Annisa Istri Kecilku

Annisa Istri Kecilku
Menjenguk Annisa lagi


__ADS_3

Keesokan paginya.


''Ma... Abang ke asrama dulu ya. Udah jam tujuh ini. Takutnya si gadis kecil itu ngamuk lagi nanti.'' Ucapnya terkekeh-kekeh mengenang Annisa.


Mama Linda pun ikut terkekeh, ''Tentu. Pergilah! Bawahan makan ini untuknya. Ia sangat menyukai semur daging buatan Mama ini,'' Papa Fabian tersenyum melihat Fabian dan Mama Linda terkekeh bersama karena mengingat Annisa.


''Ya, Abang pergi dulu. Pa, Abang pergi. Assalamualaikum..'' ucap Tama setelah menciumi kedua tangan orang tuanya.


''Waalaikum salam..'' sahut kedua orang itu. Mereka tersenyum melihat tingkah Tama yang begitu bahagia kala mengingat Annisa.


Gadis kecil yang akan memporak-porandakan hati Tama nantinya.


Setengah jam perjalanan, Tama tiba di asrama pesantren Annisa. Ia masuk dan bertemu dengan satpam penjaga pintu gerbang.


Tama duduk sebentar, untuk mengobrol dengan satpam penjaga itu. Setelah dirasa cukup, Tama pergi ke pintu selanjutnya untuk menemui Annisa.


Tiba disana, seperti biasa Tama mengobrol juga dengan ustadzah penjaga pintu itu. Annisa yang baru saja siap mandi, mendapat panggilan kalau Tama sedang ingin menemuinya.


Ia segera bersiap-siap. Setelah selesai, Annisa turun ke bawah dengan berlari. Sarah yang melihat itu hanya menggeleng kan kepalanya melihat tingkah sahabatnya itu.


Dengan senyum terus tersungging di bibir tipisnya, Annisa bergegas menuju sang suami yang sedang menunggunya.


Tiba disana, kaki jenjang itu berhenti mendadak. Bibir yang tadinya tersenyum, kini mendadak datar.


Ia berjalan perlahan mendekati dua orang yang sedang tertawa-tawa itu. Dengan langkah pelan Annisa mendekati mereka berdua.


''Abang ini tampan, apakah belum punya calon? Kalau belum, bolehkah saya yang menjadi kandidat nya?''


Deg!


Kaki Annisa berhenti melangkah. Ia berdiri tepat di belakang kedua orang itu yang saling membelakangi pintu.


''Haha.. kamu bisa saja Zura. Saya belum terpikirkan untuk menikah saat ini. Buat apa cepat sekali menikah, jika masa lajang belum terpuaskan?'' goda Tama pada gadis yang bernama Zura.


''Ih kok gitu? Pacaran nggak baik loh.. dosa! Tapi kalau udah sah, bebas mau lakuin apa aja. Abang gimana sih?!'' ucap Zura begitu kesal dengan ucapan Tama tadi.


Tama tertawa terbahak melihat tingkah Azura. Ya, Azura. Gadis yang sedang berbicara dengan Tama ini ialah adik kelas Tama dulu nya saat masih SMP.


Mereka satu sekolah tapi beda kelas. Tama kelas tiga sedang Azura baru kelas satu. Tama yang sifatnya memang ramah kepada siapa pun, selalu bisa cepat akrab jika sudah cocok saat berbicara.


Seperti saat ini. Annisa tetap menunggu sampai mereka selesai bicara. Ia tetap berdiri disana.


Sarah yang ingin memanggil nya tidak jadi. Karena Annisa meletakkan satu jari di mulutnya, agar tetap diam. Sarah mengangguk setuju, setelah itu ia kembali masuk ke dalam pesantren.


''Bang?''


''Hem?''

__ADS_1


''Abang sama Annisa ada hubungan apa sih? Aku lihat, Abang sering banget jengukin dia. Mana bawa jajan banyak lagi? Apa nggak takut, jika Annisa nanti ngelunjak?''


Deg!


Annisa terkejut dengan ucapan ustadzah nya ini. Tama pun begitu, namun ia cepat merubah raut wajah terkejut nya menjadi tersenyum.


''Abang kenal Annisa sedari bayi Zura.. Annisa bukan anak seperti itu. Dia tidak pernah ngelunjak sama Abang. Anaknya baik dan juga penurut. Satu kekurangan nya, dia itu suka banget malakin Abang, uang jajan!'' ucap Tama sambil terkekeh-kekeh mengenang sifat nakal Annisa


Yang hanya Annisa lakukan padanya saja. Sedang pada Bang Lana dan Papi Gilang, Annisa tidak pernah seperti itu.


Annisa melototkan matanya. Ingin sekali ia bukan suara. Tapi belum saatnya, ia masih ingin tau apa yang akan mereka bicarakan selanjutnya.


''Iyakah? Nakal juga ya ternyata?''


Tama mengangguk dan terkekeh lagi. Sementara Azura semakin terpesona dengan Tama.


Pemuda tampan yang ramah kepada siapa saja. Termasuk dirinya. Azura sudah menyukai Tama saat mereka pertama kali bertemu saat dulu pernah ikut camping bersama.


