Annisa Istri Kecilku

Annisa Istri Kecilku
Salah


__ADS_3

Dalam perjalanan Tama merasa kesunyian.Sunyi karena cintanya mengabaikan dirinya. Untuk menghilangkan kejenuhan di hati dan pikirannya, Tama memutar saluran radio terkenal di kota Medan.


Baru pertama kali membuka suara itu sudah di suguhkan dengan lagu yang berjudul salah.


Sepanjang perjalanan cinta mu


Kau bilang aku yang paling tangguh


Tapi mengapa kau tinggalkan aku


Dengan alasan yang tak jelas..


*


Apa aku pernah mengeluh


Apa aku pernah berlari


Saat kau ada masalah


Apa aku pernah mendua


Tama menggigit bibirnya. Sedangkan Annisa tersedu di dapur seorang diri. Ia pun sama. Sedang mendengarkan lagu yang sama seperti Tama.


Sayang, kau menilaiku salah..


Annisa tersedu. Walau dengan dengan terus menangis, ia berusaha membersihkan pecahan kaca yang berserakan dilantai.


Setelah tadi ia pergi kebelakang untuk mencari tong sampah, Annisa mematung berdiri di depan kulkas melihat sesuatu yang tertempel disana.


Matanya mengembun. Ia terisak, saat menyadari dirinya bersalah terhadap Tama. Abang angkat sekaligus Suami tercintanya.


''Ma-maaf.. hiks ..''


Ia sengaja menyetel suara radio yang ada diruang tamu Tama untuk mengusir kesunyian ketika Tama pergi tadi. Namun, tanpa di duga Annisa mendengar lagu yang begitu membuatnya bersalah, sesuai dengan judul lagunya.


Sepanjang perjalanan cinta mu


Kau puji aku setiap waktu


Tapi kenyataannya berlawanan


'Ku tak pernah mengeluh..


Apa aku pernah berlari


Saat kau ada masalah


Apa aku pernah mendua


Apa aku tak mengimbangi mu..


Sayang, kau menilai ku salah


Salah


Salah


Salah...


Tama menepikan mobilnya, ia duduk termenung di kemudi mobil. Ia telungkup kan wajahnya pada setir mobil.


Ia terisak disana. Inilah diri Tama yang sebenarnya. Lelaki yang sangat perhatian kepada siapa saja.


Lembut dan penyayang. Ramah kepada siapa saja, baik yang dikenal walaupun yang baru saja dikenalnya.


Tama pemuda humble. Pemuda yang mudah bergabung dalam keadaan apapun. Ia sangat di sukai oleh siapa saja.


Terutama para wanita. Makanya, terkadang para gadis yang sering Tama dekati hanya sebagai teman memilki rasa terhadap nya.


Apakah itu salahnya?


Tidak. Ia tidak salah. Memang seperti itulah dirinya yang sesungguhnya. Lagi pun, semua orang sudah tau jika Tama gagal menikah dengan calon istrinya.

__ADS_1


Entah karena apa, mereka pun tidak tau. Yang jelas berita itu sudah tersebar ke seluruh penjuru kota Medan.


Siapa yang tidak kenal dengan Adrian Pratama. Putra kandung Fabian Pratama. Pengusaha sukses di bidang otomotif dan memiliki banyak cabang showroom.


Cabang terbesar mereka ada di jalan pondok indah permai. Searah dengan jalan rumah Mak Alisa. Hanya berjarak lima belas menit saja dari tempat Tama untuk sampai ke rumah Mak Alisa.


Ia memegang teguh ajaran agama. Walau terkadang ia sering ceroboh. Seperti Selly kemarin yang mencoba menciumnya di depan umum.


Ia tau itu salah. Tapi terpaksa menerima perlakuan Selly yang ia tau gadis yang tidak pantang mundur sebelum mendapatkan apa yang ia mau.


Dan terbukti kan? Entah dari mana Selly bisa tau jika Tama memiliki rumah di sebelah showroom mereka, Tama pun tidak tau.


