Annisa Istri Kecilku

Annisa Istri Kecilku
Pertolongan Annisa


__ADS_3

Mutia menoleh pada Tama. Tama tersenyum dan mengangguk. ''Sebutkan! Abang tidak akan ikut campur! Tapi ya .. Abang harus tau berapa jumlah tabungan adek Abang yang satu ini? Kayaknya udah jadi milyarder ya sekarang??'' goda Tama sambil mencubit lembut pipi Annisa.


''Abangggg... ishh.. awas dulu ih!'' sungut Annisa tidak terima pada Tama karena mencubit pipinya.


Cekrek!


Cekrek!


''Heh kamu! Aku minta pesangon ku ya dari kamu??? Tunggu sebentar! Urusanku belum selesai dengan Mutia! Baru setelahnya dengan kamu!'' tunjuknya pada sang fotografer yang membuat Annisa jadi seleb dadakan dalam sekejab.


Sang fotografer itu bukannya takut, ia malah terkekeh. ''Abang disini juga?'' tanya nya pada Tama.


Tama terkekeh dan mengangguk. ''Ya, temani istri sedang jalan-jalan ingin kelantai kata nya!''


Deg!


Mutia terkejut mendengar ucapan Tama pada sang fotografer itu. ''Istri?? Bukannya Annisa belum menikah ya? Dan bukannya lelaki itu abangnya??''' bisik hati Mutia sambil menatap Annisa dan Tama bergantian.


''Tia??? Sebutkan berapa jumlah nya??''


Mutia terkejut. ''Eh iya. Li-lima puluh juta Nis...'' lirihnya sangat pelan tapi Tama dan sang fotografer itu masih bisa mendengar nya.


''Oke, sebutkan nomor rekening kamu?'' katanya pada Mutia.


Mutia menyebutkan nya. Setelah nya Annisa langsung saja mengirimkan nya.


Ting!

__ADS_1


Ponsel Mutia berbunyi. Ia membuka dan melihat nya. ''Astaghfirullah Nis! Ini kebanyakan??'' seru Mutia begitu terkejut pada Annisa.


Annisa terkekeh. ''Sisanya buat usaha bapak kamu. Aku ku ikhlas kok. Kamu tenang aja ya?''


''Tapi Nis!''


''Udah. Aku nggak minta kamu untuk bayarin uang itu. Aku ikhlas kok. Tuan raja ku banyak kok uangnya? Iyakan Bang??''


Tama mengangguk dengan Terkekeh. Begitu pun sang fotografer. Ia pun ikut terkekeh melihat tingkah lucu Annisa. ''Tentu. Uang Abang yang mu juga kan??''


''Aseeekkk.. tuan rajaku emang yang paling baik! Cup!''


Tama melotot lantas tertawa. Mutia terkejut bukan main dengan tingkah bar bar Annisa. Ia tidak menyangka jika Annisa yang terkenal begitu pendiam kini berubah menjadi bar bar bila dihadapan lelaki dewasa di depannya ini.


Mutia terkekeh kecil melihat tingkah Annisa. ''Terimakasih Annisa. Ternyata Allah sengaja menggerakkan kaki ku untuk bisa datang ke tepi pantai ini. Aku tidak menyangka jika kita bertemu disini. Sempat putus asa sih tadi. Tapi Alhamdulillah nya Allah SWT mempertemukan kita disini. Terimakasih Annisa. Bang?''


Mutia terisak. Annisa memeluknya dengan erat. ''Terimakasih Nis. Aku janji, uang ini akan segera aku kembalikan jika uang dari hasil menulis ku sudah banyak, akan segera ku kembalikan kepada mu ..'' bisik Mutia di telinga Annisa.


Annisa mengangguk. ''Tentu. Pulanglah. Bawa ikan ini untuk keluarga mu? Eh, kamu kesini dengan apa??'' tanya Annisa sembari mengurai pelukannya dari tubuh Mutia.


''Ada. Adikku sedang berjualan disana!'' tunjuk Mutia pada adik kecilnya yang sedang menjajakan makanan khas kerupuk udang buatan Keluarga nya.


Annisa tersenyum, ''Pulanglah. Bawa adikmu serta. Kamu jualan dirumah aja ya? Jangan lagi di tepi pantai begini..'' lirih Annisa dengan leher tercekat.


Mutia mengangguk. ''Tentu. Aku tidak akan menyia-nyiakan pengorbanan mu yang telah menolong diriku. Terimakasih Annisa...''


''Sama-sama Tia. Saling tolong menolong dalam hal kebaikan tidak ada salahnya kan??''

__ADS_1


''Ya, ini. Bawa pulang ikan ini. Bentar aku panggil adikku dulu.'' Imbuhnya dengan segera berlari mendekati sang adik dan berbicara sebentar Kepada nya.


Setelah nya ia berlari menuju Annisa kembali dengan kedua adiknya tersenyum pada Annisa.


Grep!


''Eh, eh, eh?'' Annisa sampai terhuyung ke belakang.


''Terimakasih Kak. Kakak telah menolong keluarga kami. Kapan-kapan kakak dan Abang datang kerumah kami ya? Rumah kami tidak jauh kok dari sini. Ya Kak??'' pinta salah satu dari adik Mutia.


Annisa tersenyum, ''Tentu. Kamu pun boleh kok sering-sering ketempat kakak?''


''Tentu kak. Ini dia kak. Untuk makan siang kakak disini. Kami tinggalkan disini. Ayo Kak kita pulang, tadi bapak bilang rentenir itu datang lagi.''


''Tentu. Annisa, kami pulang ya? Sekali lagi terimakasih ...''


''Tentu. Pulanglah. Kamu masih menyimpan nomor ku bukan? Kalau perlu lagi hubungi saja!''


''Tentu Nis. Terimakasih banyak...''


''Sama-sama Tia..''


''Aku pulang. Assalamualaikum..''


''Waalaikum salam...'' sahut Annisa dengan tersenyum melihat Mutia pergi dengan senang dan tertawa.


Tama tersenyum melihat Annisa tersenyum. Begitupun dengan sang fotografer itu. ''Abanh beruntung bisa memiliki mu. Kamu masih mau berbagi dengan orang lain yang saat itu membutuhkan pertolongan mu..''

__ADS_1


Annisa Terkekeh namun, menangis. ''Adek ingat dulu kala Mak sama Abang begitu susah menghidupi adek. Jika bukan karena Papi Gilang, kami pasti sudah tidak hidup seperti sekarang ini...'' lirih Annisa sambil memeluk erat lengan Tama yang memeluknya dari belakang.


__ADS_2