Annisa Istri Kecilku

Annisa Istri Kecilku
Menemui Annisa


__ADS_3

Sementara Annisa berdamai dengan keadaan, Tama malah semakin merasa bersalah kepada adik angkat nya itu yang kini telah menjadi istri sahnya.


Walau hanya selembar kertas sebagai bukti pernikahan mereka, tapi itu sudah cukup membuktikan jika Annisa adalah istri sah nya.


Tama tertawa dalam tangis, saat dulu pernah mengingat jika Annisa pernah berkata pada nya, ''Abang! Kalau adek besar nanti, adek mau kok jadi istri Abang? Kayak kak Ira sama bang Raga. Bang Lana dan kak Maura. Adek juga mau, kalau Abang yang jadi suami Adek!'''


Tama tertawa. ''Pingin banget ya mau jadi istri Abang??'' Annisa mengangguk dan tersenyum begitu manis.


Gemas, Tama mengecup pipinya. Annisa tertawa. Ia juga membalas kecupan singkat, hampir mengenai bibir Tama.


Tama terkejut. ''Adek!''


Annisa tertawa. ''Abang galak! hahaha..'' ucap Annisa kecil saat berusia sepuluh tahun.


Tama pun ikut tertawa.


Bahkan saat umur Annisa dua belas tahun, Mama Linda sudah mengatakan padanya, kalau Annisa lah kelak yang akan menjadi istrinya.


Dan semua itu terbuktikan. Tama tertawa namun menangis. Air mata itu tidak berhenti untuk keluar.


Saking larut dalam menangis ia tidak sadar jika waktu sudah malam. Ia tersentak dari tidurnya pada pukul tiga pagi.


''Astaghfirullah!! Sholat ku!! Ashar, Maghrib, isya! ya Allah...'' lirih Tama dengan segera ia berlalu menuju ke kamar mandi untuk mandi dan menunaikan sholatnya yang tertunda.


Selesai mandi dan berwudhu, Tama mulai sholat isya terlebih dahulu. Kemudian dilanjut dengan sholat tahajud.


Selesai sholat tahajud, Tama berdua kepada sang maha pencipta atas kesalahan yang ia lakukan untuk Annisa. Istri sahnya.


''Ya Allah.. ya Robbi yang maha pengasih, lagi maha penyayang... ampuni dosaku yang telah melukai hati istriku.. hiks.. aku berdosa padanya. Hiks.. aku zolim padanya dengan mengabaikan perasaan nya dan lebih memilih perasaan wanita lain.. sampai ia pergi dariku.. maafkan hamba ya Robb.. hamba ingin memulai hubungan ini dengannya. Hamba sadar.. mungkin inilah jalan takdir yang Engkau goredksn untukku. Bertemu Mak Alisa, tinggal bersama nya, hingga aku juga menikah dengan putri kecilnya.. hiks.. aku menerima pernikahan ini dengan lapang hati. Besok, hamba akan menemuinya untuk minta maaf.. bantu hamba ya Allah.. bantu hamba.. agar Annisa mau menerima pernikahan ini dan kembali tinggal bersama hamba dirumah kami.. hiks.. ampuni hamba ya Robb.. ampuni hamba... hanya kepada Mu lah hamba meminta dan memohon pertolongan.. tiada daya dan upaya ku melainkan dengan kuasanya ya Allah... amiiin...'' Tama mengusap kedua wajahnya yang telah basah dengan air matanya.

__ADS_1


Mata yang sudah sembab semakin sembab. Tama terkekeh, saat melihat matanya saat ini begitu bengkak.


Dengan segera ia membuka lemari pendingin yang ada di dalam kamar pengantin mereka dan mengompres matanya dengan air dingin.


Agar bengkak di sekitar mata sedikit berkurang. Malu dong.. ketemu istri dengan maat bengkak seperti itu? Nanti dikira cengeng lagi karena istrinya itu pergi darinya.


Padahal benar bukan? Tama terkekeh lagi saat memikirkan hal itu. Bibirnya tidak berhenti untuk tersenyum, kala melihat Annisa akan terkejut saat kedatangan nya nanti.


Keesokan paginya.


Tama sudah bersiap sedari subuh. Ia tidak tidur lagi setelah sholat tahajud tadi malam. Ia sibuk mengompres matanya yang bengkak akibat terlalu lama menangis.


Dan ya. Usaha tidak akan mengkhianati hasil. Mata Tama sudah berkurang bengkaknya. Tersisa sedikit lagi. Tapi tidak terlalu terlihat.


Terlihat sembab seperti baru bangun tidur. Tama terkekeh lagi saat melihat matanya seperti itu di spion mobil miliknya.


