya Papi Gilang sembari mengurai pelukannya dan menatap wajah ayu Annisa.
Wajah Annisa di tekuk dua belas. Papi Gilang terkekeh lagi. ''Awas! Papi datang kesini pun karena di kasi tau Abang kan? Kalau nggak, mana mungkin kalian datang! Mana adik-adik ku?!'' ketus Annisa pada Papi Gilang.
__ADS_1
Mak Alisa melototkan matanya. ''Kakak!!''
''Malas! Mak sama Papi! Sama saja!'' ketusnya lagi. Papi Gilang semakin tertawa melihat tingkah putri kecilnya itu yang kini sudah besar dan sudahenjadi milik orang lain.