Annisa Istri Kecilku

Annisa Istri Kecilku
Salah paham


__ADS_3

Annisa masuk ke kamarnya dengan hati riang. Biar irny terus saja menyunggingkan senyum manis saat berpapasan dengan santri yang lain.


Tiba di kamar, ia duduk diranjangnay dengan bersila. ''Nis, kami duluan ya?'' kata teman sekamar Annisa.


''Ya, nanti aku nyusul. Mau buka kado dari adikku dulu nih!'' tunjuk Annisa pada Kadi yang ada ditangannya.


Teman sekamar Annisa berlalu pergi ke mushola. Sedangkan Annisa tangannya terus saja sibuk membuka kado dari Rayyan.


Setelah terbuka semua, Annisa tertawa melihat isi kadonya. Bagaimana tidak, Rayyan memberikannya sebuah gantungan kunci yang begitu cantik.


Gantungan kunci yang dulu pernah ia minta saat Rayyan berlibur ke Jakarta bersama Oma Dewi dan Opa Angga.


Bibirnya terus saja melengkung kan senyum. Terlihat dibawah gantungan kunci itu ada sebuah amplop berwarna kuning.


Dengan segera Annisa membukanya.


Deg!


Jantung Annisa berdegup kencang kala melihat foto itu. Annisa tertegun melihat isi kado dari Rayyan.


Matanya mengembun. Sesak rasa dadanya.


Tes.


Tes.


Buliran bening jatuh membasahi pipi serta kedua tangannya yang bergetar melihat foto itu.


''Hiks.. Tega kamu Bang!'' Annisa terisak dengan tangan gemetar memegangi tiga lembar foto yang Rayyan berikan padanya.


Annisa membalik ketiga foto itu. Disana terlihat ada tulisan tangan Rayyan.


Maaf Kak.. Jika awalnya Kakak tertawa, sekarang malah menangis. Inilah yang Abang dapatkan saat melewati bengkel bang Tama dua hari yang lalu.


Abang sempat ngikutin mereka berdua. Dan ternyata.. gadis itu bernama Maya. Kekasih bang Tama dulu saat masih SMA.


Maaf Kak.. Maaf.. Abang tidak bermaksud melukai perasaan Kakak. Abang tau seperti apa Kakak mencintai Bang Tama. Abang hanya memberikan ini sebagai bukti, bahwa pernikahan yang Kakak jalani itu merupakan sebuah keterpaksaan antara Kakak dan juga Bang Tama.


Buka email dari Abang. Disana Kakak bisa tau, apakah ucapan Abang ini bohong, atau cuma omongan Abang aja.


Sekali lagi, maafkan Abang Kak.. maaf...


Annisa tersedu setelah membaca tulisan tangan Rayyan yang tertera di belakang salah satu foto.

__ADS_1


Annisa tersedu. Ia mencengangkan erat tangan mau. Hatinya begitu sakit saat ini. ''Bohong! hiks.. Abang berbohong padaku! Jika seperti ini, kenapa kemarin Abang memberikan harapan padaku, jika Abang menerima pernikahan ini? Apa salahku Bang? Hiks.. Mak.. Papi... Kakak mau pulang... hiks.. hiks..'' Isak Annisa.


Annisa yang memang sengaja menyusulnya malah tertegun di depan pintu kamar mereka karena melihat Annisa yang sedang tersedu dengan meremas sebuah foto di tangannya.


Sarah mendekati Annisa yang sedang tersedu. Ia duduk disampingnya Annisa dan melihat dua buah foto Tama dan seorang gadis dewasa seumuran dengan Tama.


Mereka tertawa lepas bersama. Dengan tangan Tama berada ditangan gadis itu. Sarah pun sakit melihatnya.


Dengan segera ia memeluk tubuh Annisa dan mendekapnya. Annisa semakin tersedu kala menyadari jika itu adalah sang sahabat.


''Hiks.. aku nggak sanggup Sarah.. aku ingin pergi.. hiks.. bolehkan aku pergi? hiks..'' Isak Annisa dalam pelukan Sarah.


''Hiks.. sabar... belum waktunya untuk kamu pergi. Bukankah setelah lulus pesantren nanti kamu ingin kuliah di Bandung? hem?'' kata Sarah sambil membelai lembut tubuh Annisa yang semakin terguncang.


''Hiks.. Tapi, tapi.. aku sangat mencintai nya Sarah.. apa hiks.. aku sanggup hiks..''


Sarah semakin mengeratkan pelukannya. ''Kamu pasti bisa. Bukankah ini tujuan mu setelah lulus dari pesantren ini? Aku akan menanti mu selama di Bandung. Karena setelah dari sini, aku pun akan kesana. Kamu tau kan?''


Annisa mengangguk, walau masih tersedu di pelukan Sarah. ''Hiks.. ya sudah, ayo wudhu dulu. Sudah hampir Maghrib loh..''


Annisa mengurai pelukannya dari tubuh Sarah. Annisa tersenyum walau air mata terus membasahi pipi ayu nya.


