
Deg!
''Tidaaaaaaaaaaaakkkkk!! Bangun Abang!!!'' Pekik Mitha dengan panik.
''Hiks.. enggak! Abang nggak boleh mati!! Bangun!! Adek bilang bangun!!!'' sentak Mitha pada tubuh Tama yang tidak berdaya.
Mitha panik, ia tidak tau harus berbuat apa. ''Abang! Bangun Abang! Astaghfirullah! Tubuhnya panas!! Aaaaaaaaaa.. bang Anto oooooo.. hiks bang Anto! Ya, bang Anto!'' serunya dengan segera bangkit dan mengambil ponsel Tama.
Dengan segera Mitha mendial nomor Anto. Tetapi sayang, nomor itu tidak kunjung dijawab. Masuk, tetapi tidak diangkat. Hingga membaut Mitha gelisah tidka menentu. Makan Tama yang saat harus dibawa ke rumah sakit, pikir nya.
''Angkat Bang!'' serunya masih dengan panik. Nomor Anto berusaha ia hubungi. Tetapi nomor itu tidak kunjung di jawab. Hingga membuat Mitha panik bukan main.
''Tidak di angkat, mobil! Ya mobil! Tapi siapa yang membantu ku mengangkat Abang?! Hiks.. Abang... bang Anto....'' lirihnya kembali duduk di dekat Tama dan memeluknya kembali dengan terisak.
Saat Mitha tersedu dengan memeluk tubuh lemah Tama, terdengar suara deru mesin motor yang baru saja masuk di depan rumah Tama.
Anto berlaku masuk keruang itu yang pintunya terbuka dengan lebar. ''Hiks.. hiks.. bang Anto!! Adek harus apa?! Huaaaaaaaa... Abang!!!!'' Raung Mitha di atas sana
Anto yang baru saja masuk dan ingin mengucapkan salam terkejut. ''Mitha! Abang!!'' serunya dengan berlari menuju kamar Tama yang berada diatas sana.
Anto berlari seperti dikejar angin. Saking kencang nya, anak tangga itu ia langkahkan seperti terbang saking paniknya.
Braaakkk..
''Astaghfirullah!'' pekik Mitha karena terkejut.
Anto yang baru saja tiba dengan menggebrak pintu kamar Tama pun mematung melihat sang istri dan Tama kini tergeletak tidak berdaya di lantai nan dingin.
__ADS_1
''Ke-kenapa?! Abang kenapa sayang!'' tanya nya dengan terkejut.
Nafasnya masih memburu. Tetapi ia mencoba mendatangi Tama yang saat ini tidur dengan mata yang terpejam.
''Abang pingsan setelah puas meraung dan memanggil kakak ipar. Kakak ipar meninggal kan surat ini untuknya. Hiks.. ayo kita bawa Abang ke rumah sakit. Abang sakit parah Bang!'' seru Mitha pada Anto.
''Ba-baik! ayo bantu Abang agar bisa memapah bang Tama dengan cara di gendong belakang saja. Kamu yang pegang tubuhnya. Mana kunci mobil Abang?''
''Ada. Itu dibawah di lemari nakas dekat tivi tadi adek letakkan. Ayo!'' ajaknya pada Anto.
''Ya,'' sahutnya dengan segera membalik tubuh Tama dan mendudukkan nya.
Sangat sulit. Karena Tama yang sudah tidak sadarkan diri membuatnya kepayahan. Tetapi mereka berdua berjuang bersama. Dan akhirnya bisa.
Saat ingin menutup pintu, tidak sengaja Mitha melihat perhiasan Annisa. ''Tunggu Bang! Bersandarlah dulu di dinding. Adek ingin menyimpan perhiasan kakak ipar di lemari!''
Mitha segera menyimpan perhiasan itu di lemari. Tetapi tidak dengan ATM. Ia butuh ATM itu untuk membayar biaya pengobatan Tama nanti dirumah sakit.
Mitha sempat mengambil berapa pasang baju Tama, CD dan juga sarung nya. Ia masukkan ke dalam ransel kecil milik Annisa. Setelahnya ia berlalu mendekati Anto yang kini semakin kepayahan membopong tubuh Tama yang tidak berdaya.
''Ayo, semuanya sudah siap!''
''Ya,'' sahut Anto.
Dengan segera mereka bertiga pergi menuju kerumah sakit terdekat untuk mengobati Tama yang sakit entah karena apa. Yang Mitha rasakan hanya panas di sekujur tubuhnya.
Cukup sepuluh menit saja mereka bertiga sudah tiba dirumah sakit. Anto turun dan memanggil dua orang perawat laki-laki serta bangkar untuk membawa Tama .
__ADS_1
Setelahnya Tama pun dibawa masuk ke dalam rumah sakit dan langsung ditangani oleh dokter.
Anto dan Mitha menunggu dengan gelisah. Sudah setengah jam Tama belum juga sadarkan diri. Begitu pun dengan dokter yang merawat nya.
Mereka pun belum keluar dari ruangan Tama. Saat keduanya sedang dilanda bingung, ponsel Tama berdering. Membuat Mitha terlonjak kaget.
''Astaghfirullah!! Papa!!'' serunya hampir saja ponsel itu terjatuh jika tidak Anto yang menangkap nya dengan cepat.
''Angkatlah. Papa dan Mama harus tau.''
''Ya, ha-hallo Papa, assalamualaikum..''
''Assalamu'alaikum nak? Abang kamu mana? Papa kok khawatir nya sama dia? Mana Tama?'' tanya Papa Fabian pada Mitha
''A-ada. ta-tapi Abang di-dirumah sakit!''
''Apa?!!?!'' seru suara dibalik ponsel itu membuat Mitha terlonjak lagi saat mendengar pekikan Papa Fabian dan Mama Linda yang bersama an. Sampai-sampai Mitha menjauhkan ponsel itu dari telinganya.
''Papa sama Mama kesini ya? Nanti Mitha ceritakan. Ya, sama bang Anto. Abang masih ditangani.. Baik. Kami tunggu! Waalaikum salam..'' sahut Mitha dengan segera duduk di samping Anto.
''Sabar.. Abang saksi dari kejadian itu. Jangan khawatir. Papa dan Mama tidak akan marah kok. Percaya sama Abang, hem?'' ucap Anto menenangkan Mitha yang kini bersandar di dada bidangnya.
Mata Mitha terpejam tetapi air bening itu tetap mengalir disana. Anto mengusap nya dengan lembut. Ia memeluk erat tubuh sang istri yang begitu panik saat melihat keadaan Abang kandung berbeda ibu dengannya.
💕
Othor berharap akhir bulan end. Tetapi jika tidak, berarti lanjut bulan depan lagi. Kalian tetap ikutin othor ye?
__ADS_1
Jan lupa mampir di karya othor yang lainnya. Like dan komen!