Annisa Istri Kecilku

Annisa Istri Kecilku
Rencana pernikahan Mitha


__ADS_3

''Mitha??'' panggil Annisa setelah sekian lama.


Mitha yang masih kesal melengos. Ia tidak ingin melihat kedua pasangan itu. Rasa kesalnya melebihi ubun-ubun nya saat ini.


''Sayang...'' kini gantian Tama yang memanggil Mitha. Tetap saja. Mitha tetap melengos. ''Ngambek neng??'' seloroh Annisa pada Mitha.


Tetap saja Mitha masih kesal kepada kedua orang itu. Annisa mengambil jalan tengah untuk berbicara pada murah secara serius.


''Mitha!!'' panggil Annisa dengan tegas.


Mitha menoleh. ''Apa!'' ketusnya.


Tama terkekeh, Annisa mendelik sengit pada Tama. Ia terdiam. ''Dengarkan Mitha. Saya berbicara serius kepada kamu saat ini!''


Deg!


Mitha terkejut mendengar suara tegas Annisa. Tubuhnya membeku saat melihat tatapan tajam nan serius dari Annisa.


''Abang...'' lirihnya dalam hati.


Ia melihat Annisa begitu mirip dengan Tama jika sedang serius seperti itu. ''I-iya Kak!'' sahut nya tergagap.


Tama mengulum senyum, ia tidak ingin melihat adiknya itu. Ia membuang muka ke arah lain. ''Sudah bisa kita bicara??'' tanya Annisa pada Mitha.


Mitha mengangguk, tatapan Annisa begitu mengintimidasi nya saat ini. ''Baik, mengenai acara pernikahan mu. Sebaiknya tanya dulu sama Anto. Waktu libur ku sudah jelas. Empat bulan setengah dari sekarang. Tapi untuk pernikahan mu. Butuh persetujuan dari nya. Besok, tanyakan ini padanya. Jika ia, maka kita harus mempersiapkan semuanya sedari sekarang!'' tegas Annisa pada Tama dan Mitha.

__ADS_1


Tama tersenyum, ''Tentu sayang. Apapun yang menjadi keinginan mu, Abang turuti.''


Mitha lagi dan lagi tertegun. Kakak ipar kecilnya ini begitu tegas dalam bersikap. Aura nya itu begitu mirip dengan Tama. Benar kata orang, kalau mereka jodoh. Sedikit tidaknya pasti ada kemiripan. Bukan hanya dari wajahnya saja.


Mitha menatap Annisa dengan serius. ''Baik, besok akan aku tanyakan sama bang Anto. Semoga ia tidak menolak ku. Memang, sedari dulu ia sudah mengatakan hal ini. Kalau suatu saat aku lulus kuliah dan pulang kembali ke Medan, maka ia akan melamarku langsung pada Abang. Bukan Papi Fabian..'' lirih Mitha dengan menundukkan kepalanya


Annisa mengernyitkan dahinya bingung, ''Kenapa harus bang Tama? Kalian berdua itu masih punya Papa. Dan wali sah untuk menikahkan mu. Selagi beliau tidak sakit, uzur dan seorang muslim yang taat beribadah salah satunya sholat, maka Papa Fabian lah yang berhak menikahkan mu. Bukan Abang Tama. Bang Tama itu menjadi cadangan kedua jika Papa Fabian itu sudah meninggal atau tidak hadir ataupun tidak bisa melakukan nya di karenakan ada hal yang lain!''


Mitha mendongak menatap Mitha. ''Iyakah?? Tapi kan, ada Abang yang bisa menjadi perwakilan untuk menikahkan ku ya Kak??'' tanya Mitha pada Annisa.


Ia masih kebingungan dengan penjelasan Annisa. ''Maksudnya, bang Tama boleh menikahkan kamu, kalau Papa Fabian sudah tiada dan uzur. Apakah Papa Fabian sudah uzur saat ini?'' Mitha menggeleng


''Papa Fabian masih hidup bukan??'' tanya Annisa lagi, membuat Mitha mengangguk lagi.


''Kemudian apakah Papa sering bepergian bersama Mama Linda sekarang ini??'' Mitha menghendik kan bahu nya tak tau.


''Dengar Mitha. Secara hukum yang berhak menikahkan mu dengan calon suami mu, Hanya Papa Fabian saja. Beliau masih sehat. Belum meninggal, Tidak uzur, tidak bepergian, tidak juga sedang sakit. Beliau wali yang sah yang harus menikahkan mu. Beliau rajin sholat. Salah satu syarat wali yang akan menikahkan seorang wanita itu harus lah sholat jika tidak, maka akan dianggap kurang sah. Akan tetapi, jika si ayah mempelai tidak bisa dan tidak rajin ibadah, maka beliau tidak berhak menikahkan mu. Dan beliau harus mewakilkan kepada wali hakim pengganti dirinya.''


''Dan bang Tama itu sebagai cadangan. Selagi Papa Fabian masih hidup, bang Tama tidak bisa menikahkan mu. Karena beliau masih ada dan masih hidup. Terkecuali dengan sabab yang sudah aku jelaskan tadi.'' jelas Annisa membuat Mitha mengangguk.


''Hoo.. begitu ya? Tapi.. apa Papa mau menikah kan aku bang??'' tanya Mitha pada Tama.


