Annisa Istri Kecilku

Annisa Istri Kecilku
Tamu di pagi hari


__ADS_3

Annisa dan Tama yang sudah bangun sedari subuh kini sedang memasak di dapur bersama. Sesekali Tama mengusili Annisa dengan cara menoel pinggang Annisa, membuat gadisnya itu terjingkat kaget.


''Abang! Ish.. adek lagi dadar telur loh.. jangan di gangguin ih!'' sungut Annisa tidak terima.


Tama tertawa. Ia memeluk Annisa dari belakang dan meletakkan dagunya di bahu Annisa. Terdengar helaan nafas di telinga Annisa.


''Kenapa??'' tanya Annisa dengan tangan terus bergerak mengolah telur di dalam wajan.


''Kapan sih Abang bisa kayak Anto? Sekarang aja ya? Udah nggak tahan ini...'' rengek Tama pada Annisa.


Annisa tertawa. ''Sabar atuh.. mereka memang udah waktunya. Abang belum! Tanggulnya masih terkunci rapat belum bisa Abang buka!''


Lagi dan lagi Tama menghela nafasnya. ''Ck. Ini nggak adil buat Abang! Sekarang di inginkan kamu nggak ngasi! sekalinya kamu kasih, kamu menghilang! Begitu maksud Kamu?!'' ketus Tama dengan segera ia beranjak dari pelukan Annisa dan duduk di meja makan dengan wajah datarnya.


Annisa menghela nafasnya. Ia matikan kompor dan berlalu menuju Tama yang saat ini sedang duduk di meja makan. ''Abang, dengerin adek ngomong.'' pintanya pada Tama.


Tama melengos. Annisa tidak tinggal diam. Ia memagut putik merah jambu itu hingga membuat sang empunya tergoda. Mereka berdua berbagi kehangatan dalam setiap decapan yang yang tercipta.


Dirasa cukup, Annisa melepaskannya. ''Bukan adek tidak mau. Tapi pesantren ketat banget penjagaan nya sekarang. Setiap kali kita kembali dari rumah habis liburan, kami pasti di periksa. Di cek seluruh badan sampai lubang surga pun di periksa!''


Tama melotot. ''Apa?! Siapa yang periksa? Laki-laki atau perempuan?!'' tanya Tama begitu gusar.

__ADS_1


Annisa terkekeh. ''Dokter perempuan Abang... mana boleh kalau laki-laki? Bisa kami tendang dokter itu! Enak aja mau periksa Palung surga Kami! Ingin dapat tontonan gratis gitu?''


Tama terkekeh. ''Kan mana Abang tau sayang. Bisa saja kan??''


''Ck. Lagipun ustdzah Hanim pasti akan marah. Nggak mungkin kayaknya gitu!''


''Terus, kok bisa seketat itu sih sekarang penjagaan nya?''


''Semua itu berawal dari kita yang ketahuan sama ustdzah Azura. Saat kita sedang bercumbu di dalam mobil Abang saat Abang terakhir kali mengantar adek dulu. Dia yang mengusulkan hal itu. Beruntungnya kita belum ngapa-ngapain kan??''


Tama mengeratkan pelukannya di tubuh chubby Annisa. ''Iya sih. Tapi icip-icip sudah! Mau lagi, boleh??'' tanya Tama pada Annisa.


Annisa tertawa dan mengangguk. ''Tentu. tapi jangan sampai ke bobolan ya? Bahaya. Adek bisa di keluarkan dari sekolah nanti nya? Oh ya Bang? Apa kabar penganten baru di sebelah rumah kita ini ya? Sudah bangun kah mereka??'' tanya Annisa pada Tama yang saat ini sedang menuangkan nasi kepiring.


''Iya juga ya? Kasihan juga Mitha dan Anto. Ya sudah, kalau misal nanti Mama Karin datang, biar adek yang hadapin mereka! Pingin tau, kayak apa wajah Mama tiri Abang itu!''


Tama terkekeh sambil makan sarapannya. Sementara dirumah sebelah, saat ini mereka sedang kedatangan tamu. Tamu pagi hari yang tidak di undang datang pada saat mereka sedang sarapan romantis berdua setelah penyatuan tadi malam.


''Well, inilah suami mu Kamitha?? Lumayan.'' katanya sembari melirik sinis pada setiap sudut rumah Anto dan Mitha.


Mitha menatap datar pada Mama nya ini. Ia mengambil ponsel Anto yang terletak diatas nakas dan mendial nomor Tama.

__ADS_1


''Ya Kak. Kalian berdua kesini ya? Hem, ya, ya, ya. Ck. Jangan bahas itu!'' ketus Mitha pada Sambungan ponselnya.


Anto Terkekeh. Ia tau itu siapa. Pasti Kakak ipar kecilnya. Mitha merengut saat meletakkan ponsel di atas meja. Anto semakin terkekeh saat melihat Mitha mengejek Annisa berbicara.


''Tunggu saja dia!'' ketus Mitha semakin tidak bersahabat pada Annisa.


Sedangkan Annisa sedang tertawa terbahak di dalam kamar nya bersama Tama. Tama sedang sibuk menggarap dirinya saat ini.


''Udah ih!.Ayo, itu nenek lampir sudah datang dan sedang menyidang adik kamu!''


Tama berhenti. Ia terkekeh saat melihat Annisa kelelahan karena terlalu lama tertawa. ''Ayo, kita hadapi nenek lampir itu.'' Kata Tama pada Annisa


''Ayo, biar adek yang hadapi tamu pembuat onar itu!'' jawab Annisa sembari bangkit dan memakai hijab instannya kembali.


💕💕💕💕


Sambilan nunggu nunggu cerita ini update, mampir dulu yuk di karya temen othor yang satu ini.



Noh, cus kepoin! Cerita seru loh..

__ADS_1


Like dan komen selalu othor tunggu. 😘😘


__ADS_2