Annisa Istri Kecilku

Annisa Istri Kecilku
Takdir nya


__ADS_3

''Satu yang tidak bisa kita hindari dan kita tolak ialah kematian!''


Dddduuuuaaaaarrrrrrrrr...


Hingga membuat tubuh Bunda Zizi yang berada di dalam pelukan nya kini semakin berguncang saja.


''Benar Zi. Takdir tidak ada yang tau. Kita pun tidak bisa menolaknya. Jika waktu yang sudah di tentukan datang kepada kita. Langkah, rezeki, pertemuan dan maut tidak ada yang tau. Cuma Allah yang tau segalanya tentang hidup ini. Karena Allah lah pemilik alam semesta ini. Sudah.. ayo, siapkan kamar untuk pengantin baru itu. Mereka masih baru loh..'' ucap Papi Gilang membuat Mak Alisa tertawa. Bu dari Zizi pun ikut tertawa.


Sementara ayah Emil saat ini sedang memeluk tubuh halus Annisa yang begitu ia rindukan. Rasa bersalah nya kepada putri bungsunya dengan Mak Alisa ini begitu besar sekarang.


Walau Annisa tau ia dulu tidak di inginkan oleh ayah Emil, tetapi Annisa tetap menyayangi nya. Ia tetap teks kerumah sang ayah.


Padahal hati ini masih hari pertama nya setelah ia bersatu dengan Tama. Ayah Emil tau itu. Ia pun pernah merasakan nya. Kedua istrinya merupakan perawan saat ia nikahi.


Ayah Emil memeluk erat tubuh Annisa yang sedikit hangat menurutnya. Ayah Emil tau, Annisa pasti kurang tidur karena kelelahan. Ayah Emil terkekeh walau air mata bercucuran.


''Hem.. kangen sama ayah?'' ucap Annisa dengan suara yang tiba-tiba saja serak.


Ayah Emil tersenyum, ia mengelus lembut tubuh belakang Annisa hingga membuat tubuh ringkih itu bergetar lagi. Keduanya berpelukan tetapi sbil menangis.


Tiada yang berani melerai keduanya orang itu. Termasuk Syakir. Pemuda kecil berusia lima belas tahun itu pun ikut terisak. Tama merengkuhnya.


Semua yang ada disana ikut terisak melihat ayah dan anak itu. Padahal baru kemarin mereka bertemu. Tetapi ayah Emil tidak mau tau, ia tetap harus bertemu dengan Annisa.


Entah apa yang ada di dalam pikirannya saat itu yang penting ia ingin menghabiskan waktu dengan Annisa. Putri sulungnya yang tidak ia anggap dan diakui oleh nenek Rima.


''Sudah, Kakak mandi dulu. Nanti keburu habis Maghrib nya. Ayo, ayah akan tunjukkan kamar kalian berdua,'' katanya pada Annisa.

__ADS_1


Annisa cemberut. Ayah Emil terkekeh. ''Ksmu boleh kok tidur sama ayah, tetapi Tama kan harus punya kamar sendiri? Kalian baru saja resmi loh..'' goda ayah Emil pada Tama dan Annisa.


Annisa melengos. Tama tersenyum saja. Ayah Emil tertawa. ''Rumah ini udah kami renovasi menjadi dua lantai. Di atas ada tiga kamar dan juga musholla. Dan dibawah ada tiga kamar juga. Satu kamar ayah dan bunda mu. Yang di sudut sana kamar Kakakmu, Ira. Dan yang disini kamar kamu dan Tama. Ayah sudah menyiapkan segala nya. Masuklah dulu. Setelah selesai kita makan malam bersama, hem?'' ujar ayah Emil sembari mengusap lembut pipi Annisa yang semakin banyak mengeluarkan air matanya.


''Ayah..'' panggil Annisa dengsn suara seraknya.


Ayah Emil tersenyum, ''Mandilah. Setelah itu istirahat. Ayah ingin ngobrol bersama kamu makan ini sebelum ayah pergi.''


Deg!


Deg!


''Pergi? Pergi kemana?'' tanya Annisa kebingungan. Tama menatap serius ayah Emil.


Ayah Emil tersenyum lagi. ''Takdir tidak ada yang tau Nak .. ayah cuma mengatakan nya saja. Sudah, jangan khawatir. Nanti waktu Maghrib habis. Ayo, kamu juga Bang? Ayah keluar ya?''


Tama terus saja melihat ayah Emil hingga pintu itu tertutup rapat. Annisa mendekati Tama dan duduk dipangkuan nya. Ia menangis.


