
Tiba di depan pintu kamar Papa Fabian, Mitha berdiri mematung. Sekali lagi ia menoleh ke belakang. Dimana ada Annisa yang sedang tersenyum dan mengangguk padanya. Begitupun dengan Tama.
''Masuklah. Kami butuh waktu berdua berbicara dengan Papa,'' ucap Tama pada Mitha.
Mitha mengangguk patuh. Sebelum masuk, Mitha menghela nafasnya terlebih dahulu. ''Ya Allah.. bantu hamba..'' lirihnya sembari memutar gagang pintu kamar itu dan masuk ke dalam.
Mitha berdiri mematung saat melihat Papa Fabian terisak dengan bahu berguncang. Mitha sakit melihat nya. Ia berjalan perlahan mendekati Papa fabina dan bersimpuh di kaki Patih baya yang sudah menghadirkan nya ke dunia ini.
Mitha berlutut dan bersujud di kaki sang Papa.
Cup.
''Pa... maafkan Mitha.. Mitha tidak bermaksud untuk membunuh Abang waktu itu. Mitha terpaksa melakukannya. Semua itu karena desakan dari Mama. Mitha mana mungkin mau membunuh Abang sendiri, Pa.. Mitha sayang sama Abang.. sedari kecil Papa sudah mengenalkan Mitha padanya. Kalau dia adalah pengganti Papa suatu saat nanti. Hiks.. Mitha tidak pernah sekalipun berniat ingin mencelakai nya. Papa tau itu. Mitha terpaksa Pa..'' lirih Mitha masih dengan bersujud di kaki Papa Fabian.
Papa Fabian bergeming. Pria paruh baya itu masih tersedu. ''Mitha sebentar lagi akan menikah Pa.. apakah Papa tidak menginginkan untuk menikahkan Mitha dengan orang yang Mitha cintai??''
Mitha mendongak melihat Papa Fabian. Papa Fabian melengos. Ia tidak ingin melihat putri tersayang nya itu. Sementara Mitha beranggapan lain. Mitha tersenyum walau sendu.
''Terimakasih, selama ini Papa sudah mau menerima anak yang tidak di inginkan ini. Terimakasih karena sudah merawat anak anak yang tidak tau diri ini. Maaf.. karena kehadiran anak sialan ini membuat hidup Papa jadi berantakan.. sekali lagi maaf dan terimakasih. Mitha sayang Papa.. Mitha pamit! Jaga diri Papa baik-baik. Semoga Papa bahagia setelah kepergian gadis sialan dan pembawa sial seperti ku ini.. Mitha sayang Papa. Sayang... sekali.. Mitha pergi.. assalamualaikum Papa...'' lirih Mitha dengan segera bangkit dan berjalan menuju pintu.
__ADS_1
Ia mengusap kasar wajahnya dan mbuak pintu kamar Papa Fabian. Ia keluar dengan wajah datarnya dan terus berlalu menuju kamarnya yang ada di atas bersebelahan dengan kamar Tama.
Annisa berlari mengejar Mitha yang masuk ke kamar nya dengan buru-buru. ''Loh, loh? Kamu mau kemana? Kenapa? Ada apa?'' tanya Annisa begitu panik
Mitha tidak menyahut. Tangannya terus bergerak memasukkan bajunya ke dalam koper. Setelah selesai, Mitha kelurahan tanpa mendengarkan panggilnya Annisa lagi.
Annisa meradang. Ia turun ke bawah dengan wajah dingin nya. Ia berdiri di undakan tangga dan menatap nyalang pada Mitha yang saat ini sedang mendorong kopernya tanpa menghiraukan panggilan Tama.
''Berhenti Kamitha Andriyana Pratama!!! Satu langkah kamu keluar dari ruang ini, maka aku akan berpisah selamanya dari Abang kamu Adrian Pratama!!!''
Dddduuuuaaaaarrrrrrrrr...
''Annisa!!!'' seru Mama Linda
Semua yang ada disana mematung di tempat mendengar ucapan Annisa. ''Pergi, jika kau ingin melihat kami berdua berpisah dan akhirnya mati, silahkan! Angkat kaki dari rumah ini! Percuma saja aku memperbaiki hubungan sudah dan anak ini sementara kalian berdua itu begitu egois! Tidak ada yang mau mengalah. Bisa tidak mengalah semua kebaikan orang lain?! huh?! Sebenarnya kalian itu kenapa???? Ada apa dengan kalian semua huh?!'' tanya Annisa masih diatas undakan tangga sana.
Tama tidak tau harus kemana sekarang ini. Di satu sisi adik kandungnya. Di satu sisi Istri nya. Tama menunduk dan terjatuh. Ia tepekur di lantai dengan bahu berguncang. Mama Linda mendekati nya.
''Hiks.. apa yang harus Abang lakukan Mama?? Keduanya Abang butuhkan? Haruskan Abang mati dulu baru Papa bersedia menerima Mitha?'' lirih Tama dalam pelukan Mama Linda
__ADS_1
Mama Linda pun ikut menangis. ''Tidak nak. Kamu tidak boleh ngomong seperti itu. Semua ini ujian untuk keluarga kita. Biarkan. Biarkan jika Papa mu tidak mauenwrima Mitha. Mama menerima Mitha apa adanya. Mitha tidak bersalah. Jangan pergi Nak.. Mama mohon..'' pintanya pada Mitha yang kini berdiri mematung membelakangi mereka semua.
Anto ingin sekali memeluk gadisnya. Tapi belum saatnya. Ia hanya bisa memegang tangan Mitha saja untuk menguatkan Mitha. ''Kembalilah. Apakah kamu ingin melihat mereka yang menyayangimu bersedih karena kepergian mu?? hem? Kembalilah. Abang pun butuh kamu disini. Apakah kamu ingin membatalkan acara pernikahan kita yang tinggal hitung hari saja??''
Mitha diam. Tapi tangisan nya semakin menyayat hati terdengar ke telinga Papa Fabian. Pria paruh baya itu mendekati Tama dan Mama Linda.
''Bangun..'' bisiknya
Mama Linda dan Tama mengangguk. Kemudian ia mendekati putri bungsunya dan memeluknya dengan sayang. ''Janahn pergi nak.. Papa tidak marah padamu.. Papa sayang padamu dari dulu hingga sekarang. Kamu anak Papa. Walau kamu terlahir dari rahim Mama Karin tetapi kamu tetap anak Papa. Selama kamu kecil Papa lah yang selalu merawat mu. Papa hanya merasa kecewa saja dengan diri Papa karena dulu Papa gagal menolong kamu saat Mama kamu membawa kamu ke Jakarta demi melindungi Abang kamu. Adrian. Jangan pergi Nak.. tetap disini. Lusa pernikahan mu akan segera di gelar. Papa sendiri yang akan menikahkan mu. Jangan pergi sayang.. jangan tinggalkan lelaki tua yang sudah tidak berdaya ini... hiks..'' isaknya sambil memeluk erat tubuh Mitha yang juga ikut berguncang karena menangis.
Annisa tersenyum, ia berbalik dan menuju ke kamarnya. Tama yang melihat itu pun mengikuti nya. Kedua orang tua itu menggelengkan kepalanya melihat tingkah Tama jika sudah bertemu dengan Annisa.
💕💕💕💕
Satu!
Sambilan nunggu cerita ini update, mampir dulu yuk ke karya temen othor yang satu ini.
__ADS_1
Noh, ceritanya seru loh.. cus kepoin!
Like , komen, lempar kembang juga buat Othor ye?