Annisa Istri Kecilku

Annisa Istri Kecilku
Keseruan saat bersama


__ADS_3

Mereka tiba diruang dengan tubuh yang begitu letih. Apalagi Annisa yang sangat mengantuk karena kekenyangan makan. Tama tertawa saat melihat Annisa ketiduran di sofa ruang tamu saling kenyang dan lelahnya.


''Hahaha.. bangun sayang.. masuk yuk? Masa tidurnya disini? Kita punya kamar loh..'' Tama tertawa lagi saat Annisa menepis telunjuknya yang mempelajari hidung bangir Annisa.


''Ck. Awas ih! Jangan ganggu Abang... adek ngantuk!'' balasnya pada Tama.


Tama tertawa. Gemas, ia mengecup sekilas putik merah jambu yang mengerucut itu.


Cup!


''Haisssshhh.. jangan di ganggu ih! Adek ngantuk Abang!'' serunya dengan mata yang sudah terbuka dan menatap tajam pada Tama.


Tama tergelak keras. ''Iya sayang. Iya.. maafkan Abang mu yang nakal ini, hem?'' godanya pada Annisa.


Ia yang tadinya marah pada Tama, kini malah terkekeh. Annisa mengulurkan kedua tangannya meminta untuk di gendong oleh Tama. Tama terkekeh.


''Tidur di kamar kan?'' tanya Tama saat sudah menggendong Annisa.


Annisa mengangguk. Ia membenamkan seluruh wajahnya di dada hangat Tama. Tama tersenyum. Ia terus melangkah sambil membawa Annisa menuju ke kamar mereka.


Tiba disana, Tama bukannya membaringkan Annisa. Tapi ia membawa Annisa menuju ke kamar mandi untuk menggosok gigi dan mengganti baju sebelum tidur.


''Ganti baju dulu, gosok gigi baru setelah bini kita tidur. Ayo, apa perlu Abang yang gantikan?'' tanya Tama pada Annisa yang sudah setengah terlelap.


''Abang aja ya hooaamm.. adek ngantuk..'' sahutnya dengan mata terpejam.

__ADS_1


Ia duduk menyender di atas closet dengan mata terpejam. Tama terkekeh. Dengan segera Tama membuka seluruh pakaiannya dan mengganti kan bahu Annisa dengan handuk miliknya yang selama ini sering ia pakai.


Setelah itu Tama menggosok gigi Annisa. Annisa tetap dengan mata terpejam. Namun, apapun yang Tama perbuat ia tau.


''Saking ngantuk nya sampai kayak gini ih! Hihihi.. bisa puas Abang kalau kamu begini?'' goda Tama pada Annisa yang kini sedang mengelap seluruh tubuhnya.


Annisa memegang tangan Tama dengan mata terpejam. ''Jangan macam-macam! Kalau Abang nggak mau adek tinggal!'' tegasnya masih dengan mata terpejam.


Tama tergelak keras. Suara tertawa Tama memenuhi kamar mandi mereka. ''Diem ih! Nggak tau apa kalau di kamar mandi itu nggak boleh ngomong?!''


Tama masih saja tertawa. ''Iya, iya, iya sayangku. Cintaku. Ratuku dihatiku. Permaisuri ku. Abang diam!'' sahutnya dengan sedikit menggoda Annisa.


Annisa terkekeh. Setelah itu tidak ada lagi yang mereka bicarakan. Tama benar-benar terdiam. Ia sekarang gantian yang mandi dengan air hangat setelah tadi membantu Annisa.


Kemudian ia pun memakai baju. Baru setelahnya ia berbaring di samping istri kecilnya yang sudah terlelap terlebih dahulu. Tama memeluk erat tubuh Annisa yang sudah tidak merespon lagi.


Yang terdengar hanya dengkuran halus saja. Tama terkekeh namun, ia menghela nafasnya saat menyadari sesuatu di balik sarung sana tiba-tiba saja menegang karena melihat tubuh polos sang istri yang tertidur sedari tadi.


''Ya Allah.. kasihan banget kamu Tong? Masih enam bulan lagi hadeuuhh.. Abang janji. Setelah enam bulan ini. Kamu tidak akan Abang lepaskan sama sekali! Abang akan menggempur kamu habis-habisan! Gedeg Abang! Mereka semua udah merasakan pecahnya tanggul Surga? Lah Abang? Udah hampir tiga puluh tahun belum juga merasakan hal itu! CK. ck. ck. Kasihan sekali kamu Tama..'' lirih Tama dengan mata terpejam.


Annisa tersenyum di dalam tidurnya. Ia semakin mengeratkan tubuhnya pada Tama. Harum maskulin dari tubuh Tama yang sangat ia sukai.


Mereka terlelap setelah membaca doa sebelum tidur. Annisa sudah berlalu ke alam mimpi sedari tadi.


Hari-hari yang Annisa lewati saat liburan bersama Tama sangatlah menyenangkan. Inilah yang ia mau. Bisa bersama Tama setiap saat. Tama akan pergi bekerja setelah selesai membantu Annisa di rumah.

__ADS_1


Baik dalam hal dapur, taman, menyapu rumah, membersihkan kolam renang, dan juga menanam bunga. Semua itu mereka lakukan berdua.


Ada saja tingkah Annisa yang membuat Tama tertawa. Masih teringat oleh Tama saat Annisa berlari gegara ular. Hari itu pun terulang kembali.


Kali ini karena ular tanah. Tama yang mencangkul, Annisa yang mengambil tanah itu dan ia yang memasukkan ke dalam pot untuk bakal bunga barunya.


Tetapi saat Annisa mengambil tanah itu, ia terkejut bukan main ketika melihat seekor ular tanah berlari ke arahnya. Hingga hampir masuk ke dalam baju gamisnya.


Annisa memekik kencang hingga ia berlari tanpa sadar dan melompat ke tubuh Tama yang saat itu baru saja selesai mencangkul tanah di tempat lain karena permintaan Annisa.


Mereka berdua terhuyung dan jatuh ke dalam lubang yang baru saja Tama korek untuk di ambilkan tanahnya.


Mitha dan Anto yang baru saja datang tertawa terbahak melihat tingkah kakak ipar dan Abang nya itu. Annisa dan Tama saling pandang.


Tama menggerakkan alisnya sambil tersenyum pada Annisa. Annisa tergelak keras begitu juga dengan Tama.


Keseharian Annisa dan Tama selalu membuat adik iparnya itu tertawa. Ada saja tingkah Annisa yang selalu membuat perut mereka di kocok ingin tertawa.


Gegara cacing yang dikira ular pun begitu. Ia hampir melempar Tama dengan gayung saking terkejutnya. Yang sialnya buat Tama, gayung itu merupakan pupuk cair yang baru ia larutkan untuk tanaman cabai Annisa yang baru tumbuh.


Jadilah Tama mandi pupuk di saat pagi hari. Mitha dan Anto sudah tidak sanggup tertawa lagi. Tama hanya bisa pasrah dengan kelakuan istri kecil yang selalu membuat ulah itu.


Tapi itulah yang sangat disenangi oleh Tama. Keseharian bersama Annisa sebelum Annisa pergi untuk menuntut ilmu ke Bandung. Mengingat itu membuat Tama menghela nafasnya.


Sangat berat melepaskan Annisa untuk pergi ke Bandung.

__ADS_1


__ADS_2