Annisa Istri Kecilku

Annisa Istri Kecilku
Ayah Emil sedang sakit


__ADS_3

''Sayang.. Bunda mohon.. tolong Bunda Nak.. kasihan ayahmu. Bunda janji akan melunasi nya ketika udah dapat arisan nanti. Bunda mohon nak.. hiks.. bantu Bunda..''


Grep!


Deg!


''Astaghfirullah! Bunda!'' seru Annisa begitu terkejut dengan kelakuan Bunda nya ini. Yang sedang bersujud di kakinya.


Semua yang ada di sana pun terkejut melihat kelakuan Bunda Zizi yang sedang bersujud di kaki Annisa mengharap belas kasihan dari putri bungsu sang suami dnwh istri pertama nya. Mantan istri lebih tepat nya.


''Bangun Bunda! Kakak nggak mau Bunda kayak gini! Yang berhak disembah itu Allah. Bukan Kakak, Bunda! Bangun!'' seru Annisa masih dengan suara naik satu oktaf


Bunda Zizi swswguakn di kaki Annisa. Annisa semakin sakit melihat nya. ''Bangun Bun! Hiks..'' Isak Annisa melemah. Ia berjongkok dihadapan Bunda Zizi yang sedang memeluk kaki nya.


Ustadzah Hanim dan ustdzah Naina datang menemui Annisa. ''Ada apa Annisa? Siap ibu-ibu ini? Kenapa sampai bersujud sepeti ini?!'' tanya Ustadzah Hanim.


Semua yang ada disana mendekati Annisa yang sedang tersedu dan memeluk Bunda Zizi. ''Hiks.. bangun Bunda .. bangun.. hiks. Kakak akan membantu Bunda, tapi bunda bangun ya? Hiks.. Kakak mohon Bunda.. bangun.. hiks..'' Isak Annisa lagi.


Ia semakin tidak tega dengan melihat Bunda Zizi sampai mengemis padanya seperti ini. Semua yang ada disana mereka hanya menatap ketiga orang yang sedang menangis itu dengan tatapan iba.


''Nak...''


''Bangun Bun! Kakak akan menolong Bunda. Jangan gini. Ayo, kakak akan izin sama Ustdazah Hanim, hari ini juga kita akan kerumah sakit. Kakak ganti baju dulu ya? Ayo, bangun Bunda. Kakak akan tolong Bunda. Ayah Emil ayah kandung kakak. Mana mungkin kakak mengabaikan nya! Hiks.. bangun Bun....'' lirih Annisa masih dengan memeluk tubuh ringkih Bunda Zizi.


Bunda Zizi berhenti menangis. Ia mengurai tangannya dari kaki Annisa dan bangkit melihat Annisa. Tatapan itu begitu menyedihkan. Annisa tak kuasa untuk melihat nya.


Grep!


Annisa memeluk erat tubuh ibu tirinya ini. Ibu tiri yang selalu baik padanya. Saat pertama kali bertemu. ''Ayo, kita harus bergerak cepat! Jangan sampai terlambat!'' katanya pada bunda Zizi


Bunda Zizi tersenyum dan mengangguk. Ia kemudian menoleh pada Ustadzah Hanim dan men dekati wanita paruh baya sebagai ibu nya itu.


''Assalamu'alaikum ustdazah. Perkenalkan saya Bunda nya Annisa. Azizah. Istri kedua ayah Annisa setelah beliau bercerai dari Mbak Alisa. Saya datang kesini untuk meminta izin pada anda. Suami saya sangat ingin bertemu dengan Annisa di rumah sakit. Kalau boleh, saya ingin membawa Annisa dulu kesana untuk menemui ayahnya. Setelah selesai, saya antarkan kembali.'' Ucapnya pada Ustdazah Hanim.


Annisa mengangguk, beliau tersenyum. ''Tentu. Silahkan! Dua hari. Saya hanya bisa mengizinkan Annisa dua hari saja untuk menginap. Hari ketiga Annisa sudah kembali kesini lagi. Annisa sudah semakin padat jadwal ujian nya. Saya harap, anda mengerti Bu Azizah,'' ujar Ustadzah Hanim, Bunda Zizi mengangguk.


''Terimakasih Ustadzah .. tentu. Saya akan menghubungi Tama. Abang Annisa. Agar dia tau kalau Annisa saya bawa ke rumah sakit-,''


''Kerumah sakit?? Kakak ip-ehm Annisa Kenapa?? Siapa ?? Ada apa??'' tanya Mitha bertubi-tubi pada Semua yang ada disana.

__ADS_1


Annisa terkekeh kecil. ''Kamu siapa?'' Tanyak Bunda Zizi.


Mitha melihat wanita paruh baya yang masih cantik itu sedang memegang tangan Annisa. ''Saya adiknya Tama. Kamu mau kemana Annisa?? Siapa yang sakit? Ini siapa?'' tanya Mitha lagi.


Annisa terkekeh, ''Ini Bunda Zizi. Beliau ini istri ayah Emil yang sekarang. Beliau sedang sakit. Aku harus kesana. Abang ngggak ikut?''


