Annisa Istri Kecilku

Annisa Istri Kecilku
Juara Umum


__ADS_3

Selsai dengan acara performa, kini acara selanjutnya ialah pengumuman tentang Mutis teladan dan terbaik di tahun ini.


Ustdazah Hanim selaku pemilik pesantren pun menuju podium untuk menyampaikan sepatah dua kata.


''Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh..''


''Waalaikum salam warahmatullahi wabarokatuh!'' sahut semuanya begitu kompak.


''Alhamdulillahi robbill. Wassholatu wassalamu'alaikum ala asyrafil ambiyai walmursalin. Wa'ala Alihi wash ini ajmain. Baiklah. Pertama-tama saya ucapkan terimakasih banyak kepada wali murid yang sudah hadir ke sekolah ini untuk mengikuti serangkaian cara yang kami adakan setiap tahunnya untuk mengenang para murid yang sudah menuntut ilmu selama tiga tahun disini.


Saya selaku kepala sekolah disini sangat bangga akan prestasi yang membanggakan yang di dapatkan oleh murid-murid kita. Oleh karena nya, sudah ada sepuluh daftar nama yang di undang langsung oleh universitas yang terkenal di Bandung untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi lagi.


Saya harap nama yang bersangkutan harus segera datang ke kantor untuk pengambilan surat undangan nya setelah acara ini selesai.


Dan ya. Saya ingin mengumumkan tentang juara umum di tahun ini. Dari juga murid-murid berprestasi lainnya. Baik, nama yang saya sebutkan harus tampil ke podium berikut orang tuanya.'' Ucap ustdzah Hanim membuat Sarah, Mutia dan Annisa berdebar tidak karuan.


Saat ini mereka masih duduk bersama di samping podium. Karena belum di izinkan untuk duduk dengan wali mereka. Nanti saat makan bersama batu mereka bisa berkumpul bersama dengan wali mereka.


Deg, deg, deg..


Jantung seluruh murid itu bertalu-talu. Tangannya begitu dingin saat ini. Apalagi Mutia. Ia harap-harap cemas menantikan keputusan dari Sekolah mereka.


''Baiklah, saya akan mengumumkan sepuluh orang murid yang berprestasi di sekolah kita ini selama lebih kurang tiga tahun ini.


Di posisi Sepuluh ada Kamidia Larasati!''

__ADS_1


Prok, prok, prok..


Suara tepukan tangan terus menggema di luar sekolah Annisa itu.


''Di posisi ke sembilan ada Nurhayati.''


''Yang ke delapan ada Bintang Purnamasari.


''Yang ketujuh ada Linda Sumarni


''Yang ke enam ada Cahaya Sri Lanka


''Yang kelima ada Putri Pertiwi


''Yang ke empat Sarah mulia Wati,''


Deg!


''Di posisi ke empat ada Amanda Kurniawan.. dan yang kedua dan kesatuan ini kalian pasti sudah bisa menebak siapa orangnya bukan?''


Semua yang ada disana kompak menggeleng bersamaan. Termasuk Tama. Annisa terkekeh melihatnya. Semua itu tidak luput dari perhatian seseorang yang begitu membencinya.


''Baiklah.. akan ustdazah beritahu. Seperti biasa posisi kedua selalu di pegang teguh Oleh .. Mutia Putri Hermawan. Dan juara umum kali ini.ulsu dari kelas satu hingga kelas ini tidak pernah bergeser sedikitpun. Dia adalah... ANNISA!!''


Dddduuuuaaaaarrrrrrrrr..

__ADS_1


Annisa terjingkat kaget. Ia tersentak hingga bangkit dari duduknya. matanya lirih menatap ke Dey dimana ustadzah Hanim tersenyum melihatnya.


''Aaaarrrgghhtt... sahabat kita juara umum Tia!!!'' pekik Sarah sambil memeluk erat tubuh Annisa yang mematung itu.


Prok. Prok.. Prok..


Suara riuh tepuk tangan itu menggema di seluruh lapangan luas itu.


''Kepada nama yang kami sebutkan, di persilahkan naik ke podium!''


Semuanya bertepuk tangan dengan meriahnya. Salah satunya Tama. Pemuda dewasa itu terharu hingga menitikkan air matanya.


''Annisaku .. Istri kecilku..'' bisiknya tanpa suara. ''Abang bangga padamu sayang. Sangat bangga!'' bisiknya lagi tanpa suara.


Semua murid yang dipanggil tadi segera naik ke podium dan mengambil hadiah serta sertifikat penghargaan dari sekolah mereka.


Annisa mendapatkan piala yang sangat besar bertuliskan nama nya disana. Semua yang melihat itu bersorak gembira.


Annisa tidak sadar jika Tama sudah berdiri di belakang nya. ''Kepada Annisa dan wali murid nya kami persilahkan untuk menyampaikan sepatah dua kata untuk penyemangat bagi adik-adik yang masih akan meneruskan pendidikan mereka disini.''


''Terimakasih Ustadzah.''


Deg!


Annisa terkejut. Ia menoleh ke belakang dan melihat Tama tersenyum padanya. Namun, ada air mata yang masih terlihat di pelupuk matanya.

__ADS_1


''Ayo, kamu dulu yang ngomong,'' ucap Tama pada Annisa. Ia pun mengangguk dan tersenyum.


__ADS_2