Annisa Istri Kecilku

Annisa Istri Kecilku
Setuju


__ADS_3

''Udah kenyang??'' tanya Tama pada Annisa.


''Alhamdulillah udah, Bang. Emm... Maslah tadi itu...''


Tama tersenyum, ''Abang mengizinkan mu untuk kuliah di Bandung. Tapi dengan syarat. Setelah kamu lulus ujian dan sambil menunggu panggilan untuk kuliah di Bandung, kamu harus menemani Abang sebelum aku pergi. Bisa??'' tanya Tama pada Annisa.


Ia hanya mencoba meyakinkan dan membuat Annisa bahagia. Annisa tersenyum begitu manis padanya. ''Beneran??'' tanya nya memastikan.


Tama mengangguk mantap. ''Iya sayang. Abang izinin kamu,'' jawabnya


Annisa semakin sumringah. ''Serius Abang setuju??'' tanya nya sekali lagi untuk memastikan.


Tama terkekeh, ''Beneran sayangku.. cintaku.. hidupku.. kamu butuh apa lagi untuk membuktikan persetujuan Abang? Apakah harus dengan cara melompat-lompat gitu?''


Annisa semakin sumringah. Ia tertawa melihat wajah merajuk Tama. Mitha terkekeh. Ia melihat ustadzah Hanim ada di ujung sana, sedang tersenyum melihat Annisa.


Mitha mengangguk lagi, ustdazah Hanim pun segera berlalu. Tinggallah kini Mitha, Tama dan Annisa. ''Ehm, Kakak ipar!'' panggil Mitha


Annisa yang sedang membereskan rantang bawaan Tama tadi kini menoleh padanya. ''Ya, ada apa Mit??'' sahut Annisa dengan tangan terus bergerak menyusun rantang makanan itu.


''Emmm... apakah ketika ujian semester nanti kakak bisa pulang? Maksudku, kakak bisa libur gitu?''


Annisa menoleh, ''Sast selesai ujian sekolah udah libur kan? Sama kayak tahun lalu. Emang kenapa??'' balas Annisa pada Mitha.


Mitha tersenyum, ''Kalau memang bisa libur, aku akan menikah di saat kakak libur. Jadi kita bisa liburan bersama ke Jakarta. Iya kan Bang?'' katanya pada Tama.

__ADS_1


Tama tersenyum, ''Jsngan putuskan sendiri perihal Pernikahan mu. Tanyakan dulu calon suami mu. Apakah ia mau atau nanti malah keberatan pula. Iya kan sayang?'' tanya Tama pada Annisa.


Di balas Annisa dengan menggangguk mantap. ''Memang nya kamu ingin menikah dengan siapa Mit??''


Mitha tersenyum, pipi itu merah merona. ''Hehehe... sama adik angkat nya Abang! Bang Hariyanto!''


Annisa membulatkan matanya. ''Yang benar kamu!''


Mitha mengangguk, ''Benar kakak ipar! Tanya aja sama Abang kalau kakak tidak percaya!''


Annisa menoleh pada Tama untuk memastikan. Tama tersenyum dan mengelus puncak kepala Annisa. ''Beneran sayang. Mereka itu udah berhubungan begitu lama. Di belakang Abang lagi.'' Tama mencebik saat mengatakan hal itu.


Mitha nyengir kuda. ''Hehehe... jangan salah kan adek dong, kalau adek menyukai adik angkat Abang itu! Wajahnya tampan. Orangnya baik! Belum lagi, ia selalu mengingat kan ku untuk menutup aurat ku. Kamu tau kakak ipar?''


Annisa menggeleng, Tama terkekeh. ''Bahkan saat Akau pulang kemarin ia masih berusaha mengingatkan ku untuk menutup seluruh tubuhku. Katanya aku harus banyak belajar dari kamu, kakak ipar! Ia juga mengingatkan aku kalau kamu itu sedari kecil sudah menutup aurat. Aku terkejut kak. Aku tidak tahu sama sekali tentang mu. Tapi... bang Anto mengatakan semuanya tentang mu padaku. Dan aku baru tau saat melihat wajahmu di figuran kecil di dalam mobil Abang,''


Tama terkekeh kecil. Sedang Annisa melihat Tama. ''Kenapa?? Apa nya yang itu??'' tanya Annisa kebingungan.


Tama semakin terkekeh. Ia tau maksud dari pertanyaan Mitha itu apa. ''Mitha??'' panggil Annisa


Mitha tertunduk malu. Pipinya merah merona. ''Hehehe.. gimana ya kak bilanginnya?? Aku malu...'' cicitnya sambil menunduk lagi.


Tama semakin tertawa. Annisa kebingungan. Ia menatap Tama. ''Apa sih Bang?''


Tama yang masih tertawa segera mendekati Annisa dan membisikkan sesuatu yang membuat Annisa merasa malu juga akhirnya. Namun, ia tertawa setelah mengetahui apa yang ingin ditanyakan oleh Mitha.

__ADS_1


Annisa terkekeh kemudian berdehem. ''Ehem. Baiklah. Kakak akan mengajar kan mu. Tapi kamu harus sering kesini. Karena disini Kakak tidak di ijinkan memakai ponsel terkecuali mendadak. Seperti kemarin??'' Annisa nyengir kuda melihat Tama tertawa terbahak karena mengingat pesan darinya.


''Hihihi.. maaf Abang! Habisnya ustdzah Hanim kemarin memaksa adek untuk bisa cepat menghubungi Abang. Ya.. adek kirim lah. Tapi sialnya Abang tidak juga membalasnya. Padahal ustadzah Hanim sudah berbaik hati menerimanya ponselnya pada ku untuk bisa menghubungi Abang hingga satu jam lamanya. Dasar si Abang! Kalau udah sibuk kerja, mana ingat lagii dia sama ponselnya. Pasti pesan itu pagi baru dibaca!'' ketus Annisa sembari mencebik kesal pada Tama.


Tama tertawa. ''Hahaha.. maaf sayang.. Abang itu lagi kedatangan tamu yang suka pamer aurat!'' Mitha melototkan matanya. Tama tertawa lagi. ''Kamu tau, tamu itu sok kecentilan! pakai baju kurang bahan. Ini aja udah tertutup karena sudah mendapat hidayah melalui calon suaminya!'' ledek Tama pada Mitha.


Lagi dan lagi, Mitha melotot tak terima dengan ucapan Tama baru saja. ''Abang ih! Kok buka kedok sih?! Ishhh...'' gerutu Mitha dengan wajah kesal menatap Tama.


Tama semakin tertawa melihat wajah adiknya semakin jutek seperti itu. Annisa yang baru konek dengan ucapan Tama pun, ikut tertawa bersama suaminya.


Hingga membuat Mitha semakin kesal saja. Mitha merengut tak suka. ''Maksud Abang, tamu itu adalah Mitha???'' tanya Annisa pada Tama.


Tama mengangguk mantap. Annisa semakin tertawa. Sedangkan Mitha semakin merengut sebal. Ia menghentak-hentakkan kakinya di lantai karena kesal pada kedua pasangan itu.


Namun ia senang, karena Tama telah menyetujui permintaan Ustadzah Hanim tadi.


💕💕💕💕


Hehehe.. neng Mitha di ledek abangnya tuh! hihihi..


Mampir dulu yuk di cerita temen aku yang satu ini. Sambilan nunggu adek Annisa update.


Karya nya Kak Hilmiath


__ADS_1


Cus kepoin!


Like dan komen nya selalu othor tunggu ye? Lempar kembang buat othor di setiap bab nya. Agar othor semakin semangat updatenya 😍😍😍


__ADS_2