''Hiks .. Ya. Tungguin ya hiks ..''


''Semoga kamu kuat Nis.. ini baru sedikit. Kuatkan hatimu. Akan banyak cobaan yang datang silih berganti di dalam kehidupan mu setelah kamu menikah dengan nya. Hah! Aku harus selalu ada di sisinya.'' gumam Sarah.


Setelah melihat Annisa keluar dengan wajah basah, Sarah pun bersiap untuk berwudhu kembali. Kemudian mereka berdua menuju ke mushola pesantren mereka.


Keesokan harinya.


Tama datang dengan wajah masam. Saat ini bukan ustdzah yang menjadi penjaga pintu gerbang.


Tapi ustdzah Hanim.


Tiba disana, Tama menyampaikan keinginannya untuk bertukar dengan Annisa. Karena ada hal penting yang harus ia sampaikan pada Annisa.


Ustdzah Hanim mengangguk. Dengan segera ia memberitahukan Annisa jika Tama sedang menunggu nya.


Annisa mengernyit kan dahinya saat mendengar panggilan untuknya. ''Ngapain Abang kesini lagi? Ingin bahas tentang foto itu? Cih! Akan ku lihat, apa pembelaan nya!'' kata Annisa, dengan segera ia berlalu pergi ke gerbang untuk menemui Tama.


Tiba disana, ia melihat Tama sedang berbicara dengan ustdzah Hanim. Tama yang melihat kedatangan Annisa merubah raut wajahnya menjadi datar.


Annisa pun sama. Wajah itu tak kalah datar nya. ''Ini dia! Jangan lama-lama Cukup lima belas menit saja!'' ledek ustadzah Hanim.

__ADS_1


Annisa terkekeh, namun tidak dengan Tama. Wajah itu begitu dingin. Annisa tau itu. Namun, ia berusaha tenang.


Ingin tau dulu, apa yang ingin suami nya ini sampaikan padanya. Tiba di pondok untuk tamu, Tama merogoh ponselnya dan menunjukkan pada Annisa.


''Apa ini?'' tanya Annisa.


''Lihat dan baca! Apa ini yang kamu lakukan dengan pria lain di belakang Abang?! Tega kamu Sayang! Jika kamu tidak menginginkan pernikahan ini, setidaknya kamu katakan! Jangan berbuat seperti ini! Selingkuh di belakang Abang! Abang kecewa sama kamu! Sangat kecewa! Kalau Abang tau akan seperti ini jadinya, lebih baik dulu Abang tidak menikahimu!''


Ddduuaaarrr..


Annisa tersentak mendengar ucapan Tama. Mata nya nanar menatap Tama.


Deg!


Tama terkejut melihat mata Annisa yang begitu sembab. Seperti baru saja habis menangis.


Tes.


Tes.


Tes.


Buliran bening itu kembali menetes lagi membasahi pipi Annisa. Rasa sesak itu menghampiri lagi dadanya.


Annisa menatap sendu pada Tama. Wajahnya datar. Tapi tatapan mata itu begitu terluka. Bibir Tama bergetar melihat mata jernih bulat bening mirip Mak Alisa itu menatapnya dengan tatapan terluka.


''Kenapa? Abang menyesal? Karena telah menikahi anak kecil tukang selingkuh sepertiku? Abang ingin apa sekarang? Ingin pisah dariku?'' tanya Annisa masih dengan wajah datar.


Bibir Tama semakin bergetar. Tanpa dirasa buliran bening pun ikut jatuh membasahi pipinya.


''Sayang...''


''Aku tau, aku cuma anak kecil yang sangat menyukai pria dewasa sepertimu. Tapi apa salahku jika aku menyukai Abang ku sendiri? Jika menurut Abang ini salah, baik! Aku akan melupakan rasa suka ku terhadap Abang! Akan ku lupakan Jika Abang dulu pernah mengadzani gadis tukang selingkuh sepertiku! Aku akan melupakan jika Abang pernah menikahi ku! Baik! Aku akan melepaskanmu! Selamat tinggal Bang Tama! Semoga kau bahagia dengan pilihan mu! Selamat tinggal! Ini terakhir kali aku bertemu dengan mu! Setelah tamat dari pesantren ini, aku tunggu ucapan mu untuk melepas kan ku! Permisi. Assalamualaikum.. Cup!'' Annisa mengecup kedua tangan Tama yang sedang berada dipangkuan nya.


Setelah itu Annisa berlari meninggalkan Tama yang menangis karena ucapan Annisa baru saja.


Serasa runtuh dunia Tama saat Annisa memintanya untuk dilepaskan pada saat ia tamat pesantren nanti.


''Hiks.. kenapa? Kenapa sayang? Kenapa jadi malah kamu yang meminta pisah dari Abang. Bukan itu maksud Abang. Kamu salah paham Dek!''


Tama menatap nanar pada Annisa yang telah menghilang dibalik pintu gerbang pesantren nya.


💕💕💕💕💕

__ADS_1


Waaahh.. gawat! Gawat ini! Jik Samapi mereka pisah!


__ADS_2