Yang jelas, gadis itu lah penyebab keretakan hubungan nya dengan Annisa. Tapi ia bersyukur dengan satu hal.


Bahwa selama ini Tama selalu saja memberikan perhatian-perhatian kepada lawan jenisnya yang ia tidak tau akan berakibat fatal pada hubungan nya dan istri kecilnya.


Ia masih duduk tepekur di dalam mobil itu dengan kepala ia telungkup kan ke bawah. Sesekali terdengar suara isakan.


Dirasa cukup, ia mengusap air matanya dengan tisu yang ada di dashboard mobilnya. Setelah nya ia mulai melajukan mobil ke showroom nya yang satu lagi.


Yang berada agak jauh dari showroom utama miliknya. Tiba disana, ternyata barang-barang yang ia tunggu sudah tiba.


Dengan segera Tama menemui Anto yang sudah terlebih dahulu ada disana.


*


*


*


Malam harinya.


Tama pulang dari showroom cabang sudah larut. Pukul sebelas malam. Saking sibuknya dengan semua barang yang baru masuk itu, ia sampai lupa dengan makan malam.


Tubuhnya begitu lelah. Ia masuk ke pekarangan rumah yang sudah gelap. Terlihat cahaya lampu dari dalam sudah padam.


''Pasti sudah tidur. Percuma dong? Bawa pulang roti bakar kalau orangnya sudah tidur. Ya Allah.. lelah sekali tubuhku. Cocoknya ini di pijat. Hadeeeuuhh.. pekerjaan tak ada habisnya!'' gerutu Tama sambil terus berjalan.


Ia merogoh kunci dalam saku celana jeans nya. Kunci serap rumah mereka.


Pintu terbuka. Hawa di dalam rumah itu begitu sejuk. Tama merinding. Namun, setelah itu ia terkekeh.


''Dasar! 'kan ada Annisa di rumah? Ya jelaslah dingin! Wong, dianya yang nyalakan AC?? Ck!'' Tama berdecak sebal.


Ia melangkah masuk ke dalam rumah. Saat melewati dapur, ia tertegun. Tama mematung melihat seseorang disana sedang membelakangi nya dengan tangan sibuk mencuci piring.


Ia hanya memakai baju tidur bermotif bunga-bunga dari bahan kain satin. Dengan kancing berada di depan. Sedangkan celananya pendek selutut.


Rambut ia Cepol ke atas, meninggalkan beberapa helai anak rambut di sekitar tengkuk dan telinga nya.


Tama tertegun. Ini pertama kalinya melihat Annisa tidak menggenakan hijabnya sama sekali di depan nya.


Senyum di bibir Tama tertarik lebar. Tanpa di duga kaki itu melangkah menuju seseorang itu.


Sedangkan Annisa yang sudah siap mencuci piring, ia mengelap tangan dan berbalik.


Deg!


''Astaghfirullah!!! Abang!!!'' serunya begitu terkejut.


Ia sampai mundur kebelakang hingga membentur westafel. Bukannya menolong, Tama malah tertawa.


Annisa mengelus dadanya dengan bibir mencebik kesal. Tama masih saja tertawa. Dengan segera ia mendekati istri kecilnya.


Cup!


Annisa memejamkan kedua matanya. ''Assalamu'alaikum istri Abang yang cantik?'' ucap Tama pada Annisa.


Annisa tersenyum, ''Waalaikum salam, Abang bawa apa??'' tanyanya begitu senang melihat sesuatu di tangan Tama.


Tama terkekeh, ''Salim dulu Sayang! Jangan bawaan nya dulu atuh!'' tegur Tama pada Annisa.


Ia mencubit hidung bangir Annisa. Annisa nyengir kuda. ''Hehehe... habisnya kalau Abang pulang, kan adek selalu nungguin Abang seperti ini??'' katanya dengan segera mengambil bungkusan dari Tama yang sudah Tama sodorkan di depannya.

__ADS_1


Tama tersenyum, ia mengikuti Annisa yang sedang berdiri di meja dan membuka bungkusan itu.


