Annisa Istri Kecilku

Annisa Istri Kecilku
Terimakasih, Nak.


__ADS_3

''Astaghfirullahal'adhimm....'' lirih ayah Emil di bangkar nya. Annisa menoleh kepada ayahnya yang sudah terjaga itu.


''Ayah kenapa bangun ? Mau ke kamar mandi??'' tanya Annisa pada Ayah Emil.


''Tidak ada, Nak. Lanjutkan saja. Ayah hanya sedang terkejut saja tadi. Ayah tidur lagi aja.'' Jawabnya. Dengan segera tubuh lemah itu berbaring kembali.


Annisa bernafas lega melihat semua itu. ''Sudah, jangan di bahas lagi masalah itu. Sekarang kan sudah damai?''


''Ya, Abang memaafkan Arta. Karena Abang menyayanginya. Tapi untuk kembali ke rumah, Abang tidak bisa. Abang ingin di bengkel bersama bang Tama saja. Sambil mencari pengalaman kerja. Dan juga bisa bantu Abang nantinya. Upahnya akan Abang berikan sama Mak untuk biaya makan mereka berempat. Malamnya baru Abang menulis.'' Ujar Syakir sedikit lirih hanya terdengar oleh Annisa dan Arta saja.


''Oke. Ayo kita lanjutkan. Kamu juga Dek. Sore ini pulang aja sama Bunda. Besok, baru balik lagi kesini, hem?''


''Ya,'' sahut Arta.


Setelahnya mereka bertiga mulai mengerjakan PR sekolah yang harus di kumpulkan besok pagi. Annisa bisa menilai kepintaran kedua adiknya ini.


Jika Syakir jago melukis, Arta malah jago sekali berhitung. Annisa sampai terkekeh dibuat nya. Karena jawabannya dari Arta itu benar semua.


Sedangkan untuk pelajaran bahasa, Arta sedikit oleng. Syakir pula yang bisa. Benar kata orang, setiap orang itu memiliki bakat terpendam sejak mereka lahir.


Bakat itulah yang nantinya akan membawa peluang untuk mereka menghasilkan uang. Seperti Annisa. Bahkan Annisa sudah berhasil dengan menulisnya selama hampir dua tahun ini.

__ADS_1


Begitu banyak pengikutnya dari yang dulu hanya sepuluh orang , kini puluhan ribu. Syakir sampai terkaget melihat nya.


''Ini akun Kakak?? AnTa02? Annisa bang Tama berdua??''


Annisa tergelak keras. Sampai-sampai ayah Emil dan Bunda Zizi yang sedang termenung pun ikut berlari ke dalam ruang inap. ''Kenapa? Ada apa??'' tanya Bunda Zizi kebingungan.


Syakir dan Arta terkekeh. ''Tidak ada apa-apa Bunda. Hanya saja kami sedang menonton film lucu. Iya kan Dek??''


''Hooh. Bener itu Mak. Ayo kita pulang? Besok Abang harus kesini lagi. Abang mau belajar banyak sama kakak. Jarang-jarang bisa berkumpul bersama disini. Kalau nggak gini kakak sering kali nggak bisa kemana-mana. Ya Mak? Ayo!'' ajak Arta pada bunda Zizi.


Bunda Zizi tersenyum, ''Baiklah, baiklah. Kak.. bunda tinggal dulu ya? Besok pagi bunda balik lagi saat jam besuk di buka. Ayah, Mak pulang ya? Sudah ada disini Annisa dan Syakir. Kalau butuh sesuatu pinta aja sama mereka berdua.''


Ayah Emil tersenyum. ''Tentu, pulanglah. Apa kamu sudah melunasi biaya rumah sakit sayang?''


Ayah Emil melotot. ''Dek!'' tegur ayah Emil sambil menggeleng.


Annisa tertawa. ''Tak apa Yah. Memang benar adanya bukan? Kalau bang Tama itu sudah tua??''


''Astaghfirullah! ini anak sama aja kayak bunda nya. Udah ah. Jangan ngomong gitu. Kamu juga Sayang! Udah, pulang sana!'' ketus ayah Emil kesal kepada Bunda Zizi.


Annisa semakin tertawa terbahak melihat wajah Ayah Emil mendadak kesal dan marah seperti itu. Jarang-jarang Annisa bisa melihat reaksi sang ayah jika sedang kesal seperti itu. Annisa sangat sadar diri.

__ADS_1


Bunda Zizi terkikik geli, setelahnya ia berlalu pergi setelah menyalami ayah Emil terlebih dahulu. Bunda Zizi terus saja berjalan menuju lobi. Tiba di lobi, bunda Zizi berpapasan dengan Tama.


Keberuntungan untuknya saat ini. Ini kesempatan nya untuk mengucapkan terimakasih pada Tama. ''Nak, sini dulu. Bunda mau ngomong sebentar sama kamu.'' Ucapnya pada Tama.


Tama kebingungan. ''Kemana Bunda? Abang mau ngantar ini loh.. pesanan adek tadi. Katanya nggak mau tidur di lantai, masuk angin Katanya.'' Tama terkekeh mengucapkan hal itu.


Bunda Zizi pun ikut terkekeh, ''Bunda mau mengucapkan terimakasih sama kamu. Karena kamu sudah membayar biaya pengobatan ayah. Terimakasih, Nak..'' ucapnya begitu tulus.


Tama tertegun. ''Kapan aku membayar uang pengobatan ayah? Sementara Aku aja datang saat Mitha tadi menghubungi. Lalu siapa yang membayarnya? Apakah... Annisa? Kamu Sayang?? '' gumam hati Tama.


Ia mencoba tersenyum pada Bunda Zizi walau terasa sangat kaku. Bunda Zizi tau itu. ''Kenapa? Ada yang salah sama ucapan Bunda??'' tanya Bunda Zizi karena melihat wajah Tama seperti kebingungan.


''Nggak Bunda. Iya, sudah menjadi kewajiban Abang untuk membantu ayah. Bunda dan ayah kan orang tua Abang juga??'' jawab Tama dengan tersenyum lembut menatap Bunda Zizi.


Bunda Zizi pun ikut tersenyum, ''Bunda janji, setelah uang arisan Bunda keluar dua bulan lagi, Bunda kembalikan uang kamu, Nak. Ayahmu butuh biaya yang tidak sedikit. Uang simpanan Bunda udah bunda setor kesana semua. Jadi ya..''


''Usah di pikirkan Bunda. Abang ikhlas kok. Jangan diganti! Abang tadak menerimanya! Simpan uang itu untuk biaya sekolah Syakir, Arta serta Bella. Kalau kurang, nanti Abang transfer lagi. Yang penting ketiga adik kami bisa sekolah. Bunda jangan khawatir kan tentang Masalah uang, oke? Abang ikhlas! Dan Abang tidak mau meminta kembali uang itu! Titik!'' tegas Tama membuat mata paruh baya itu berkaca-kaca.


💕💕💕💕


Ritual nya jangan lupa ye?

__ADS_1


Like, komen, kembang, vote dan rate othor tunggu! 😒 ✌️✌️


__ADS_2