
Keesokan paginya.
Sedari subuh Annisa sudah bergulat di dapur. Ia sibuk memasak untuk sarapan pagi ini. Tama yang sudah selesai berolahraga pun masuk ke dapur dan mengejutkan bannsia yang sedang memasak nasi goreng seafood kesukaannya.
Entah kenapa akhir-akhir ini Annisa sangat menyukai nasi goreng seafood. Begitu pun dengan Tama. Minumannya pun jadi sama kayak Annisa. Jus pokad.
Mendengar namanya saja Annisa sangat ingin menghabiskan minuman itu sendiri. Baru namanya loh ya?
''Sudah siap?''
''Astaghfirullah! Abang ih!'' pekik Annisa karena terkejut..
Tama terkekeh. Saat ini ia sedang memeluk erat tubuh Annisa yang terbuka dari belakang. ''Hem.. harumnya.. mau sekarang boleh?'' tanya Tama pada Annisa.
Dengan jahilnya Tama mengecup-ngecuo lembut tengkuk leher Annisa yang terbuka karena rambut panjang nya ia Cepol keatas.
Annisa kegelian. ''Belum masak Abang. Bentar lagi ini. Sebentar ya! Masih basah ini nasinya!''
Tama mengurai pelukannya. ''Bukan itu maksudnya Abang sayang!''
Annisa berbalik dan melihat Tama. ''Terus? Abang mau apa?'' tanya nya dengan wajah polos.
Tama gemas melihat nya. Ia mengecup putik ranum itu membuat Annisa melototkan matanya.
__ADS_1
Dirasa cukup Tama melepaskan nya. Annisa mendelik. Tama terkekeh lagi. ''Abang mau itu. Boleh kan ya?'' tanya Tama masih dengan menatap dalam pada Annisa.
Annisa mengangguk, ''Boleh, boleh, boleh. Tapi siapkan dulu masajdn ini. Kalau adek udah siap masak, kan kita bisa bebas kapan saja makan nya?''
Tama tertawa. ''Ini udah masak kok.'' Tanpa menunggu lama lagi, utama segera memaguut putik ranum yang selalu candu menjadi baginya itu.
Annisa memutar kenop kompor dan segera mengikuti permainan Tama. Pagi itu diruang tivi ruang mereka sudah sarapan yang hangat-hangat. Dan kebetulan sekali pagi ini sedang hujan.
Apalagi yang Tama tunggu. Karena itulah yang ia inginkan. Mereka berbagi keringat dan peluh bersama.
Hujan diluar terus turun dengan lebatnya. Ingin ke showroom pun Tama menjadi malas. Ia ingin menghabiskan waktunya dengan Annisa dirumah.
Ia ingin mencetak penerusnya sebanyak mungkin. Itu yang ia inginkan. Hujan mengguyur bumi satu harian. Seluruh pekerjaan tertunda karena diluar hujan turun begitu deras.
Sementara pasangan baru itu terus saja bergulat dengan peluh untuk saling berlomba mendapatkan kenikmatan bersama. Mereguk manisnya madu pernikahan.
Mereka berdua berhenti disaat perut sudah terasa lapar. Apalagi Annisa. Ia begitu semangat dan begitu membuat Tama ketagihan.
Ck. Dasar Tama. Tiada hari tanpa penyatuan.
*
*
__ADS_1
*
Dua Minggu sudah berlalu.
Kini kedua pasangan itu sedang di showroom karena ada satu pelanggan yang ingin bertemu langsung dengan Tama dan Annisa.
Entah apa maksud dan tujuannya, Tama pun tidak tau. Tetapi karena ia sangat menginginkan pertemuan ini, maka Tama pun memenuhi permintaan orang itu.
Annisa sedang berbicara bernama Tian saat seseorang itu masuk langsung menuju ruangan Tama tanpa memperdulikan Anisa disana.
Ia pikir Annisa itu bukan siapa-siapa disana. Annisa melirik sekilas gadis berpakaian modis itu. Tian mengangguk. Annisa pun ikut masuk.
Tiba di depan pintu masuk betapa kagetnya Annisa saat melihat Tama sedang memegang tubuh wanita itu yang hampir terjatuh tetapi posenya itu loh.. membuat orang salah paham.
Terlihat dari jauh jikalau wanita itu sedang mencium Tama. Padahal tidak. Tama sedang menahan tubuh wanita itu agar tidak jatuh menimpa dirinya.
Saat ini Tama sudah duduk di sofa. Tanpa tau malu gadis itu pun duduk dipangkuan Tama membuat Tama mendorong gadis itu hingga terhuyung ke belakang.
''Hentikan Siska! Jika tujuan mu datang kesini hanya untuk berbuat tidak senonoh seperti ini lebih baik kamu keluar!'' tegas Tama membuat gadis itu tersenyum kecut menatap Tama.
Ia berjalan mendekati Tama dan duduk disampingnya Tama. Wajah Tama memerah. ''Santai Adrian.. kita ini baru ketemu loh.. masa' iya kamu udah nolak aku aja? Udah lupa ya sama Kenangan kita dulu saat SMA masa putih abu-abu??''
Deg!
__ADS_1