Tama hanya bisa mengelus tubuhnya saat ini. Ia pun merasakan kekhawatiran dihatinya tentang ayah Emil. Firasatnya mengatakan jika apa yang ia rasakan ini pasti akan terjadi. Cepat ataupun lambat.


Annisa terus terisak. Ia memeluk erat tubuh Tama dengan duduk menghadap Tama. Ia menangis tersedu di ceruk leher Tama.


Begitu pun dengan ayah Emil. Pria paruh baya itu pun ikut menangis mendengar isakan Annisa. Syakir mendekatinya dan memeluk ayah Emil.


''Sudah.. ayah nggak boleh nangis.. ayo. Atau duduk dulu. Kan kakak udah datang??'' ucap Syakir menenangkan ayah Emil.


Pria paruh baya itu tersenyum walau air mata bercucuran. ''Ya, ayah tidak akan menangis lagi. Bantulah kakak dan Bunda mu untuk mengangkat makan malam kita. Kamu udah sholat belum?''

__ADS_1


Syakir mengangguk, ''Baru saja Yah. Mak menyuruh Abang untuk menemani ayah. Kakak sedang menyuapi makan si kembar bersama bang Raga. Ayo, kita duduk disana. Ada yang ingin Abang tunjukkan sama ayah.'' Katanya pada ayah Emil.


Ayah Emil menurut. Mereka berdua pun duduk diruang tivi yang kini semakin luas setelah di renovasi.


Syakir mengambil ponselnya dan menunjukkan berapa digit penghasilan nya selama menulis di platform online yang sangat terkenal saat ini.


''Ayah lihat. Ini penghasilan Abang selama enam bulan ini. Kakak tidak mengizinkan Abang untuk menariknya. Sampai saat ini masih di akun. Kalau ayah ingin, Abang bisa menariknya.'' Ucap Syakir sambil menunjukkan ponselnya pada ayah Emil.


Pria paruh baya itu terkejut. ''Sebanyak ini? Selama enam bulan ini?'' matanya membola sempurna ketika melihat nominal angka hingga mencapai puluhan itu.


Syakir tertawa. ''Ya, semua ini kerja keras Abang. Ayah ingat kalau kakak memberikan ponsel ini sama Abang?'' Ayah Emil mengangguk.


Syakir tersenyum, ''Kakak lah yang mengajarkan Abang untuk menulis disana. Jajak sering bilang, kalau ingin berhasil di masa depan mulailah dari sekarang. Jangan nanti-nanti. Apa gunanya bakat kalau tidak di keluarkan? Kakak sangat baik Yah. Abang beruntung memiliki saudara sepertinya. Bahkan sangat beruntung!'' ucap Syakir hingga membuat Ayah Emil tertegun.


''Ya, ayah pun sangat beruntung memiliki putri sepertinya. Padahal dulu ayah tidak berbuat baik padanya. Tetapi lihat kini. Ia bahkan mengajarkan sesuatu yang sangat berguna dimasa depan untukmu. Ingat nak. Turuti apa kata kakak-kakak mu dan juga Abang mu. Kamu mengatakan putra sulung dari Mak Zizi. Tetapi ada bang Lana yang menjadi putra sulung ayah yang akan melindungi kalian berempat jika kelak ayah pergi dari dunia ini.''


Deg!


Deg!


Jantung Syakir berdegup tidak karuan saat mendengar ucapan ayah Emil. ''A-apa yang ayah katakan?! Ayah mau kemana?! Mau ninggalin kiat semua?! Kenapa?!'' tanya Syakir dengan dada yang begitu sesak.


Ayah Emil tersenyum dan mengusap lembut surai hitam Sykir yang kini semakin lebat saja. ''Ayah akan pergi nak. Sekuat apapun kamu menhan ayah untuk tidak pergi, kamu tidak akan bisa. Pesan ayah, jaga dan sayangi kedua adikmu. Masukkan mereka ke pesantren setelah tamat SD nanti. Kamu pun begitu. Jangan pikirkan biaya. Ayah sama Mak sudah menyiapkan untukmu.. tetapi untuk saudara mu yang lainnya ayah tidak bisa..'' lirih ayah Emil dengan menunduk.


Syakir terus menyala yah Emil. ''Baik, jika itu yang menjadi keinginan Ayah. Abang akan selalu mengingat nya. Abang akan bekerja keras lagi untuk bisa mewujudkan keinginan Ayah ini!'' tegas Syakir hingga membuat ayah Emil memeluknya dengan erat.


💕

__ADS_1


Kalau ada typo nanti othor revisi!


__ADS_2