
Setelah mendengar ucapan kedua orang itu selesai, Tama, Annisa dan Syakir masuk keruangan itu. Tama sudah memesankan makanan untuk mereka makan siang.
''Sudah selesai?'' tanya Mitha pada Annisa yang sedang bercakap-cakap ria dengan Syakir.
Annisa mengangguk dan tersenyum. ''Bunda, untuk malam ini pulang aja kerumah. Ada Abang yang nemani Kakak disini. Syakir juga. Ada yang harus kakak ajarkan padanya. Maaf bunda kalau kakak lancang, tadi kakak sengaja beli satu buah ponsel untuk Syakir. Sekolahnya sudah mengeluarkan peraturan setiap murid harus memilki satu ponsel untuk sekolah mereka. Jika tidak, maka adek akan ketinggalan pelajaran. Tapi untuk anak SD kelas empat, itu belum diwajibkan!'' tegas Annisa sembari menatap datar pada Arta.
Arta menunduk takut melihat Annisa. Begitu pun dengan Bunda Zizi. Ayah Emil terjaga karena mendengar ucapan Annisa yang begitu tegas terhadap adiknya.
Pria paruh baya itu tersenyum pada Annisa. ''Terimakasih nak. Ayah janji, setelah keluar dari rumah sakit. Ayah akan mengembalikan semua yang telah kamu berikan untuk adikmu. Ayah janji, nak..'' ucapnya sembari menatap Syakir yang kini duduk di sebelah Tama dengan sebuah ponsel baru di tangan nya.
''Tak perlu Yah. Kakak memberikan untuk adek, ikhlas kok. Memberi tanpa mengharap balasan. Mak selalu mengajarkan kami untuk ikhlas dalam memberi. Lagi pun, Syakir kan adek kakak? Apa salahnya jika seorang kakak memberikan sesuatu yang berguna untuk adik nya? Terkecuali kalau yang kakak berikan itu menyalahi aturan sekolah adek, baru tidak boleh.'' Jawab Annisa begitu tegas di setiap ucapan nya.
Bunda Zizi sampai tercenung mendengar nya. ''Maafkan Bunda, Nak .. Bunda salah..'' ucap Bunda Zizi.
Wanita paruh baya itu menunduk malu pada Annisa. ''Tak apa Bunda. Semua ini ada hikmahnya kok. Setiap ujian itu pasti ada hikmahnya. Dan inilah hikmah dari ujian itu. Bunda sama adek, pulang aja. Besok, kembali lagi kesini. Biar malam ini dan malam besok Kakak yang nemani ayah disini. Abang temani adek ya? Untuk sekarang Abang boleh pulang kok.'' imbuhnya sembari mendekati Syakir dan mengambil kotak ponsel itu dari tangan Syakir.
__ADS_1
Tama memutar bola mata malas mendengar ucapan istri kecilnya. ''Jadi kamu usir Abang nih ceritanya?'' ucap Tama sengaja memancing reaksi Annisa yang sedang sibuk memeriksa ponsel itu dan memasang kartu di dalamnya.
''Nggak... mana berani adek ngusir Abang. Abang kan lagi sibuk di bengkel? Nanti sore Abang balik lagi kesini sebelum jam besuk usai. Kita makan dulu sebelum Abang pergi. Oke?'' jawab Annisa sambil tersenyum manis menatap Tama.
Tama menghela nafas pasrah. Mitha terkekeh begitu juga dengan Syakir. ''Baiklah yang mulia ibu Ratu.. hamba manut akan perintahmu...'' ucap Tama seperti seorang hamba patuh kepada ratunya.
Syakir tergelak keras. ''Hahaha... Abang lucu! Hahahaha...'' Syakir tertawa terbahak melihat wajah pasrah Tama yang di buat-buat.
Annisa pun ikut tertawa. Tapi tidak dengan satu orang bocah kecil berusia sepuluh tahun sedang menatap nanar pada abang sulungnya dan Kakak tersayang nya itu.
Bunda Zizi dan ayah Emil menghela nafasnya saat melihat putra kedua mereka terkucilkan. Tapi apa yang harus ia perbuat, jika semua ini sudah terjadi?? Semua ini salahnya. Salahnya yang telah membuat Syakir di tekan dan dirundung oleh anak berusia sepuluh tahun dan itu pun adiknya sendiri.
Bunda Zizi menghela nafas sesak. Ayah Emil memegang kedua tangannya. Dan tersenyum lembut pada istri nya itu. ''Sabar ..'' bisik ayah Emil. Bunda Zizi mengangguk.
Setengah jam kemudian pesanan mereka datang. Annisa langsung membagikannya kepada setiap orang. Tapi tidak pada Arta. Annisa melewatinya. Mata pemuda kecil itu berkaca-kaca. Annisa tersenyum tipis.
__ADS_1
Setelah semua mendapatkan bagiannya, Annisa berjalan menuju Arta yang duduk di sudut ruangan seorang diri. Arta tertunduk lesu.
Annisa menarik lembut tangan nya. ''Ayo kita makan. Semua sedang menunggu mu. Kami tidak akan makan jika kamu tidak ikut makan bersama kami. Ayo!'' ajaknya pada Arta.
Arta mendongak.
Tes.
Tes.
Buliran bening itu mengalir lagi dari sudut matanya. Annisa berjongkok di depan nya dan menghapus air mata yang mengalir tanpa suara dari bibir Arta.
Cup.
Annisa mengecup dahi Arta yang kini keringat karena baru saja menangis. ''Kakak sayang sama adek. Kakak nggak marah kok. Kakak hanya sedang menegur mu. Semua perbuatan mu selama ini itu salah sayang. Kamu salah. Tapi bukan berarti kakak menghukum dan mengucilkan mu seperti kamu membuat Syakir terkucilkan oleh ulah mu. Kakak memaafkan semua kesalahanmu. Ayo, kita makan. Kakak yang akan menyuapi mu, hem?''
__ADS_1
Mata Syakir semakin berkaca-kaca. Air mata itu tumpah lagi di wajah sembab nya. Ia mengangguk saat Annisa tersenyum lembut padanya.