
Ceklek!
Pintu kamar Annisa terbuka, mereka bertiga menoleh. ''Sarapan kesiangan nya nak? Ayo, sini duduk. Adek pun belum makan. Sedari subuh udah Mak suruh bolak balik ke kamar kamu. Tapi katanya kamu nggak bangun-bangun!''
Annisa dan Tama Terkekeh. Kinara mengambil makanan yang sudah di siapkan untuknya oleh sang Mami. Nasi goreng seafood kesukaan nya.
''Terimakasih Mami. Maaf sampai merepotkan Mami.'' Ucap Kinara pada Mak Alisa.
Mak Alisa tersenyum, ''Semua itu karena Mami yang menyuruhmu. Makanya kamu telat makan karena hatus boalk balik ke kamar kakak mu. Ya sudah, kalian makan lah dulu. Setelah ini kita akan mengadakan ritual adat Aceh yaitu turun mandi untuk Annisa sebelum besok acara akad ulang,''
Tama mengangguk, ''Iya Mak. Abang pun harus mengikuti serangkaian acara adat lainnya yang sudah disiapkan nenek dari kemarin. Ck. Dasar nenek. Udah Abang bilang nggak usah, tapi tetap saja!''
Mak Alisa Terkekeh, ''Namanya saja orang tua nak? Ikuti saja. Lagi pun kamu kan keturunan Jawa??''
Tama mengangguk dengan mulut penuh makanan. ''Hooh. Papa dan Mama keduanya dari suku Jawa walau berbeda provinsi sih.''
Annisa terdiam. Ia tidak ikut nimbrung berbicara seperti biasanya. Ia sedang gelisah saat ini. Tama yang sadar terasa sunyi tanpa suara sang istri menoleh padanya sambil menyuapi nasi goreng ke mulut Annisa.
Membuat gadis ayu itu terkejut. ''Aaa.. makan dulu sayang. Kamu mikirin apa sih? Ada yang mengganggu pikiran mu?? bilang sama Abang!'' ucap Tama sambil menyuapi nasi ke mulutnya dan mulut Annisa
Annisa menatap Mak Alisa dan Tama bergantian. ''Katakan!'' titah Mak Alisa
''Bang?''
''Hem, makan dulu. Setelah ini baru kita bicara!''
__ADS_1
''Baiklah ..'' jawab Anisa pasrah.
Mereka bertiga makan dengan lahapnya. Setelah selesai, Annisa kembali menghadap Tama. Kali ini wajah itu begitu serius.
''Sekarang sudah selesai, katakan! Apa yang menjadi kegelisahan mu?''
Annisa mengangguk, ''Abang yakin, ingin mengumumkan Pernikahan kita berdua ke seluruh dunia? Apa tidak berpengaruh pada sekolah ku Bang? Secara kan adek baru aja selesai ujian dan belum lulus?'' tanya Annisa begitu serius pada Tama.
Mak Alisa tersenyum, ''Sudah.. tidak usah kamu pikirkan! Itu sudah menjadi urusan suami mu dan Papi kamu. Mereka berdua sudah mengurusnya!''
Tama tersenyum lembut pada Annisa. ''Beneran Bang? Nggak Pa-pa gitu? Abang kan tau seperti apa ustadzah Hanim?? Beliau ketat banget loh..'' kata Annisa pada Tama.
Tama terkekeh, begitu pun dengan Mak Alisa. Kinara sibuk dengan melihat tangan Annisa yang begitu cantik karena ukiran Henna yang sama seperti sang Mami saat menikah dengan Papi nya dulu.
Annisa masih diam, Tama tersenyum dan mengusap pipinya yang tanpa penghalang. Annisa tidak memakai hijab sama sekali. Hanya baju kaos berlengan pendek dan rok plisket hitam sepanjang betisnya.
Tangan halus dan putihnya begitu jelas terlihat. Begitu pun dengan kaki jenjangnya yang sudah berukiran Henna yang sangat cantik.
Tama tersenyum lagi. Ia terkekeh mengingat kala mereka berdua berkunjung ke pesantren Annisa dan mengabarkan hal itu setelah ujian Annisa selesai.
Papi Gilang selaku orang tua Annisa mengatakan hal yang sejujurnya jika Tama adalah calon suami Annisa. Dan seminggu lagi mereka akan menikah.
Ustdazah Hanim terkejut bukan main. Wanita paruh baya itu sampai pingsan. Hingga sang putra yang bergelar dokter itu pun datang ke pesantren karena mendapat kabar kalau sang Ummi, jatuh pingsan entah apa penyebabnya.
Papi Gilang di serang panik, tapi Tama bisa menenangkan nya dengan baik. Wanita itu tersadar kembali. Setelahnya Tama pula yang gantian berbicara.
__ADS_1
Ia berkata sejujurnya kepada ustdazah Hanim bahwa sedari kecil Annisa memang sudah di jodohkan dengan nya dan setelah tamat SMA mereka akan segera di nikahkan.
Karena Annisa sudah selesai ujian, maka hal itu pun bisa terlaksana sebelum Annisa bwrangkat ke Bandung sebulan lagi. Sebelum ia berangkat Tama ingin mengikat dulu Annisa menjadi istrinya.
Lagi dan lagi ustdazah Hanim shock bukan main. Tapi setelahnya ia pun setuju. Walau harus pingsan untuk kedua kalinya. Mengingat itu Tama terus saja Terkekeh-kekeh. Begitu pun dengan Mak Alisa.
''Sudah, bersiaplah dulu. Ayo Dek kita keluar. Biarkan kakak mu ganti pakaian dulu, ayo!'' ajaknya pada Kinara
Kinara menggeleng. ''Mami duluan aja. Adek tetap disini temenin kakak sama Abang. Kan mereka nggak ngapa-ngapain Mami??''
Tama tergelak keras. ''Tentu Dek. Abang nggak akan apa-apain kok Kakak kamu. Abang duluan yang mandi. Nanti baru nyusul kamu sayang, atau nggak kita barengan aja biar cepat. Jam sebelas kan ya acara nya dimulai?'' tanya Tama pada Mak Alisa yang sudah berada di ambang pintu.
''Ya, bersiap lah. Mak tunggu diluar. Dan kamu Dek, jangan ganggu saudaramu. Mami mau keluar dulu,''
''Oke Mami ku yang cantik... adek nggak akan ngapa-ngapain kok.'' Sahutnya dengan sedikit cengengesan.
Annisa dan Tama tersenyum, mereka berdua masuk ke kamar mandi dan mandi bersama. Cukup sepuluh menit saja keduanya sudah kembali dengan pakaian lengkap mereka.
Kinara tersenyum, ''Sudah siap?''
''Sudah. Ayo kita ikuti serangkaian adat yang akan di gelar di bawah sana. Ayo bang!''
''Ya,'' sahut Tama.
Mereka bertiga keluar dari kamar dan menuju ballroom dimana acara adat akan segera di mulai.
__ADS_1