Annisa Istri Kecilku

Annisa Istri Kecilku
Berlibur ke tempat Nenek


__ADS_3

Selesai makan siang, mereka bertiga keluar dari rumah makan itu. Kaki ini Tama tidak membiarkan Azura untuk duduk di depan. Ia jalan terlebih dahulu bersama Annisa dan membuka pintu mobil nya dengan segera.


Setelah Annisa masuk, ia pun berlalu ke sebelah kursi kemudi. Ia masuk dan mulai menyalakan mobil miliknya. Tanpa berpikir apapun, Tama ingin pergi dari rumah makan itu tapi Azura menghentikan nya.


''Tunggu Bang! Kok aku di tinggal sih!'' sungutnya pada Tama yang menoleh nya dengan tatapan tajam.


Azura menciut. Ia masuk ke mobil itu dan duduk dengan diam. Wajah ya di tekuk. Annisa terkikik geli. Tama mengulum senyum.


Sepanjang perjalanan tidak ada yang berbicara. Hanya terdengar deru mesin mobil dan hiruk pikuk diluar sana. Tama membelokkan mobilnya di depan komplek perumahan Permata hijau.


Tiba di gerbang komplek itu ia menghentikan mobilnya. Tanpa berbicara apapun pada Azura.


Azura kebingungan. ''Kenapa disini Bang?? Rumah ku kan masih jauh masuk ke dalam??'' tanya nya pada Tama.


Tama menoleh dengan tatapan tajam menusuk. Azura terkejut. Ia menunduk. ''Keluar! Saya bukan supir ojek online yang bisa kamu atur-atur! Mobil, mobil saya! Suka suka saya mau nurunin kamu dimana! Jangan sok mengatur saya USTADZAH AZURA!'' tekan Tama pada namanya.


Azura mengalah, ia keluar dari mobil Tama dan mengambil tas nya. Tanpa mendengarkan ucapan terimakasih dari Azura, Tama menekan pedal gas dengan segera.


Azura mematung di tempat. Ia mengepalkan kedua tangannya. Sementara Annisa tergelak keras di dalam mobil mereka.


''Hahaha... Abang kok jahat banget sama ustadzah Azura! Dia guru adek loh.. hahaha..'' kata Annisa pada Tama.


Tama yang tadinya sedang kesal pada Azura jadi tertawa melihat tingkah Annisa yang begitu lucu. Annisa tertawa terbahak karena menyadari jika Tama berubah menjadi jutek pada Azura.


Padahal Tama bukanlah tipe pria yang tegaan pada perempuan. Tapi hari ini? Semua itu terlihat jelas sekarang. Demi dirinya, Tama bisa berubah menjadi jutek pada setiap perempuan yang berusaha menjadi pengganggu di dalam hubungan mereka berdua.


Annisa terus saja tertawa dan menggoda Tama di sepanjang perjalanan menuju kerumah Mak Alisa.


Satu jam sudah mereka di perjalanan, kini mereka sedang berada dirumah Mak Alisa. Sementara kedua orang tuanya tidak ada. Karena masih diluar kota bersama Papi Gilang menemani beliau dalam tugasnya.


Saat ini Annisa sedang di dapur bersama Nara. Adik kecil kembaran dirinya itu senang sekali bisa bertemu dengan Annisa.


Mereka menghabiskan waktu bersama dengan memasak. Dan bersenda gurau di dapur. Di temani Mbok Mi yang selalu setia menunggu mereka.


''Kakak mau liburan kemana setelah ini??'' tanya Nara dengan tangan terus bergerak memotong wortel yang akan dimasak menjadi sup oleh Annisa.

__ADS_1


Annisa tidak menoleh, tapi ia menyahuti ucapan Nara. ''Rencananya, kalau Mak udah pulang sama Papi, Kakak mau berlibur ke Aceh. Ke tempat nenek kita. Adek mau ikut??''


Nara tersenyum dan mengangguk. ''Mau Kak! Tapi...''


''Tapi apa??'' tanya Annisa dengan berbalik. Ia melihat wajah sendu Nara.


''Dek??''


''Hiks.. adek nggak di ijinin pergi kesana sama Papi. Katanya adek harus nemenin Mami dirumah. Karena Mami sering kambuh sakit kepala nya. Dan juga Abang akan ke tempat Bang Rayyan kan dirumah Oma?? Adek nggak bisa Kak.. adek mau ikut.. tapi Mami??'' lirih Nara dengan wajah menunduk dan bahu berguncang.


Annisa memeluk adik kecilnya itu. ''Kalau begitu, Kakak juga tidak akan pergi jika kamu tidak ikut pergi bersama kakak ke Aceh. Kita tunggu mereka pulang. Kakak berlibur disini aja sama adek, dan Mak. Ya? Jangan sedih.. adek kakak yang cantik ini jelek loh.. kalau merengut begini??'' goda Annisa pada Nara.


