
Setelah makan dan Annisa membereskan semua makanan yang dibawa oleh Mama Linda, kini Annisa sedang berdiri di depan pintu mobil bersama Tama.
Mama Linda sedang berbicara dengan ustdazah Hanim untuk minta izin karena Annisa terlalu lama beranda mereka. Tama terus saja menatap istri kecilnya itu yang semakin cantik saja di matanya.
Annisa menunduk malu. ''Abang kenapa liatin adek kayak gitu? Ada yang aneh ya sama Adek??''
Tama terkekeh. ''Nggak... hanya saja Abang kangen sama putik merah jambu milikmu ini. Boleh?'' tanya Tama sembari memegang dagu lancip milik Annisa.
Annisa menunduk malu. Wajahnya merona. Setelah sekian lama baru sekarang bisa berdekatan lagi dengan Tama. ''Tapi.. ada ustdazah Hanim loh.. adek malu..'' cicit Annisa dengan cepat menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Tama tertawa. ''Nggak akan sayang. Boleh ya? Setelah ini Abang akan sibuk sekali. Akan jarang untuk menemui mu. Palingan dua Minggu sekali? Boleh ya? Please hunny..'' pinta Tama dengan sangat
Wajah tampannya semakin mendekat ke wajah sang istri. Annisa tidak sadar. Hembusan nafas Tama terasa ke wajah Annisa. Annisa mendongak dan..
Cup.
Tama mengecup putik merah jambu miliknya. Ia melumaat, memaguut dan mengecapnya. Semakin lama semakin menuntut. Ingin sekali ia membawa Annisa masuk ke dalam mobilnya.
Tapi di ujung sana ada Ustdazah Hanim yang sedang mengawasi mereka berdua. Annisa hanyut dalam buaian sang pujaan hati. Hingga tanpa sadar, tubuh itu sudah duduk di pangkuan Tama.
Mama Linda tau, jika Tama membutuhkan waktu untuk menyalurkan kasih sayangnya pada Annisa. Makanya ia sengaja menemui ustdzah Hanim untuk berbicara walau hanya lima belas menit saja.
''Eugh..'' lenguh Annisa.
Tama semakin kuat menghisap putik merah jambu yang terasa manis ketika ia cecap. Dirasa cukup, Tama melepaskan nya. Tama menyatukan kening mereka berdua.
''Huffft.. Abang kangen banget sama kamu sayang. Kangen banget! Kapan sih kita berdua bisa bersatu??''
Annisa tersenyum, ''Sabar.. setelah ini kita akan bersatu untuk selamanya. Enam bulan setelah ini kita jalan-jalan lagi ya? Menggantikan liburan kita yang batal dua Minggu yang lalu. Kita berdua aja. Nggak usah bawa keluarga. Bisa kacau nanti!'' kata Annisa pada Tama.
Tama terkekeh. Tentu sayang. Hemmm.. males banget Abang pulang. Maunya sama kamu aja. Cup,'' lagi Tama mengecup putik merah jambu yang semakin membuatnya candu itu.
''Ehem..''
Deg!
__ADS_1
Tama dan Annisa melepaskan pagutan nya. Mereka berdua menunduk malu. Karena Mama Linda sudah ada didalam dan sedang bersikap dada melihat mereka berdua yang sedang bercumbu mesra.
''Udah selesai?? Atau masih mau lanjut?? Awas! Ntar Mama cepat punya cucu!'' celutuk Mama Linda kepada pasangan beda usia itu.
Annisa segera turun dari pangkuan Tama dan membuka pintu mobilnya. Ia turun dengan terburu-buru. Ia mengambil masker yang tersampir di leher Tama.
''Adek pakai punya Abang ya? Malu.'' Cicitnya lagi
Tama terkekeh. ''Tapi itu bau sayang!''
''Nggak bau kok. Adek suka bau nafas Abang! Udah, adek balik dulu ke pesantren ya?''
''Ya sudah, ini untuk bekalmu. Ingin beli apapun yang kamu butuhkan. Abang akan sering kesini. Tapi ya seperti tadi. Seminggu cuma dua kali dan itu pun hari Minggu. Agar bisa bawa kamu jalan-jalan.''
Annisa terkekeh. ''Oke. Tidak masalah. Nggak datang pun tak apa. Yang penting, uangnya jajan aku lancar jaya!'' celutuknya sambil cengengesan.
Tama dan Mama Linda tertawa. ''Pergilah.''
''Tentu. Tanpa di usir pun, adek akan pergi kok. Mama. Kakak masuk dulu ya? Assalamualaikum..''
Annisa melotot. Tama tertawa. Mama Linda terkekeh kecil. Setelahnya, ia berlari menuju Ustdazah Hanim yang hanya menggeleng kan kepalanya melihat tingkah Annisa.