''Roti bakar! aseekkk..'' seru Annisa kegirangan.


Tama terkekeh, ia sengaja berdiri di belakang Annisa. Annisa berbalik dan..


Cup.


Cup.


Cup!


''Upah untuk Abang karena udah nyenengin istri!'' ucapnya pada Tama yang berdiri mematung Karena mendapat serangan tiba-tiba dari Annisa.


Annisa mengambil sepotong roti bakar itu dan berbalik. Ia menyuapi Tama terlebih dahulu. Tama masih menatap Annisa dengan tatapan yang entah seperti apa.


''Abang. Aaa.. di buka atuh mulutnya! Kok bengong sih?'' tegur Annisa dengan bibir mengerucut sebal.


Karena sudah dua kali ia menegur suaminya itu, namun Tak ada respon sama sekali. Kesal, Annisa menggigit sedikit roti itu dan ia majukan sedikit wajahnya pada Tama.


Tama terkejut. Mulutnya menganga ingin berbicara.


Cup.


Hap.


Tama terkejut lagi saat merasakan kecupan itu disertai dengan roti masuk ke mulutnya. Tama semakin melototkan matanya.


Annisa terkikik geli. Tama mengunyah roti itu. Annisa tertawa. Annisa berbalik lagi, ia menyuapi Tama lagi dengan roti itu.


Ia terima, namun masih dengan wajah bengong. Dengan segera Annisa menariknya agar duduk di kursi sebelah nya.


Tama menurut. Dan Annisa pun ingin duduk, tapi belum lagi Annisa bergerak, tubuhnya sudah jatuh terduduk di pangkuan Tama.


Annisa terkejut. Tama mengeratkan pelukannya. Tak ada yang berbicara. Keduanya terdiam untuk meresapi debar jantung yang sudah menggila sedari tadi.


''Maafkan Abang sayang.. Abang salah padamu karena telah mengizinkan Selly untuk masuk kerumah ini.. maaf..'' lirih Tama di telinga Annisa yang tepat berada di depan wajah nya.


Annisa merinding. Bulu halusnya berdiri. Annisa berbalik dan menoleh pada Tama. Ia memutar tubuhnya menjadi duduk berhadapan dengan Tama.


Ia menatap wajah tampan Tama yang begitu lelah.


Cup.


Cup.


Cup.


Cup.


Annisa mengecup seluruh wajah Tama. Tama membiarkannya saja. Karena inilah yang ia inginkan. Annisa nya telah kembali seperti dulu lagi.


''Buka mata Abang! Lihat adek!'' Tama membuka matanya.


Annisa tersenyum, manis sekali. Tama pun ikut tersenyum. ''Seharusnya adek yang minta maaf. Bukan Abang. Abang nggak salah. Benar kata kak Selly. Kalau adek masih labil. Maaf .. tadi adek melukai dada Abang.. maaf.. adek hanya nggak suka saja Abang duduk bersama dengannya. Abang melupakan ku saat bersama dengan yang lain..''


Deg!


Jantung Tama berdenyut sakit. Ia memeluk tubuh Annisa yang sudah mendekapnya lebih dulu.


''Adek sayang sama Abang. Makanya adek nggak suka melihat Abang bersama wanita lain, apakah adek salah??''


''Kamu tidaklah salah sayang. Tapi Abang yang salah. Maafkan Abang.. Abang terlalu banyak melukai mu. Maaf...'' ucap Tama masih dengan memeluk tubuh Annisa.


Annisa terisak lagi. Tama semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh kecil Annisa namun begitu padat saat di peluk.


''Kita sama-sama salah Sayang.. sama-sama salah..''


💕💕💕💕


Besok lagi ye?


Ingin tau kapan waktu update adek Annisa?

__ADS_1


Yuk, follow akun othor!


Nanti kalian bisa bergabung disana dengan yang lain. Dan kita bisa membahas bersama tentang cerita adek Annisa ini. 😘


__ADS_2