
''Ke lu aaaaaa rrrr!!!!!''
Dddduuuuaaaaarrrrrrrrr...
''Astaghfirullah sayang....'' Ayah Emil segera memeluk tubuh bunda Zizi yang saat ini sedang bergetar karena amarahnya sudah tidak tertahankan.
Tama dan Annisa menutup kedua telinga mereka saking kuatnya suara lengkingan Bunda Zizi hingga memekakkan gendang telinga mereka.
Seluruh keluarga jauh bunda Zizi terpaku dan membatu di tempat. Syakir dan Arta terkekeh-kekeh mendengar suara Bunda Zizi yang begitu melengking. Mereka berdua hanya bisa sesekali terkikik geli melihat wajah seluruh anggota keluarga jauh itu pucat pasi.
Mereka tidak menutup telinganya namun, wajah mereka mendadak pucat seperti mayat hidup. Hingga membuat Bunda Zizi semakin kalap.
''Ke lu aaaaarrrr... sialaaaaannn!!!!!''
Dddduuuuaaaaarrrrrrrrr...
''Astaghfirullahal'adhimm.. udah sayang! Hentikan! Apakah kamu ingin me.fhamcirjsn rumah sakit ini? Kita harus bayar dengan apa? Abang sakit Dek. Nggak akan bisa kerja seperti dulu lagi. Sabar.. Allah bersama kita.. ssssttt... udah.. Istighfar sayang... astaghfirullah al'adhim...'' ucap Ayah Emil sembari memeluk tubuh bunda Zizi yang terus bergetar hebat.
Emil menatap nyalang pada mereka semua karena yang disuruh keluar tidak mau keluar sama sekali. ''Tidakkah kalian kasihan dengan istriku?! Apakah kalian tega melihatnya kesakitan seperti ini?? Tidak cukupkah yang aku berikan hingga kalian ingin mengeruk uang arisan untuk biaya rumah sakit ku?! Kalian ini keluarga macam apa sih?! Bisanya hanya membuat rusuh semua keluarga setiap kali kalian datang!''
''Bulan lalu kalian mbuat rusuh dirumah Andi dan Ema sampai Ema harus keguguran gara-gara Kalian?! Dan sekarang?! Kalian ingin membuat rusuh di sini?! di rumah sakit?! Tidak kalah kalian malu, Setipa kalau kalian datang berombongan seperti ini bertujuan ingin mengeruk harta yang bukan seharusnya milik kalian?! huh?!'' tukas ayah Emil begitu marah.
__ADS_1
Suasana di luar rumah sakit tidak sesuai prediksi yang mengatakan matahari bersinar cerah dan panas. Tapi lihatlah diluar sana. Tiba-tiba saja langit menghitam dengan hujan turun begitu lebat disertai petir yang saling sahut menyahut.
Semua orang ketakutan Melihat nya. Mereka sibuk masuk ke dalam ruangan rumah sakit untuk berlindung dari Sambaran petir yang terus menerus menggelegar dan membakar sisi saja yang di temuinya.
''Pergi kalian dari sini. Kalian itu datang kesini hujan untuk memberikan doa untuk kesembuhan ku, makdb kalian mencoba kerusuhan disini! Ya Allah.. dosa apa aku sama mereka?! Hingga setiap kali bertemu mereka dada ini selalu sakit! Sakit hati dan otak yang selalu dibuat panas oleh perkataan pedas mereka semua! Astaghfirullah al'adhim... ya Allah...'' lanjut ayah Emil lagi dengan terus mengusap lembut tubuh bunda Zizi yang semakin tidak terkontrol karena amarahnya saat itu ingin meledak karena melihat salah satu dari mereka terus mengejek omongan ayah Emil dengan cara menirukan gaya bicaranya namun, terkesan seperti mengolok-olok.
Lagi dan lagi bunda Zizi mengepal kan kedua tangannya. Syakir dan Arta terdiam. Mereka tidak lagi terkikik geli seperti tadi. Saat ini wajah itu tiba-tiba saja takut. Takut melihat amarah Bunda Zizi yang akan meluap.
''Bang!'' bisik Arta di telinga Syakir. Pemuda kecil yang berusia tiga belas tahun itu mengangguk. Ia paham maksud panggilan dari Arta baru saja.
''Kita tunggu saja apa yang akan terjadi, kamu akan tau kalau Mak lagi marah nggak akan ada yang bisa halanginya??'' jawab Sykait dengan berbisik juga.
''Ya.. tapi kasian ayah, Bang!''
Seseorang yang tadi mencomooh Emil kini ingin berbicara lagi pada Bunda Zizi dan yang akan membuat Huru hara di dalam rumah sakit itu sebentar lagi.
''Cuih! Jijik aku melihat nya berbicara! Kami bodoh Zi! Karena mauenkkah dengan pemuda tua dan blangsak seperti nya! Kalau aku tak akan mau menerima pria bangkotan sepertinya! Tampan tidak, kaya apalagi??? Cih! Bodi sekali seorang Azizah Putri Prajaditya mau menikah dengan pemuda blangsak seperti nya! Tidak apa-apa nya dengan pemuda yang pernah Tulang bawakan untuk kamu! Zi.. Zi.. bodoh kamu!''
Deg!
Deg!
__ADS_1
Ayah Emil terkejut mendengar ucapan sepupu jauh Mak Butet itu. Ayah Emil menjadi kalang kabut saat melihat perubahan pada wajah bunda Zizi yang semakin merah padam.
Bunda Zizi mendekati sepupu jauhnya itu dan berdiri menjulang dihadapan nya. ''Kau..!! Keluarga jauh tidak punya perasaan! Tidak punya malu! Tidak punya etika! Sekolah tinggi tapi mulut tidak pernah di sekolah kan! Dasar keluarga Pengeruk! Menyesal saya bisa berkeluarga dengan kalian! Kau...!!''
Grep!
Klek!
''Aarrgghhttt... lepas! lepas!'' pekiknya sambil memukul-mukul tangan bunda Zizi yang sudah mendarat cantik di leher mulusnya yang tidak tertutup hijab.
''Lepas Zi! Sialan!! Selama akkhh.. kau menikah dengan pria tua bangkotan itu akkhh.. sakiiiiiittt!!! aarrgghhtt... kau jadi seperti Monster! Zizi! Monster!!''
Deg!
Deg!
Rahang bunda Zizi mengetat begitu juga Kedua anaknya. Apalagi Annisa dan Tama, mereka berdua maju ingin melawan sepupu jauh bunda Zizi yang akan menghajar bunda Zizi.
''Berani?? Sini! Kamu lawan ku!!''
💕💕💕💕
__ADS_1
Hayoloh.. jangan main-main sama adek Annisa! Dia pemegang utama sabuk hitam dalam atlit taekwondo wanita! hihihi...