Annisa Istri Kecilku

Annisa Istri Kecilku
Terimakasihh, sayang..


__ADS_3

Tama berlari mengejar Danis dan Tania yang melihat gerobak balon di ujung taman sana. Tama berdecak sebal saat menyadari jika mata kedua anaknya itu begitu jeli melihat balon nan jauh disana.


Beruntungnya Tama, dirinya yang selalu rajin berolahraga dengan cara berlari di detiap subuhnya, tidak merasa kelelahan saat mengejar kedua bocah biang rusuhnya itu.


"Ck. Dasar kalian ya! Berapa Bang?" tanya Tama pada Abang balon yang tertegun melihat Tama itu sedang yang ditatap sibuk merogoh dompet nya untuk mengambil uang dan membayar balon yang sudah si kembar bawa lari menuju bang Raga yang kini menyusul mereka bersama Ziara dan Arga.


"Adrian?" sapanya hingga membuat Tama menoleh.


Tama membulatkan matanya saat melihat siapa lelaki dihadapan nya ini. Tama tersenyum lebar. "Danu?? Ini beneran Danu? Danuarta kusuma?" tanya Tama dengan tersenyum lebar.


Pemuda yang disebut namanya itu tersenyum dan segera memeluk erat tubuh tegap Tama yang begitu ia rindukan dan ia cari-cari selama ini.


"Ya Allah Nu! Apa kabar?"


Danu tersenyum, "Baik! Kamu sendiri? Yang tadi itu anak kamu?" tanya nya.


Tama tertawa. "Hooh, kedua anak ku itu kembar. Kesana yuk? Disana seluruh keluarga ku berkumpul, ayo!" Tama menarik tangan Danu untuk ikut bersamanya.


Danu, tersenyum. "Sebentar dulu sob! Ini gerobak aku kayak gimana?? Di tinggalin gitu?? Mau lah aku nggak makan nantinya!" seloroh Danu pada Tama membuat Tama menatap gerobaknya itu.


Tama tercenung melihat gerobak yang berisi balon itu. Setelahnya tersenyum. "Bawa aja. Diasana keponakan ku ramai kok. Pasti rejeki kamu hari ini." Ucapnya dengan segera membantu Danu menarik gerobak itu untuk dibawa dimana Annisa dan kelima adiknya berada.


Baru Tama memegang gagang gerobak itu sudah terdengar suara paggilan di belakangnya. "Bang Tama!" seru Raga pada Tama membuatnya menoleh dan tersenyum kala melihat si kembar Rasya dan Rania yang sangat ingin meminta balon itu darinya.

__ADS_1


"Adek mau balon, Bi!" seru si cantik Rania.


Ia melompat-lompat kegirangan karena melihat balon yang sama persis seperti saudara sepupunya tadi.


"Tentu sayang. Nah, ini untuk adek. Dan ini Untuk Kakak." Katanya pada si kembar.


Kedua anak kembar Kak Ira itu begitu kesenangan. Mereka melompat ria dan segera berlari menuju sang ummi berada. Raga yang melihatnya langsung saja mengejar tanpa membayar balon milik sahabat Tama ini. Katena terkejut melihat sahabat Tama itu.


"Ayo kesana. Pasti disana banyak lagi yang membelinya dari pada disini. Jangan takut. Nanti aku yang mengurus petugas Tama ini," ucapnya dan diangguki oleh Danu.


Mereka berdua pun berjalan sambil berbicara ringan hingga mereka tiba di tempat seluruh keluarganya.


Tama terkekeh saat melihat Annisa yang terusmakan. "Duduk dulu, Nu. Biar aku kenalkan kamu pada semua adik dan istriku." Katanya pada Danu dan membuat pemuda sebaya Tama itu tersenyum.


Danu menoleh, "Bu Direktur!" serunya karena terkejut


Ira terkekeh, "selow aja Pak. Hoo.. Jadi ini toh yang dibilang adek tukang balon yang ia bilang ayah Kakak Jia nya?" Danu tersenyum malu.