Disana Azura lebih banyak bergabung dengan Tama dibandingkan dengan teman yang lain. Karena hanya Tama yang mau berteman dengan gadis sepertinya.


''Annisa memang nakal dalam hal malak uang jajan. Tapi kelakuannya baik kok. Abang tidak pernah mendapat kan berita apapun dari pesantren ini selama Annisa sekolah disini. Malah Annisa terkenal di pesantren ini karena Abang!''


Azura mendengus tak suka mendengar ucapan Tama. Sedangkan Tama sudah tertawa terbahak-bahak tapi masih dalam batas wajar.


''Ya,ya. Adik Abang itu memang paling baik dan pintar di pesantren ini! Terus saja sanjung adik angkat kamu itu. Jika suatu saat kamu kecewa karena kelakuannya, baru tau rasa kamu!'' ketus Azura.


''Annisa!! Bel sudah berbunyi sedari tadi kenapa kamu masih diluar?''


Deg!


Deg!


Deg!


Jantung Tama bergemuruh hebat. Tubuh nya membeku seketika. Begitu juga dengan Azura. Mereka berdua saling pandang dengan wajah terkejut.


Suara Tama yang tadinya menggema disana, tiba-tiba menjadi sunyi hanya karena satu nama. Yaitu Annisa.


''Sebentar ustadzah, Abang saya udah nunggu dari tadi. Nggak enak dong udah datang kemari tapi saya nggak nemuin? Saya terakhir aja ustadzah hafalannya.'' sahut Annisa dengan berbalik menghadap ustadzah Hanim.


''Oh, oke. Cepat masuk kalau sudah selesai. Sepuluh menit! Tidak lebih!'' tegas ustadzah Hanim.


Annisa tersenyum dan mengangguk. Dengan segera ia mendekati Tama dan Azura yang sedang tegang karena kedatangan nya.


''Mana sini pesanan adek, Bang?'' tanya Annisa dengan wajah datar.


Deg!

__ADS_1


Lagi, jantung Tama berdegup tak beraturan. Ia menatap Annisa yang masih tidak mau menatap nya.


Tangannya sibuk mengambil semua paper bag untuk dibawa masuk. Setelah selesai ia segera menggamit tangan Tama dan mengecup nya sekilas.


Deg!


Lagi jantung Tama berdegup kencang. Tangannya gemetar ketika Annisa mengecup nya. Sebutir keringat keluar dari dahinya.


Azura memperhatikan setiap gerak gerik mereka berdua. ''Terimakasih karena sudah membawakan pesanan ku, Bang! Maaf mengganggu kalian berdua. Saya permisi masuk. Mari ustadzah? Assalamualaikum..''


''Waalaikum salam..'' sahut ustadzah Azura.


Ia menatap datar pada Annisa yang telah mengganggu acara mengobrol nya. Tama masih terdiam di tempatnya.


Tidak tau harus berkata apa sekarang. Dirinya benar-benar terkejut mendengar suara Annisa tadi dibelakang nya.


''Bang!'' panggil Azura, bertepatan dengan Tama juga memanggil Annisa.


''Sayang! Tunggu Abang!''


Deg!


Azura terkejut mendengar panggilan sayang untuk Annisa. ''Tunggu dulu sayang. Abang mau ngomong sebentar?'' cegah Tama pada lengan Annisa.


Annisa berhenti, namun tetap tidak menatap nya. Pandangan matanya lurus ke depan. Wajah dingin begitu menusuk jantung Tama saat ini.


''Maaf.. Abang tidak tau kamu udah di belakang Abang tadi. Kenapa nggak manggil Abang, hem?'' tanya Tama dengan lembut.


Annisa menoleh padanya. Lagi, hati Tama tercubit melihat wajah datar Annisa.


''Sayang... Abang-,''


''Aku mau masuk! Tak ada yang perlu dijelaskan! Kembalilah ke tempat ustadzah Azura. Dia sedang melihat kita saat ini. Bukankah tadi Abang bilang padanya, kalau Abang belum menikah? Dan masih melajang? Belum puas masa muda?''


Deg!


Deg!


Lagi, Tama merasa salah dalam ucapannya. ''Itu untuk menutupi pernikahan kita sayang. Apa yang terjadi jika sekolah mu tau, hem? Abang hanya pura-pura.. bukan yang sesungguhnya! Percaya sama Abang!''


Annisa masih menatap datar pada Tama. ''Dengan Abang mengatakan, jika Abang masih lajang, itu sudah memberi harapan untuknya dan peluang baik untuk bisa mendapatkan Abang! Abang tidak sadar jika ucapan Abang itu sangat mempengaruhi ustadzah Azura. Aku ingin lihat, apakah pemikiran ku ini benar atau tidak. Akan aku buktikan sendiri! Aku masuk.'' tegasnya begitu menusuk di telinga Tama.


Tama terpaksa melepaskan cekalan tangannya dari lengan Annisa. Sementara Azura masih saja menatap dua orang beda usia itu dengan tatapan sulit diartikan.


Annisa berlari masuk ke pesantren kembali, sedang Tama berdiri mematung menatap kepergian nya.


💕💕💕💕

__ADS_1


Haduh... bang Tama ini tampan amat yak? Hingga banyak aja cewek yang ingin jadi istrinya? Ck!


__ADS_2