Tama tersenyum, ''Tentu. Kamu juga kan Putri Papa? Walau pun kita berbeda Mama, maka kamu tetaplah adikku. Adikku kandungku satu ayah tapi berbeda ibu.'' Jelas Tama lagi membuat Mitha semakin tau.


''Baiklah, nanti sore sepulang dari sini Akau akan datang menemui bang Anto. Beliau sudah tidak pulang orang tua. Lantas, siapa yang akan menjadi orang tua pengganti untuknya nanti??''

__ADS_1


Tama tertegun, tapi Annisa tersenyum. ''Tenang... kakak sudah punya solusinya. Adek minta ponsel Abang. Ingin menghubungi Mak sama Papi!'' kata Annisa pada Mitha dan Tama sekalian.


''Mak sama Papi??''


''Ya, Mak sama Papi! Beliau berdua yang akan menjadi wali Bang Anto. Seharusnya laki-laki itu tidak butuh wali. Dia bisa berdiri sendiri tanpa wali. Namun, kita butuh orang tua untuk mengantar nya ke acara resepsi mu nanti. Makanya, kita ambil jalan tengah. Kalau kedua orang tua ku yang akan menjadi kedua orang bang Anto nanti.'' kelas Annisa membuat Tama dengan segera memeluk tubuh eratnya.


Begitu juga dengan Mitha. Ia mengisi terharu karena ucapan Annisa begitu bijak padanya. ''Hiks .. Terimakasih Kak! Terimakasih! Aku sempat berpikir tidak tenang saat mengetahui jika kedua orang tua bang Anto sudah tiada. Hanya ada saudara jauhnya. Itupun berat jika mereka akan datang nanti. Terimakasih Kak. Kamu memecahkan masalahku ini, hiks. Sayang kakak ipar kecilku!''


Annisa melototkan matanya, setelah itu ia ikut terkekeh. ''Tentu. Kamu sekarang adik besar ku! Sudah kewajiban ku untuk memecahkan masalahku dan juga membantu di setiap kesulitan yang kamu hadapi. Sebagai kakak, aku hanya bisa memberikan jalan. Dan nasehat yang baik untukmu. Aku sedang berusaha menjadi ipar yang baik untukmu. Semoga kamu betah bersaudara dengan kakak ipar kecil mu ini!''


Tama tertawa begitu juga dengan Mitha. Tama begitu bangga memiliki Annisa sebagai istrinya. Wajah usia masih kecil, tapi pemikiran sudah dewasa setara dengannya.


''Hemmm... dengannya punya istri dewasa seperti kamu. Abang beruntung bisa memilki mu. Dan Abang juga tidak kecewa jika kamu masih kecil. Abang bersyukur karena di jodohkan dengan mu. Abang tidak menyangka saja, jikalau bayi perempuan yang begitu cantik ketika dilahirkan hampir delapan belas tahun silam merupakan jodoh masa depan Abang.''


''Abang sempat mengira jika selena lah yang akan menjadi istri Abang. Walau dalam hati, abang yakin. Kalau Annisa adlah jodoh terakhir Abang. Dan ya. Semua itu terbukti. Kita berdua memang sudah terikat sedari kecil. Pernikahan rahasia kitamemang sudah di takdir kan. Dengan cara seperti itu, kiat berusaha di pertemukan dan mahligai rumah tangga. Abang harap, kamu tidak berubah sama pria tua kamu ini. Abang sangat menyayangi mu. Sangat, sangat menyayangimu sayangku.'' Lirih Tama sembari memeluk erat tubuh chubby Annisa yang begitu membuatnya nyaman.


Mirah terharu. Lagi dan lagi air mata itu jatuh tanpa di duga. Ia tak menyangka pasangan beda usia itu bisa seakur itu.


Annisa membalas pelukan Tama tak kalah erat. Di kejauhan sana ada sepasang mata bola yang sedang menatap tajam pada pasangan beda usia itu.


Mitha tau itu. Tapi ia tidak peduli. Baginya, Azura itu bukan lawannya. Mitha pernah berhadapan lebih parah dari Azura. Mengingat itu, Mitha terkekeh.


''Kalau begitu, kami harus segera pulang. Kakak sudah di tunggu oleh Ustadzah Hanim sedari tadi. Beliau sengaja memberikan waktu pada kalian berdua agar berbicara dari hati ke hati. Dan ya. Tugasku sudah selesai! Tinggal menunggu tugasmu kakak ipar! Besok, aku akan kesini sendiri. Adek pinjam motor Abang ya?'' pinta Mitha pada Tama.


Tama tersenyum dan mengangguk. ''Tentu. Pakai lah. Motor itu kakak iparmu yang sering menggunakan nya. Abang sesekali sih kalau jalanan macet aja. Selebihnya, ratu ku ini yang berkuasa!''

__ADS_1


Annisa tertawa. Begitu juga dengan Mitha. ''Oke. Kita pulang Abang! Ngantuk! Adek ngantuk! Perut pun kenyang! Hah.. nikmat mana lagi yang aku dustakan?? Hah. Tidak ada.'' celutuknya membuat Annisa dan Tama tertawa-tawa karena ucapan nya itu.


__ADS_2