Tama menoleh pada Ira, "kamu mengenal Danu Dek?"


Kak Ira tersenyum dibalik niqobnya, "Iya, adek kenal dengan Pak Danu. Beliau ini mantan satpam dirumah sakit kita. Tetapi keluar karena harus mengurus putrinya yang sedang sakit tumor otak stadium dua yang bernama Jia." Jelas kak Ira membuat Tama dan Annisa menatap Danu dengan selidik.


Danu menunduk. "Danu?" panggil Tama

__ADS_1


Danu terdiam, "Berapa biayanya untuk pengobatan kanker ini bang?" tanya Annisa pada Raga.


Raga mengehla nafasnya. "Pak Danu ini sudah menghabiskan banyak uang untuk pengobatan putrinya selama satu tahun ini. Seharusnya tiga bulan lagi Jia sehat jika sudah di operasi. Tetapi karena beliau kekurangan biaya, beliau malah pergi begitu saja lantaran sudah kehabisan biaya. Sebenarnya Abang sama Kakak mu sudah bilang, tidak usah pikirkan biaya, yang penting Jia sehat dulu. Ehh, tak taunya saat Abang balik besok pagi ingin mengabarkan kalau Jia harus di operasi pengangkatan tumornya, beliau sudah pergi dari malamnya begitu kata perwat dirumah sakit kita. Sekarang entah apa yang terjadi dengan Jia. Abang pun tidak tau." jelas Raga sambil menghela nafasnya.


Annisa menatap pak Danu, "Bawa anak Abang besok kerumah sakit! Siapakan segala sesuatunya bang. Besok, Jia harus segera di operasi! Untuk biaya nya, Adek yang akan menanggungnya. Uang adek cukup kok kalau hanya untuk biaya pengoabtan Jia saja." Ucap Annisa membuat semua orang melihatnya. Termasuk pak Danu.


Tama mentap dalam pada Annisa, "tetapi biaya nya sekitar 180 juta dek! Saya tidak punya uang sebanyak itu. Saya tidak mau berhutang pada kalian. Biarlah saya menanggungnya seperti ini saja. Saya tidak akan sanggup membayarnya nanti. Saya sudah tidak punya apapun lagi yang bisa untuk saya jual.." lirih Pak Danu dengan menunduk.


Annisa tersenyum. "Tidak usah di pikirkan. Ini sudah menjadi rezeki Jia. Persiapkan saja besok untuk operasinya. Dan ya, bukankah di showroom kita Abang lagi butuh orang kan ya untuk mengawasi barang-barang yang akan masuk?'' tanya Annisa pada Tama.


Tama tersenyum, ''Kamu benar! Danu? Besok, setelhh kamu membawa Jia kerumah sakit, datanglah ke showroom ku. Kamu bisa bekerja disana mulai besok!'' ucap Tama memutuskan seuatu yang membuat Danu terkejut sekaligus terharu.


Ia tersenyum haru, ''Baik. Saya akan membawa Jia kerumah sakit besok pagi. Dan untuk uang yang kamu pinjamkan akan Abang bayar dengan cara mencicilnya pada Abng kamu!'' jawabnya membuat Annisa terkikik geli.


''Bukan adeknya Pak Danu. Tapi istrinya! Dan Annisa ini adik ketiga saya! Sedangkan yang mirip dengan Annisa ini adik bungsu saya. Dan yang itu, ipar saya. Istri dari adik lelaki saya!'' jelas Kak Ira membuat Pak Danu terkejut dan beliau pun menunduk malu.


Semuanya tertawa melihat Pak Danu. Tetapi tidak dengan Tama. Ia menatap dalam pada Annisa. Annisa mengedipkan matanya pada Tama.


Tama terkekeh kecil.


''Terimakasih sayang..''


''Sama-sama Abang..'' sahut Annisa masih dengan tersenyim

__ADS_1


__ADS_2