Mitha menggeleng. ''Ya sudah. Biar aku hubungi Abang agar langsung kerumah sakit. Kita duluan saja. Tadi Ibu sama siapa kesini? Maksud aku, naik angkot, motor atau??''


Bunda Zizi tersenyum, ''Saya sama ojek kesini. Tuh, disana!'' tunjuk Bunda Zizi pada seorang paruh yang sedang berbicara dengan satpam pesantren yaitu Pak Hamdi.


''Hoo.. ya sudah. Kamu ganti baju dulu Annisa. Biar ku tunggu. Udah pamit kan ya sama Ustdazah Hanim??''


Annisa mengangguk, ''Sudah. Ayo, temani aku!'' katanya pada Mitha.


Mitha mengangguk, ''Bunda disini dulu ya? Kakak mau ke dalam bawa baju ganti untuk nginap di rumah sakit selama dua hari.''


''Ya, pergilah! Bunda tunggu disini saja sama Adek.''


''Oke. Ayo Mitha!''


''Let's go!'' sahut Mitha.


''Kakak pasti mau kok Mak. Tenang aja. Kakak itu gadis yang baik. Gitu kan kata ayah tadi??'' kata Bella pada Bunda Azizah.


''Ya, Mak tau itu. Kita tunggu saja.''


''Hem,'' sahut Bella


Sementara di dalam kamar Annisa dan Sarah, Annisa dengan segera mengganti baju seragamnya dengan gamis terusan berwarna biru muda dan hijab Senada. Tak lupa kaos kaki juga ia kenakan.


Sarah dan Mitha saling membantu. Mereka berdua memasukkan baju Annisa beberapa pasang untuk ganti, lengkap dengan dalamaan dan juga laptop tidak ketinggalan. Dompet Annisa yang berisi uang cash dan ATM pun tidak luput dari perhatian Sarah.


Semua itu siapkan sementara Annisa memakai bajunya. Setelah siap, Annisa mengucapkan terima kasih pada Sarah karena telah membantu.


Kemudian mereka berlari menuju keluar sebelum itu, ia pamit dulu dengan ustadzah Hanim. Baru setelahnya mereka berdua pergi menuju kerumah sakit yang berjarak sekitar dua jam dari pesantren Annisa jika menggunakan mobil.


Sedang dengan motor, cukup satu jam dua puluh lima menit mereka sudah tiba di rumah sakit. Mitha mengendarai motor nya sedikit ngebut.


Hingga hanya butuh waktu satu jam lima belas menit saja mereka berempat sudah tiba disana. Annisa, Mitha, Bunda Zizi dan Bella mereka berlarian di koridor rumah sakit.

__ADS_1


Akan tetapi Annisa berhenti, ia menyuruh Mitha dan Bunda Zizi untuk duluan masuk ke ruang inap ayah Emil. Sedang Annisa beralasan ingin ke toilet.


Padahal itu hanya bohongnya saja. Setelah ketiga orang itu berlalu Annisa mendekati resepsionis dan bertanya berapa biaya pengobatan ayah Emil selama dirawat di sana.


''Ehm, permisi suster!''


''Ya ada apa dek?''


''Berapa biaya perawatan atas nama Bapak Milham Syahputra?'' tanya Annisa dengan sedikit rasa cemas. Takut-takut uang yang ada di rekeningnya tidak mencukupi.


''Suster itu tersenyum, ''Adek ini siapanya Pak Milham??''


Annisa tersenyum, ''Saya putrinya dari istri pertama beliau. Yang tadi itu Bunda saya. Istri kedua ayah saya.'' jelas Annisa


''Baik. Biaya perawatan Khusus paru-paru dan juga biaya obat dan kamar inap berjumlah 85 juta 3 ratus 43 rupiah. Itu sudah semua dengan obatnya. Beliau akan dirawat disini sampai sembuh. Itu keseluruhan biaya nya. Jika nanti ada tambahan obat, maka kami akan mengabarkan keluarga beliau kembali.'' Jelas suster itu


Annisa bernafas lega. Ia pikir kurang tadi. Bahkan lebih. ''Alhamdulillah.. saya punya uangnya tapi pakai ini, bisa??'' kata Annisa dengan menunjukkan kartu tipis pada suster itu.


Suster itu terkejut. Ingin menolak, tapi melihat wajah Annisa begitu meyakinkan. ''Baiklah. Tapi saya cek dulu ya berapa saldo kamu?'' katanya masih tidak percaya pada Annisa.


Annisa terkekeh, ''Silahkan!'' sahutnya masih berusaha ramah.


Dengan segera suster itu menggesek kartu itu di papan gesek kartu khusus ATM. Ia menyuruh Annisa untuk menekan kode pin nya. Dan ia menunggu sebentar.


Klik.


Suara mesin kecil itu.


Deg!


Deg!


''Apa?!''


💕💕💕💕💕


Hayo. Kenapa itu? Berapa kira-kira saldo di rekening Annisa hingga suster itu terkejut bukan main??


Ikutin terus kelanjutan nya! 😉

__ADS_1


Like dan komen kembang nya juga. Othor tunggu ye?


__ADS_2