Nara mencebik kesal. Annisa tertawa. Sedangkan tiga orang di ruang tengah penghubung ruang dapur, mematung di tempat mendengar ucapan Annisa.


Mereka bertiga saling pandang. Terutama Mak Alisa. Ia menatap tajam pada Papi Gilang. Papi Gilang melengos. Tama terkekeh.


Suara kekehan Tama terdengar hingga ke telinga dua orang yang sedang memasak itu. ''Loh? Mak! Papiiiiii!!!'' kata Annisa.


Ia berlari dan menubruk dua prauh baya itu. Papi Gilang terkekeh, ia lebih memilih mendekati Nara yang sedang sibuk memotong wortel untuk bahan sup buatan Annisa.


Papi Gilang mendekati putri sulungnya. Ketiga orang disana pun mendekati meja makan dimana Nara berada.


''Dek.. nggak mau peluk Papi kah??'' tanya Papi Gilang pada Nara


Nara diam. Ia mengigit bibirnya karena menahan sesuatu yang akan meluncur sebentar lagi.


''Sayang.. kamu marah sama Papi??'' tanya nya lagi.


Annisa mendekati Nara dan memeluknya. Ia menatap tajam pada Papi Gilang. Papi Gilang tertawa. Tatapan tajam yang Annisa berikan begitu menggemaskan menurutnya.


''Papi pergi sana! Ganggu kami masak saja! Mandi sana! Papi nggak bisa melarang adek untuk ikut kakak! Sore ini juga kami akan pergi berlibur ke rumah Nenek! Titik! Tak ada bantahan!'' ketus Annisa pada Papi Gilang.


Bukannya marah, Papi Gilang malah tertawa. Nara semakin tersedu. Annisa semakin erat memeluknya.


''Pi???'' panggil Mak Alisa dengan tatapan tajamnya.

__ADS_1


''Apa?? Aku nggak ngapa-ngapain loh.. putri kamu saja itu yang senewen! Baru di goda sedikit saja ia sudah merajuk padaku! Ishh.. ayo Bang! Kita saja yang pergi! Ribet berhadapan dengan para wanita! Ck!'' gerutu Papi Gilang dengan tersenyum nakal pada Mak Alisa.


Mak Alisa melototkan matanya. Papi Gilang tertawa. Tama terkekeh-kekeh. Ia sangat Suka Jika sedang berkumpul dirumah kedua orang tua angkat nya ini.


Cinta beda usia ini merupakan pedoman untuk hidup Tama dan Annisa nanti. Makanya Tama sering datang kerumah mereka hanya sekedar belajar sesuatu dari pasangan beda usia itu.


''Sudah! Mami udah putuskan! Kita sekeluarga akan mudik ke kampung halaman Mami. Tak ada bantahan!'' tegasnya membuat Annisa dan Nara tertawa melihat wajah Papi Gilang kesal.


''Ck! Kamu kok gitu sih? Aku lagi sibuk loh sayang..''


''Terserah! Salah siapa ganggu kedua putriku! Sekarang rasakan akibatnya! Kamu menyusul saat tugas kamu sudah selesai!'' tegasnya lagi semakin membuat Annisa dan Nara tertawa terbahak.


Karena melihat wajah Papi Gilang semakin kusut saja. ''Ck! Terserah padamu! Kalaupun kamu pergi, aku pun akan ikut dengan mu! Kamu lupa janji kita berdua? hem??'' Kata Papi Gilang sambil mengikis jarak pada Mak Alisa.


Mak Alisa mundur ke belakang. Ketiga anaknya tertawa-tawa. Inilah yang Tama sukai jika ia berkunjung ke rumah ini.


Keluarga harmonis dan saling menyayangi. Walau terpaut usia yang begitu jauh, tapi Tidak menyurutkan rasa cinta mereka berdua. Walaupun banyak ujian sebelum mereka bersatu, mereka berdua tetap pada pendirian nya.


Hingga semua itu terlaksana setelah kian tahun lamanya. Mereka berdua bersatu Setelah Papi Gilang selesai dari sekolahnya.


Dan hubungan mereka saat ini semakin lengket saja. Seperti amplop dan perangko yang tidak pernah terpisahkan!


Tama tersenyum melihat dua orang paruh baya beda usia itu saling menggoda satu sama lain. Ia pun berharap demikian untuk hubungannya dan Annisa nanti.


💕💕💕


Kalau sanggup, nanti malam othor update lagi deh.


Tetap setia ya sama adek Annisa dan Abang Tama?


Jangan lupa like dan komen nya! Ini yang selalu othor tunggu!


Othor hanya punya satu pesan, tiap kali mampir ke karya othor, budi daya kan LIKE! Karena like merupakan pendukung othor untuk semakin semangat dalam meng update cerita ini.


So.. jangan lupa! Selalu othor tunggu! Terimakasih yang udah mampir 🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2