Dengan segera ia membawa mobil itu menuju ke pesantren tempat Annisa menuntut ilmu. Hanya tiga puluh menit saja sudah tiba disana.


Setiap kali Tama datang, pastilah seperti ini. Agar tidak menimbulkan kecurigaan. Pikirnya. Ia terkekeh lagi, kala mengingat jika satpam penjaga pesantren itu sudah kenal dengan nya.


Bahkan mereka sangat akrab. Tiba di depan gerbang pesantren, Tama menyapa satpam penjaga itu.


Sang satpam penjaga tersenyum melihat nya. Dengan segera ia membuka pintu gerbang dan mempersilahkan Tama untuk masuk.


Tama turun dari mobilnya setelah memarkir kannya di tempat parkir. Dengan segera ia menemui satpam itu dan meninggalkan kartu identitas miliknya.


Tama menyerah kan satu buah plastik yang berisi berbagai macam buah-buahan untuk satpam itu.


Pak satpam terharu melihat sikap Tama yang selalu baik padanya. Setelah itu, Tama berlalu pergi dan menemui Annisa di dalam kawasan pesantren.

__ADS_1


Setelah mengatakan ke inginan nya untuk bertemu dengan Annisa di kabulkan, ustadzah penjaga itu menyuruh Tama untuk menunggu di tempat yang sudah di sediakan bagi para tamu yang akan datang untuk mengunjungi santri mereka.


Dengan sabar, Tama menunggu Annisa untuk datang menemuinya. Sambilan menunggu Annisa, ia berbalas pesan dengan Selena.


Sampai pemuda tampan berstatus suami Annisa itu lupa waktu. Ia tersadar saat suara bel di pesantren itu sudah berbunyi.


''Astaghfirullah! Aku lupa! hehehe.. sibuk berbalas pesan dengan Selena aku malah melupakan Annisa- Hah? Annisa? Kenapa dia tidak datang ya?'' gumam Tama masih dengan terkekeh.


Di ujung jalan sana, terlihat seorang gadis kecil mengepal kan tangannya dengan erat. Saat tadi ada seorang ustadzah datang menemuinya dan memberi tahukan jika ada Tama di depan sedang menunggu nya, dengan cepat gadis kecil itu berlari ke tempat para tamu bertemu.


Ia tidak sadar dengan kelakuan nya itu. Dengan cepat ia berlari menuju Tama. Ia begitu bahagia jika Tama ingin bertemu dengan nya.


Annisa kira, Tama menolak ingin bertemu dengan nya. ternyata tidak. Pemuda tampan pujaan hati Annisa itu datang untuk menemuinya.


Sepanjang perjalanan senyum manis terus tersungging di bibir tipisnya. Namun semua itu buyar saat Annisa tiba disana, ia melihat jika Tama sedang berbalas pesan dengan Selena.


Mantan kekasih nya. Ia tertawa terbahak bahak sambil menyebut nama Selena berulang kali.


Langkah Annisa beralih mundur. Hatinya sakit, saat Tama masih berhubungan dengan mantan tunangan nya itu.


Perih sekali. Sakit yang tiada Tara. Tangannya mengepal erat, saat mendengar Tama juga mengatakan jika ia begitu merindukan Selena.


Senyum yang tadinya cerah, kini berubah menjadi datar. Sedatar hati dan pikiran nya untuk Tama saat ini.


''Aku pikir, Abang akan melupakan kak Selena secepat itu. Ternyata aku salah! Benar apa yang aku pikirkan! Bahwa kamu lebih mementingkan Selena daripada diriku yang bukan siapa-siapa kamu! Baik! jika itu yang kamu inginkan, maka akan aku kabulkan!''


''Kita lihat, siapa yang akan bertahan dalam pernikahan paksa ini. Kamu? Atau aku? Sampai Mama Linda belum kembali dari umroh bersama Papa, sampai saat itu juga aku tidak ingin melihat wajah mu! Selamat menikmati hidupmu Abang Tama! Semoga kamu selalu bahagia dengan cinta mu! Tidak seperti ku, yang selalu kecewa dengan cintaku! Aku pergi! Sampai bertemu bulan depan!'' lirih Annisa begitu pelan.


Bahkan Tama yang ada di depannya pun tidak mendengar nya. Dengan segera Annisa berlari meninggalkan Tama yang kebingungan karena Annisa tidak ingin bertemu dengan nya.

__ADS_1


Ia menghela nafas berat. Dengan berat hati, ia menitip kan seluruh bawaan nya itu kepada seorang ustadzah untuk diberi kan kepada Annisa.


Setelah nya, ia pulang kembali. Membawa hati dan harapan palsu yang ia buat sendiri.


__ADS_2