
Tit.
Tit.
Tit.
Bunyi alat pendeteksi jantung Tama. Saat ini Tama tidak sadarkan diri setelah tadi terjatuh saat ingin ke kamar mandi dan dirinya terus memanggil nama Annisa.
''Sayang .. Dek.. Annisa...'' suara Tama terdengar lagi melalui saluran pernapasan.
Mak Alisa yang melihatnya begitu sakit. Ia memegangi tangan Tama dengan erat. Mata paruh baya itu lagi dan lagi mengeluarkan air mata.
Begitu sakit melihat putra sulungnya itu terbaring tak berdaya dengan jarum infus menancap di tangan nya. Belum lagi, luka di kepala Tama, begitu kekacauan terlihat karena perban putih itu melingkari kepalanya yang terluka.
''Hiks.. bangun nak.. Mak disini bersama mu. Bangun, agar kita menyusul Annisa ke Medan. Bangun sayang.. sudah seminggu kamu tidak bangun. Bangun nak.. kamu tega biarkan Mak seperti ini? Mak sakit melihat mu seperti ini.. bangun sayang.. bangun.. hiks.. hiks.. kasihanilah wanita tua ini hiks.. bangun nak.. Mak janji. Mak akan membawa Annisa kepadamu. Tapi kamu bangun dulu. Apa kamu mau melihat Annisa di miliki oleh orang lain??''
Deg, deg, deg..
__ADS_1
Tangan Tama mengepal erat. Rahangnya mengetat. Genggaman tangan nya pun semakin kuat di tangan Mak Alisa. Paruh baya itu terkejut.
Ia menatap Tama yang masih terpejam, tapi tangannya terus mengepal erat. Mak Alisa meringis menahan sakit. Tapi ia senang, karena Tama sudah kembali sadar kembali.
''Bangun nak! Jika kamu tidak ingin Annisa dimilki oleh pria lain! Mak kenal Annisa, nak. Ayo bangun! Kamu harus bisa meluluhkan nya. Ia masih labil. Pahami dirinya. Kamu lebih dewasa darinya. Ayo bangun! Kita susul Annisa ke Medan sebelum semuanya terlambat! Sebelum Annisa akan menerima pemuda lain dan meninggalkan mu!''
Deg!
''Arrrgggghhttt...'' lirih Mak Alisa saat tangan nya di genggam begitu erat oleh Tama.
Klep, klep.
''Kamu sudah sadar sayang??''
Tama menoleh pada suara yang begitu ia kenal. ''Mak...'' lirihnya.
Mak Alisa tersenyum dan menangis. Tama pun ikut tersenyum walau begitu lirih. ''Maaf..'' lirihnya lagi dengan menatap tangan Mak Alisa yang ia genggam dengan erat.
__ADS_1
Mak Alisa menggeleng. ''Tak apa nak. Yang penting kamu bangun dan kembali lagi ke dunia ini. Mak sempat takut dengan kejadian seminggu yang lalu. Kamu terjatuh dan membentur ujung meja yang di semen itu. Kepala mu terluka dan kamu koma selama seminggu. Alhamdulillah.. kamu sadar nak.. usaha Mak selama seminggu ini tidak sia-sia untuk menyadarkan mu. Sebentar! Mak panggilkan dokter dulu. Mama dan Papabmu sedang istirahat dirumah nenek. Karena seminggu ini mereka lah yang menjagamu..'' lirih nya dengan menunduk.
Ia tersenyum getir Kala mengingat seseorang yang pulang karena penolakan nya. Demi mengikat kembali hubungan Tama dengan Annisa, ia rela melepaskan seseorang yang begitu ia cintai demi Tama dan Annisa.
''Mak?? Papi??''
Mak Alisa menoleh pada Tama dengan tersenyum sendu. ''Papi sudah pulang ke tempatnya. Mak disini. Selama kamu belum sembuh, Mak tidak akan pulang ke Medan. Mak merasa bersalah dengan hal ini. karena Mak pun ikut andil dalam hal ini. Maafkan Mak, nak.. Mak salah telah mendukung sandiwara Papi mu. Pria tua itu begitu ngebet ingin menguji cinta kalian berdua dengan cara seperti itu. Maafkan kami semua, nak..'' lirih Mak Alisa dengan menunduk di depan Tama.
Tama menggeleng pelan. ''Tak apa Mak. Nanti kita bicara sama Papi ya? Abang harus sembuh dulu agar bisa kuat menghadapi kemarahan adek sama Abang. Sssttt.. pusing Sekali..'' keluhnya dengan segera melepas tangan Mak Alisa dan memegang kedua tangannya.
''Tunggu dulu, Mak akan panggilkan Dokter!'' katanya sambil berlari membuka pintu dan memanggil dokter keruangan nya.
Tama Terkekeh di sela rasa sakitnya. Mak Alisa saking paniknya, ia jadi lupa. Bahwa diruangan Tama itu ada bel untuk menghubungi perawat. Tama Terkekeh.
Untuk sekarang ini, ia harus sembuh dulu dan menyehatkan tubuh nya. Agar ketika berhadapan dengan Annisa nanti, ia kuat dan sabar menghadapi kemarahan Annisa kepada nya.
💕💕💕💕
__ADS_1
Segini aja dulu ye? Besok kembali othor update rutin kayak biasa.
Ikutin terus kelanjutan kisahnya!