Annisa Istri Kecilku

Annisa Istri Kecilku
Amarah Bunda Zizi


__ADS_3

''Kau..!!!'' ucap seseorang yang tadi mengatai ayah Emil dengan lidah tak bertulang nya.


Annisa menatap nyalang padanya. ''Ya, aku!!! Akulah orang yang telah melunasi hutang ayah selama ini di bank demi menyelamatkan kalian semua yang haus akan harta !! Apa salah ayahku pada kalian semua, HUH!? Pernahkah ia melukai hati kalian dengan perkataan nya?! Pernahkah kalian mendengar ia menyahuti ucapan kalian selama ini ia menikah dengan putri kalian?! Huh?! Jawab!!!!'' sentak Annisa dengan suara melengking tinggi.


Hingga semua orang yang ada diruangan itu dan juga ayah Emil terjingkat kaget. Termasuk empat orang yang baru saja tiba di depan pintu ruang inap ayah Emil.


Bunda Zizi dan Tama terkejut bukan main saat Syakir membuka pintu itu dengan pelan. Ingin mengucapkan salam namun, lidah itu Kelu seketika ketika mendengar suara lengkingan Annisa yang begitu kuat.


''Apa sih yang sebenarnya kalian inginkan?? Apakah belum cukup selama tiga belas tahun ini kalian semua mengeruk harta ayah dan Bunda ku?? Tidakkah kalian berpikir, bahwa mencari uang itu sulit? Kenapa orang miskin itu selalu kalian pandang hina?! APa salah ayahku pada kalian semua?! Marah tidak, menyahuti ucapan kalian tidak, hiks. Ayahku sesuka kalian selalu kalian katai yang tidak-tidak. Hiks. Apa gunanya menjadi orang kaya kalau kalian itu datang kesini Hanya untuk untuk mengeruk Bunda dan ayah ku??? Hiks. Kenapa?! Kenapa????'' tanya Annisa yang sudah terisak, kala melihat ayah Emil sudah menangis dengan memeluk tubuh kecilnya.


''Hiks. Tidak kah kalian tau kalau ayah ku sakit pun gara-gara kalian yang selalu menekannya dengan kata-kata pedas yang selalu kalian lontarkan demi bisa mengobati dirinya. Kalian itu orang kaya bermartabat dan sekolah kalian itu tinggi bukan?! Apakah saat kalian sekolah dulu, kalian tidak pernah di ajari tentang etika berbicara ataupun mengucapkan kata-kata yang bisa menyinggung perasaan orang?! Hiks. Ayahku selalu menderita selama ini. Semua itu karena Kalian! Kalian lah penyebabnya! Kalian ingin senang-senang tapi ayah dan bunda ku yang menjadi tumpuan kalian!''


''Hiks. Sekarang aku tanya. Siapa yang sekarang yang miskin? Ayahku? Atau kalian semua?? Hiks..'' Isak Annisa masih dengan memeluk tubuh ayah Emil yang terus berguncang karena menangis.


Syakir yang sudah tidak tahan melihat kedua orang yang begitu ia sayangi menangis terisak Seperti itu di akibatkan oleh keluarga jauh Mak nya. Ia membuka pintu dengan kasar hingga menimbulkan suara gaduh.


Brrraaaakkk..


Annisa dan ayah Emil terkejut dengan suara gebrakan pintu yang begitu kuat. Terlihat Jika Syakir melangkah masuk dengan aura yang begitu menakutkan.


Bunda Zizi menatap dingin pada seluruh keluarga nya itu. Belum lagi Tama. Wajah itu begitu dingin dan sangat menusuk ketika bertatapan dengan nya.


Arta pun demikian. Wajah pria kecil mirip Ayah Emil versi kecilnya itu pun mendadak datar seketika setelah mendengar ucapan Annisa yang begitu menyakitkan untuk di dengar oleh anak kecil seperti nya.


Syakir melangkah masuk dan berdiri dihadapan ayah Emil dan Annisa yang saat ini sedang menangis. ''Sudah Yah. Ayah nggak usah takut sama mereka! Kakak bisa kok kasi makan kalian semua? Ada Syakir yang akan membantu kakak. Nanti kakak hubungi kak Ira dan Bang Raga. Kenapa kemarin nggak ke rumah sakit Kakak aja sih, Yah? Kan lebih enak ada kakak dan Abang disana? Belum lagi kalau bang Lana tau, adek pasti di marahi olehnya jika tau ayah sakit kayak gini! Sebelum ia pulang dari tugas tentaranya ayah harus sudah sembuh, hem?'' ucap Annisa masih dengan memeluk tubuh kurus ayah Emil yang semakin berguncang karena menangis.

