
Hari ini Tama dan Annisa akan berjalan-jalan ke taman kota seperti permintaan Annisa dua hari yang lalu. Besok, Annisa akan kembali ke sekolahnya. Dan sore ini Annisa harus balik lagi ke pesantren. Karena masa liburan telah usai.
Sebelum kembali ke pesantren Annisa meminta Tama untuk membawanya jalan-jalan ke taman kota. Dan kebetulan hari itu hari Minggu. Pastilah taman sangat ramai saat ini.
''Ayo, adek udah nggak sabar ingin ke taman! Hari ini hari terakhir adek bersama Abang. Nanti jam tiga Abang udah harus antar adek lagi kan ke pesantren??'' lirih Annisa mendadak sendu.
Ia duduk di sofa dengan wajah menunduk. Tama yang masih bersiap pun tersenyum. Setelah selesai memasang gesper nya di pinggang, Tama mendekati Annisa.
Cup.
Tama mengecup kening Annisa membuat gadis ayu itu menengadah dan tersenyum pada Tama walau terbalut sendu. Tama tau itu.
''Kita berpisah cuma enam bulan sayang. Ada waktu libur kamu selama satu bulan sebelum kamu berangkat ke Bandung.. sebenarnya.. Abang berat buat ngelepas kamu untuk kesana. Tapi Abang harus tetap mengikuti mau kamu bukan? Tak apa. Abang ikhlas. Asalkan kamu bahagia Abang ikhlas sayang. Ya.. walaupun Abang harus bolak balik Bandung nantinya!'' seloroh Tama
Membuat Annisa terkekeh. Tama tersenyum. Ia berhasil membuat pujaan hatinya senang kembali. ''Maaf.. kalau kepergian adek membuat Abang kecewa.. tapi ini harus Abang. Paling tidak adek bisa menggunakan ilmu untuk menolong Abang nantinya di bengkel?''
Tama tertawa. ''Berarti kita berubah posisi dong?''
__ADS_1
''Iyalah. Abang jadi bawahan. Dan adek jadi CEO nya! Hahaha...'' Annisa tertawa terbahak setelah mengatakan hal itu.
Tama pun ikut tertawa. ''Ya sudah. Ayo. Tas kamu udah semua kan ya? Setelah ini kita nggak pulang lagi. Tapi langsung aja ke pesantren kamu. Jam dua Abang antar kamu. Jam empat udah tiba disana. Ayo!''
Annisa mengangguk. Mereka berdua keluar bersama dengan saling merangkul. Keduanya berjalan dengan merangkul pinggang masing-masing. Tama sangat menyukai itu.
Tapi apalah daya kalau seperti ini kejadian nya. Tama pasrah. Karena ia pun tau inilah istri kecilnya yang masih sekolah. Walaupun begitu, ia tetap bersyukur bisa mendapatkan dan menikahi Annisa.
Padahal dulunya ia sangat tidak ingin menikah dengan Annisa. Tapi karena ia mengingat selama ini perjalanan cintanya bersama gadis lain selalu tidak mulus dan selalu di bayangi Annisa, makanya ia memutuskan untuk menerima Annisa menjadi istrinya.
Walau sempat membuat Annisa kecewa dua kali. Tetap saja Tama menginginkan Annisa. Jauh di hatinya yang paling dalam, nama Annisa lah yang terukir disana. Bukan gadis lain. Gadis lain hanya pelarian untuknya. Tama sudah menyadari itu sedari dulu tapi ia tetap mencoba mencari gadis lain yang bisa mengganti kan posisi Annisa dihatinya.
Tapi semua itu terpatahkan kala pernikahan nya dan Selena batal. Semua itu memang sudah kehendak Allah. Annisa merupakan takdir hidupnya. Annisa memang di ciptakan untuk dirinya. Baru Tama sadari kala Annisa pergi menjauh dari dirinya karena kesalahan nya tepat pada hari pernikahannya dengan Anisa yang menggantikan Selena.
Mereka berdua menuju ke taman. Cukup satu jam dua puluh lima menit dari tempat Tama. Kini mereka sudah tiba di taman itu.
Annisa bersorak kegirangan ketika melihat di sudut taman banyak pedagang di pinggir taman tetapi terletak diluar pagar. Annisa berlari kesana-kemari setelah melihat Tama selesai memarkir kan mobilnya.
__ADS_1
''Hihihi.. kembang gula euuyy!!'' celutuk Annisa sambil berlari.
Tama terkekeh. Ia tetap mengikuti Annisa di belakang. Sedang Annisa sudah lari ngacir duluan. Annisa membeli kembang gula itu satu. Setelahnya mencari kursi panjang untuk bisa mereka duduki.
Tama menatap lurus ke depan dimana ada anak-anak sedang berlarian di sekitar taman yang banyak pohon rindang disana.
Annisa pun demikian, mata itu menatap lurus ke depan. Mulut mengunyah, tapi hati dan pikiran meraba-raba entah kemana. Annisa melamun kan keadaan Tama yang akan ia tinggal selama enam bulan dan tidak boleh bertemu sampai ujian akhir selesai.
Hal itu sudah dibicarakan sedari pengambilan rapot dua Minggu yang lalu. Tama melirik Annisa yang kini sedang menatap lurus ke depan.
Tak ada yang mereka bicarakan. Mereka berdua memilih diam dan menyelami rasa di hati masing-masing. Dirasa cukup. Annisa mendekat kan diri pada Tama dan merebahkan kepalanya di bahu Tama.
Tama memeluk erat tubuh Annisa. Ada seseorang yang sedang menatap geram kepada mereka berdua.
Tapi dua sejoli itu tidak sadar. Mereka berdua tidak berbicara sepatah katapun. Mereka berdua hanya saling duduk dengan saling berpelukan.
Tama semakin memeluk erat tubuh Annisa di pelukan nya. Dua hati merasa enggan untuk saling melepaskan karena mereka saling membutuhkan.
__ADS_1
Annisa memejamkan kedua matanya saat merasakan kecupan singkat di keningnya. ''Abang akan sangat merindukan mu sayang. Tapi Abang harus tetap bersabar
Karena inilah jalan takdir kita. Abang ikhlas dan pasrah. Kamu jaga diri baik-baik. Selama enam bulan, Abang tidak bisa menemui mu. Kamu harus fokus pada pelajaran mu. Dan Abang pun akan fokus di bengkel. Rasanya Abang tidak sanggup. Tapi inilah yang harus terjadi. Abang menyayangimu sayang. Sangat menyayangi mu..'' lirih Tama dengan kepala Annisa berada di bawah dagu nya.