
Wanita itu terdiam. Tama berdecak sebal. ''Dasar wanita aneh!'' celutuk Tama membuat Annisa menggeleng
''Bukan Abang!'' sela Annisa
''Terus?'' tanya Tama lagi
''Dasar wanita tua aneh!'' ucap Annisa hingga menimbulkan gelak tawa dari Tama.
Buhahahaha...
Annisa pun terkikik geli sedang wanita itu masih saja terdiam.
Sedangkan diluar sana Tian terkejut melihat seorang gadis kecil yang sangat mirip dengan Kinara.
''Assalamu'alaikum Abang? Bang Tama sama kak Annisa ada?'' tanya Kinara pada Tian.
Tian tidak menyahut. Wajah itu begitu terkejut saat ini karena melihat wajah ayu Kinara yang begitu mirip Annisa. Istri Tama.
Anto yang baru saja datang dari showroom ingin bertemu Tama terkejut melihat Kinara datang sendiri.
''Nara? Sama siapa kamu Dek?'' tanya Anto pada Kinara yang kini sudah berdiri sejajar di sisi kirinya.
Kinara tersenyum, ''Assalamu'alaikum bang Anto.. salam dulu lah. Baru tanya gitu loh.. jangan kayak Abang ini. Nara ucapkan salam malah diam aja!'' ucap Kinara sedikit kesal.
Anto terkekeh, ''Waalaikum salam Adek manis.... adek sama siapa kesini? Diantar Papi apa Abang tadi?''
__ADS_1
Kinara tersenyum, sangat cantik. Tian terus menatapnya. ''Hehehe.. adek diantar sama Papi tadi. Pingin ketemu kakak. Sebentar lagi pun Syakir, Arta, dan Bella akan kesini kok. Mereka sedang di jalan saat ini diantar oleh Uwak Daman,'' jelas Kinara sambil melirik Tian yang terus menatap nya.
''Hoo.. ya sudah. Ayo kita masuk. Abang sama kakak kamu senang ada tamu di dalam. Dengar saja suara gelak tawa mereka itu?'' Anto sedikit terkekeh mendengar suara Bella Tama menggelegar diruangan nya.
Kinara bergegas masuk meninggalkan Tian yang tertegun karena gadis kecil berusia delapan tahun itu.
Anto menepuk pelan punggung Anto hingga membuat pemuda berusia dua puluh satu tahun itu terkejut bukan main. ''Eh? Apa bang??'' tanya nya pada Anto yang saat ini masih terkekeh Melihat nya.
''Jangan melamun. Ingat? Kinara bukan jodohmu!''
Deg!
Tian berdecak sebal. ''Yang kayak Abang tau aja siapa jodohku?!'' kesalnya sedikit sewot.
Anto tertawa. ''Abang tau siapa jodoh kamu Tian! Sebentar lagi akan akan datang kesini. Percayalah!'' katanya meyakinkan Tian.
''Astaghfirullah!!'' ucap Kinara begitu terkejut.
Tama dan Annisa menoleh ke pintu. Dan mereka berdua pun tersenyum melihat adik bungsu Annisa datang ke bengkelnya.
''Assalamu'alaikum Kakak!'' sapa Kinara pada Annisa dengan langkah ceria nya. Sesekali ia melirik makhluk yang ada di belakang wanita yang sedang menyala Tama itu.
Makhluk itu mental horor padanya. Tetapi Kinara tidak takut. Kinara balas dengan tatapan tak kalah sengit sembari mengacungkan tinjunya ke arah makhluk itu. Makhluk itu semakin melototkan matanya. Kinara menjulur kan lidahnya mengejek makhluk itu.
Kinara bisa melihat jika makhluk itu begitu marah padanya. ''Jangan mengganggu Kakak dan Abang ku! Pergi kamu dari sini sebelum aku menyentil ginjal mu!''
__ADS_1
Deg!
Deg!
Wanita itu terkejut. Kinara berdiri berkacak pinggang dihadapan nya. Tanpa takut sedikit pun.
Annisa dan Tama saling pandang. ''Waalaikum salam, sayang? Adek ngomong sama siapa?'' sahut Annisa sembari bertanya pada Kinara yang kini menatap horor pada wanita di depannya itu.
''Itu Kak. Ada Kakek-kakek dibelakang nenek ini. Dia ingin mengambil sesuatu dari Kakak, makanya ia datang kesini! Heh nenek peyot! Bilangin suami kamu tuh! JANGAN GANGGU KAKAK KU JIKA TIDAK INGIN AKU...'' Kinara melangkah mendekati Siska yang sedang terkejut karena ucapan nya.
Ia mendekati wanita itu dan meraba perut wanita itu hingga membuat tubuhnya bergetar. Wanita itu melotot pada Kinara.
''Heh! Aku tak takut padamu! SEKALI LAGI AKI TEKANKAN! JANGAN MENGGANGGU KAKAK DAN ABANGKU JIKA TIDAK INGIN GINJALMU KU SENTIL!'' tekannya sambil mencubit sisi kiri wanita itu.
''Aaaarrrgghhtt .. sialaaaaannn!! lepaskan!!! pekiknya begitu kuat.
Kinara meringis mendengar suara Siska yang sebenarnya bukan suara Siska. Melainkan suara makhluk yang menempel di tubuh Siska saat ini.
Makhluk itu terus saja memekik kesakitan. Tubuhnya membeku seketika saat jari kecil Kinara mencubit pinggang bagian kirinya. Kinara tersenyum mengejek pada makhluk itu.
''Pergi dari sini! sebelum aku mengeluarkanmu dari tubuh nenek peyot ini!''
Deg!
Annisa dan Tama terkejut. ''Apa maksudmu Dek?'' tanya Tama pada Kinara sambil mendekatinya.
__ADS_1
''Berhenti Abang! Jangan kesini! Bahaya! Nenek peyot ini menginginkan sesuatu yang ada pada Abang dan Kakak! Menjauh! Sebelum semuanya terlambat!'' seru Kinara masih dengan memegangi pinggang wanita itu.
Tama mundur perlahan, ia memeluk Annisa dengan erat.