
Tama terkekeh namun sangat menakutkan. Ia menatap dingin lagi pada Azura yang saat ini juga sedang menatapnya.
''Aku tidak pernah menyukai mu Azura! Dan juga aku tidak pernah mencintai mu! Yang aku cintai sedari dulu adalah Annisa!! Bukan kamu AZURA!''
Deg!
Deg!
Azura sudah tau jika ini adalah jawaban Tama. Tapi entah kenapa, begitu sakit terasa saat Tama sendiri yang mengatakan nya. Ia terpaksa menulikan telinganya dan menebalkan muka nya agar tetap bisa meluluhkan Tama.
''Nggak! Kamu bohong! Sedari dulu kamu itu menyukai ku! Bukan adik angkat mu itu! Aku nggak kan percaya! Aku lebih percaya dengan ucapan mu yang dulu! Apa artinya segala ucapan manismu dulu! Apa artinya perhatian mu itu?! Apakah semua yang telah kamu lakukan padaku dulu merupakan palsu belaka?! huh?!'' seru Azura dengan suara meninggi.
Air matanya berlinang membasahi pipi. Ia sudah tau apa jawaban Tama. Tapi tetap ingin mendengar nya untuk yang kesekian kalinya setelah enam tahun berlalu.
Tama terkekeh, namun begitu sinis. Ia menatap Azura dengan tajam. ''Aku tidak pernah mengatakan jika aku menyukaimu Azura! Tapi kamulah yang selalu mengejarku! Aku tidak pernah memberikan perhatian kepadamu! Tapi kamu salah sangka padaku! Aku tidak pernah dan tidak ingin menjalin hubungan dengan mu, karena aku sudah mencintai gadis lain jauh sebelum aku bertemu dengan mu! Aku berteman baik dengan semua orang. Memberikan perhatian selayaknya teman! Tidak lebih!''
__ADS_1
''Jika kamu beranggapan lain, itu urusanmu! Yang jelas, AKU TIDAK MENGINGINKAN MU AZURA! DAN AKU JUGA TIDAK PERNAH MENGATAKAN JIKA AKU MENCINTAI MU KEPADA SIAPAPUN! KAMU LAH YANG SELALU MENGATAKAN NYA KEPADA SEMUA ORANG, KAMU MENGKLAIM JIKA AKU MILIKMU! Maaf Azura! Aku tidak menginginkan mu sedikit pun! Baik itu sekarang, ataupun nanti! Yang aku ingin kan hanya ANNISA ISTRIKU! BUKAN YANG LAIN! DAN AKAN KU PASTIKAN, AKU TIDAK AKAN MEMILIKI ISTRI YANG LAIN SELAIN ANNISA ISTRI KECILKU! Kamu paham?!'' ucap Tama dengan suara rendahnya.
Namun penuh penekanan di setiap ucapan nya itu. Membuat Azura membatu di tempat. Ia menatap nanar pada Tama yang telah berlalu pergi karena melihat Annisa yang sedang berdiri bersama Mama Linda menatap nya.
Ia merasakan sakit yang tiada Tara. Sakit dan jatuh dalam lubang yang sama. Kejadian yang sama ia dapatkan dari Tama sama persis seperti dulu.
Azura menatap nanar keluarga bahagia itu. Ia mengepalkan kedua tangannya. ''Akan ku pastikan jika kamu dan dia akan berpisah nantinya. Sakit di hatiku tidak sebanding dengan rasa malu ku ini. Aku akan menuntut balas pada kalian berdua. Lihat saja!'' ucapnya sambil menyeka air mata yang terus bercucuran menimpa pipinya.
Sementara Tama, ia menatap Annisa dengan dalam dan tersenyum lembut pada istri kecilnya itu. Sudah berulang kali Tama mengingat kan Azura. Tapi tetap saja wanita itu begitu ngotot.
''Udah selesai?'' tanya Mama Linda
Tama mengangguk dan tersenyum lembut menatap Annisa. Sedang yang di tatap berwajah datar. Tama tau, jika Annisa tidak nyaman dengan kedekatan nya dan Azura.
Tapi bukan keinginan nya untuk bisa bertemu lagi dengan mantan pelarian nya itu. Tama mengakui nya jika ia bersalah pada Azura. Ia terpaksa mengambil jalan pintas dulunya agar bisa melupakan Annisa.
__ADS_1
Tapi sayangnya tidak bisa. Malah Annisa semakin dalam masuk ke dalam hatinya. Ia baru menyadari saat Annisa dan dirinya jatuh ke jurang bersama-sama.
Di saat itulah ia menyadari jika Nama Annisa sudah lebih dulu bertahta dihatinya. Sedari ia lahir bahkan sampai saat ini. Annisa lah yang selalu menjadi prioritas nya.
''Jangan marah.. Abang sudah selesai dengan nya. Kamu jangan berpikir yang macam-macam, hem? itu semua cuma Masa lalu Abang. Semua itu terjadi karena Abang mencoba untuk melupakan mu. Tapi sayangnya tidak bisa. Malah nama kamu itu sudah terukir dihati Abang, saat pertama kali Abang memberikan nama untukmu. Sayangku. Lihat Abang!'' titah Tama pada Annisa.
Annisa menurut. Mata itu berkaca-kaca. Tama tersenyum, ia mendekati wajah Annisa dan mengecup keningnya begitu dalam. Annisa memejamkan matanya saat merasakan kasih sayang Tama untuknya.
''Abang tidak pernah berubah dari dulu hingga sekarang. Kamulah prioritas Abang. Maaf, jika sering kali kamu merasa tidak nyaman akan akan pertemuan Abang dengan gadis lain. Abang hanya menginginkan mu. Bukan yang lain. Kamu segala nya buat Abang. Hidup dan mati ku bersamamu. Abang rela memberikan nyawa Abang untukmu agar kamu bahagia jika itu yang kamu ingin kan!'' ucap Tama begitu menyentuh relung hati terdalam Annisa.
Mama Linda mengusap sudut matanya saat mendengar penuturan putra nya yang langsung keluar dari hati. Begitu tulus.
Annisa menunduk. Tubuhnya berguncang. Tama tau itu. Dengan segera ia membawa Annisa ke dalam dekapan hangat nya. Annisa menangis tersedu disana.
''Aku juga menginginkan Abang. Bukan yang lain. Seumur hidupku Abang lah pria satu-satunya setelah Papi Gilang dan ayah Emil. Kamu segalanya. Satu untuk selamanya..'' bisik hati Annisa.
__ADS_1