Annisa menangkupkan tangan di dada. Pertanda mohon maaf. Setelahnya Annisa benar-benar menghilang dari pandangan Tama dan Mama Linda.
''Ayo?''
Tama menghela nafasnya. ''Iya, Ma.. kita pulang..'' sahut Tama begitu lesu.
Mama Linda terkekeh lagi. ''Udah ih! Sabar dulu. Masih panjang waktu kamu untuk bisa mendapatkan nya.'' Kata Mama Linda masih dengan tertawa melihat wajah Tama merengut kesal.
''Ck! Kangen Mama! Kangen! Masih kangen Abang sama adek! Ishhh..''
Mama Linda tertawa. Ia memutar mobilnya dan keluar dari pesantren dan menuju rumah mereka.
''Kami harus sabar menghadapi Annisa. Ia masih sangat muda. Mama harap, kamu bisa mengimbanginya. Jangan dalam hal itu aja. Tapi dalam hal yang lainnya! Annisa itu masih labil! Ingat itu!''
__ADS_1
Tama berdecak lagi. ''Iya, iya Mama. Gimana nggak ngebet coba? Tiap kali bersentuhan dengannya hawa tubuhku menjadi panas Mama. Hadeuuhh.. Abang udah tua loh.. udah cukup dewasa. Dan kebutuhan itu adalah hal mutlak untuk Abang. Abang pria dewasa Mama! Paham nggak sih?'' sungut Tama kesal kepada Mama Linda.
Mama Linda tertawa. ''Kamu itu sama persis seperti Papa mu! Ujung-ujungnya kesitu! Ishh.. ayah sama anak sama saja!'' ketus Mama Linda pura-pura jutek.
Tama terkekeh. ''Hemm.. soah setelah ini Annisa akan kuat bertahan dalam ujian rumah tangga kami. Abang nggak yakin, jika setelah ini bakalan nggak ada masalah lagi. Kita hidup iniemnah penuh dmwhn masalah. Kuncinya ya.. gimana cara menyikapinya. Sebenarnya Annisa bisa kuat bersama Abang, jika kami sudah bersatu. Namun, hal itu belum bisa terjadi. Mama kan tau, penguat hubungan suami istri itu ya itu. Hubungan biologis. Annisa belum tau hal itu. Maka sedikit demi sedikit Abang ajarkan.''
''Dan ternyata Abang salah. Annisa lebih pintar dari yang Abang duga. Jika saja tidak mengingat dirinya ayang masih sekolah, pastilah saat ini Mama sudah memilki cucu!''
Mama Linda tertawa. ''Jangan terburu-buru! Lihat dulu kondisinya. Memungkin tidak untuk bisa kamu gauli. Annisa itu berbeda dengan gadis yang lain. Sebelum ia memberitakan mahkota nya pastilah ia memikirkan sesuatu yang baik dan buruk untuknya dimasa depan.''
''Abang tau Ma.. Abang akan bersabar untuk bisa meluluhkan hati ya lagi. Untuk saat ini masih bisa. Entah besok dan selanjutnya. Abang pun tak tau. Tapi Abang tetap akan berusaha agar bisa meluluhkan hatinya kembali seperti dulu. Abang nggak mau kehilangan nya. Abang sudah sangat bergantung padanya. Jika sampai itu terjadi, maka Abang akan tiada Ma!''
Deg!
''Apa yang kamu katakan sayang? Nggak boleh ngomong gitu! Masih ada Mama dan Papa yang akan selalu bersama mu. Kita akan bersama-sama untuk membawa Annisa kembali jika sampai Annisa pergi dari kamu. Mama yang akan lebih dulu menyusulnya dan mengajak nya pulang. Kamu tenang saja, hem?'' kata Mama Linda menenangkan hati Tama.
''Ya, semoga hari itu tidak pernah terjadi pada hidup Abang..''
''Amiin.. semoga saja. Doa Mama selalu menyertai mu, Nak.''
''Terimakasih Mama..''
''Sama-sama Nak.. apapun untuk putra Mama. Akan Mama lakukan. Asalkan itu baik, pasti akan Mama lakukan. Berjuang dan bertahanlah demi kamu orang tuamu. Mama tau, kamu pria yang kuat.'' kata Mama Linda pada Tama.
Tama mengangguk dan tersenyum. Pasrah pada takdir. Inilah yang saat ini Tama lakukan. Demi Annisa , istri kecilnya.
💕💕💕💕
Hemm.. semoga saja ye?
Sambilan nunggu adek Annisa dan bang Tama update, mampir dulu yuk di cerita temen othor yang satu rekomendasi cerita yang sangat bagus untuk kamu baca. Cus kepoin!
Like dan komen kalian selalu othor tunggu! 😘😘
__ADS_1