
Sebenarnya bab ini sudah othor tulis tadi malam. Tapi entah gimana ceritanya hilang gitu aja saat othor refresh kembali hape nya. Hiks.. ketik ulang lagi dah.. pasti akan beda dari tadi malam. 😥
Happy reading...
''Sudahlah nak, jangan mempermalukan dirimu dengan terus berbicara dihadapan mereka yang tidak pernah menghargai dirimu. Cukup Ayah saja yang dihina. Jangan kamu lagi. Untuk kamu Kak Nita. Aku tidak tau ada apa dengan mu. Sedari dulu hingga sekarang kamu tetap tidak menyukaiku. Aku minta maaf kalau aku telah mengambil Zizi dari kalian semua. Maafkan pria tua ini yang ingin menikahinya. Aku tulus menginginkan nya menjadi istriku. Aku tulus dan ikhlas menerima dirinya. Aku tidak pernah berniat ingin melukai perasaan nya sedikit pun. Masa lalu ku memang buruk. Tapi aku belajar dari masa lalu untuk pernikahan ku yang sekarang ini. Andai kamu tau Kak. Betapa beratnya aku mencoba untuk berubah selama ini. Zizi selalu membimbing ku menjadi pria yang lebih baik. Dan ya. Putri kalian berhasil. Hanya saja.. kalian semua tetap tidak menyukaiku. Sebenarnya apa sih yang membuat kakak tidak menyukai ku??'' tanya ayah Emil pada Uwak Nita.
Uwak Nita diam. ''Maaf.. kalau dulunya aku pernah berdebat dengan mu saat akan menikahi Zizi. Apakah kesalahan ku di masa lalu begitu fatal hingga kakak tidak menyukai ku?? Apakah pria tua ini tidak pantas untuk berubah?? Apakah karena aku ini seorang Pria tua miskin?? Maka karena itu kalian tidak menerima ku???''
Deg!
Deg!
Annisa memejamkan matanya. ''Ayah...'' lirihnya dengan dada begitu sesak.
__ADS_1
Ayah Emil tetap melihat semua orang, kilatan mata itu begitu sendu. Annisa tidak sanggup untuk melihatnya. ''Kenapa?? Kenapa selalu harta yang kalian permasalah kan di hidup ini?? Belum cukupkah selama ini harta yang ku berikan secara percuma untuk keluarga kalian?? Hingga aku rela membelitkan diri ku di Bank demi memenuhi keinginan keluarga kaya kalian?? Apakah karena itu kalian tidak menyukai ku??'' tanya ayah Emil lagi pada semua orang yang ada disana.
Tama bangkit dan menuju ayah Emil. ''Duduk dulu yah .. ayah baru sembuh. Jangan memuaskan kehendak untuk berbicara.. ayo. Duduk dulu.'' Ucap Tama pada ayah Emil.
Pria paruh baya itu mengangguk setuju. Ia duduk bersisian dengan Tama dan Syakir. Annisa pun datang dan duduk di depan ayahnya itu. Ia memegang kedua tangannya. Annisa terisak.
Ayah Emil mengusap air mata Annisa yang semakin mengalir deras. ''Kenapa sih selalu harta yang menjadi ikon hidup ini?? Harta itu bisa dicari selagi tubuh kita sehat! Tapi kenapa seolah harta lebih penting dari pada kesehatan tubuh sendiri?? Ayahku memang lah orang susah. Tapi beliau tidak pernah meminta sedikitpun harta kepada keluarga bunda untuk menghidupi keluarga nya. Apa yang salah dari Ayahku hingga ayahku selalu kalian lukai seperti ini ??'' tanya Annisa pada setiap orang yang ada disana salah satunya Uwak Nita dan nenek Butet.
''Hiks .. apa salah ayahku? Hingga kalian selalu menolak kehadiran nya? Apakah karena ia pria tua miskin harta? Tidak seperti keinginan kalian yang menginginkan bunda zizi menikah dengan pria tua tapi banyak harta??''
Deg!
Deg!
__ADS_1
Annisa masih tersedu di hadapan ayah Emil. Tama memegangi tangan nya dan juga tangan ayah Emil. Kedua orang itu saling menguat kan satu sama lain.
''Hiks.. apakah kalian tidak bisa berdamai dengan hal ini?? Tidak kah kalian bisa berdamai dengan keadaan ini? Hiks.. tidak kah kalian bisa menerima keadaan Ayah ku yang miskin harta ini?? Tidakkah kalian bisa menerima nya?? Kenapa?? Kenapa harta yang selalu menjadi tolak ukur di dalam kehidupan kalian? Bukankah Budi pekerti yang lebih utama dibanding kan dengan harta?? Apa gunanya banyak harta kalau orang itu tidak memilki Budi baik terhadap orang lain? Lebih baik miskin harta tapi tidak pernah melukai dan menyinggung perasaan orang lain!'' tukas Annisa begitu menohok hati Uwak Nita yang kini tertegun karena ucapan nya.
💕💕💕💕
Hayoo loh.. kak Annisa bener loh..
Hemm.. sambilan nunggu cerita ini update, mampir dulu yuk di karya temen othor yang satu ini.
Noh, cus kepoin!
__ADS_1
Like dan komen selalu othor tunggu!