__ADS_1


Ayah Emil tidak menyahut, ia lebih memilih memeluk tubuh kecil darah daging yang telah menyelamatkan harga dirinya hari ini yang selalu di injak-injak oleh keluarga jauh Bunda Zizi yang Bunda Zizi sendiri pun tidak tau akan hal itu.


Ia baru tau hari ini. Dan ini sangat melukai hatinya sebagai seorang keponakan. mereka semua. Belum lagi Masalah hutang di Bank. Pantas saja selama ini ayah Emil selalu membagi uang itu begitu sedikit pada nya. Dan ternyata, keluarga nya sendiri lah yang telah mengeruk harta nya dan sang suami selama ini membayarnya.


Beruntung nya hari ini ia tau semuanya. Dan sudah terbukti, bukan Emil memiliki simpanan lain dalam artian wanita. Tetapi karena memilki hutang di Bank. Yang disebabkan boleh keluarga nya sendiri.


''Astaghfirullahal'adhimm...'' lirihnya masih terdengar oleh Tama dan Syakir.


Syakir menatap mereka dengan amarah yang ingin meletup saat itu juga. Namun, ia mencoba meredam nya seperti ajaran bang Lana dulu saat mereka berkunjung untuk mengunjungi ayah Emil tahun lalu saat lebaran tiba.


''Jika Opung datang kemari hanya untuk menghina ayahku, lebih baik kalian pulang! Kehadiran kalian disini hanya membuat kesehatan ayahku memburuk! Lebih baik kalian keluar! Pintu keluar berada di sana!'' tunjuk Syakir dengan wajah dingin nya.


Seseorang yang tadi sempat ingin membantah ucapan Annisa, kini mendadak kicep saat melihat Syakir menatapnya dengan tajam.


''Dan ya, setelah kalian keluar jangan pernah kembali lagi ke tempat ini! Aku dan keluarga ku tidak menginginkan kehadiran kalian disini! Kalian datang bukan untuk menjenguk ayahku tapi malah datang untuk mencemooh dirinya yang miskin! Sekarang aku tanya? Siapa yang disini miskin? Aku dan keluarga ku? Atau kalian orang kaya tetapi lebih miskin dari pada kami orang miskin ini??? Dalam artian miskin hati dan etika???''


Deg!


Deg!


Semuanya terkesiap mendengar ucapan Syakir. Salah satu dari mereka gelagapan. Syakir terkekeh namun, menyeramkan bagi yang melihatnya. Tama menarik sedikit ujung bibirnya itu.


''Annisa versi laki nya!''


Bisik hati Tama. Wajahnya masih tetap datar saat menatap semua orang itu. Ia melangkah masuk dengan menuntun bunda Zizi dan Bella untuk duduk di sebelah ayah Emil.

__ADS_1


Annisa mengurai pelukannya dari tubuh ayah Emil dan tersenyum pada bunda Zizi. ''Bunda...'' panggil Annisa


Bunda Zizi mengangguk namun, masih dengan wajah datar nya. ''Keluar kalian semua sebelum aku panggilkan keamanan! Aku tidak ingin melihat kalian semua disini. Aku tak menyangka, memilki keluarga seperti Kalian! Entah apa yang akan terjadi jika Opung Butet tau tentang kelakuan Kalian ini, kalian semua pasti akan di marahi olehnya!''


''Pergi dari sini!'' usir Bunda Zizi dengan wajah datar nya.


Semua yang ada di sana terkejut mendengar ucapan bunda Zizi yang sejak tadi hanya terdiam saja.


''Zi kami-,''


''Keluar!!!'' titahnya begitu dingin.


Mereka semua saling pandang. ''Keluar atau aku yang keluar?! huh?!''


Deg!


Deg!


''Zi-,''


''Ke lu aaarrrr!!!!!!'' pekik Bunda Zizi untuk yang kesekian kalinya dengan suara melengking melebihi suara Annisa tadi. Semua nya terkejut. Tapi tidak dengan Syakir dan Arta.


Mereka berdua terkekeh mendengar suara lengkingan suara asli dari Mak mereka yang selalu ia perdengarkan saat marah kepada Syakir dan Arta.


💕💕💕💕

__ADS_1


Dua aja ye? Besok othor ganti empat deh! hihihi.. dukung dengan like, komen, dan kembang juga ye?


__ADS_2