
''Tunggu Bang! Hiks.. tega Abang ninggalin aku hanya demi adik Abang?? Adik yang hanya sebagai adik angkat, bukan adik kandung??''
Tama memejamkan matanya saat suara Annisa masih terngiang di telinganya saat ini. Ia menatap Azura sebentar sebelum pergi dan mengatakan hal yang semakin membuat Azura hancur tak berbentuk.
''Maaf Azura, sekali lagi Abang mohon maaf.. Abang tidak bisa menerima lamaran mu. Ada hati yang harus ku jaga saat ini. Dan ia sangat membutuhkan bantuan ku!''
''Kenapa??''
Tama menatap Azura dengan wajah yang begitu khawatir. ''Karena Annisa adalah hidupku, jauh sebelum aku bertemu denganmu!''
Deg!
Deg!
''Apa?! Tapi, Annisa kan cuma adik mu Bang Adrian??''
''Annisa lebih dari sekedar adik untukku! Dia segala nya untukku! Dia hidup dan mati ku! Dia cinta dan kasihku, sekuat apapun kamu mencoba untuk meluluhkan ku, maaf Azura! Abang tetap tidak bisa menerima mu! Maaf Azura! Maafkan Abang! Abang harus pergi! Annisa lebih dari segalanya, dibandingkan dirimu yang baru saja ku kenal. Maafkan Abang Azura! Abang harus pergi!''
Brruuummm...
Brruuummm..
Brrruukkk..
Azura jatuh terhempas ke tanah. Seseorang mengejar dan membantunya berdiri. Ia berusaha membangkitkan Azura. Tapi tetap saja, kaki itu lemah bagai tak bertulang mendengar ucapan Tama baru saja.
Sementara Tama semakin khawatir saat ponselnya terus berdering. Butuh waktu satu jam untuk sampai disana.
Belum lagi jalan yang macet. Tama menggerutu sebal. Ia berbelok ke arah lain. Yaitu jalan pintas. Ia mengambil ponselnya dan terlihat banyak sekali panggilan tak terjawab dari wali kelas Anisa.
Dengan segera ia memasang earphone di telinganya dan menghubungi nomor wali kelas Annisa.
Dijawab.
Sepanjang perjalanan Tama terus berbicara pada wali kelas Annisa. Ternyata, wali kelas Annisa menunjuk jalan pintas agar Tama bisa segera disana.
Dan benar saja. Cukup tiga puluh menit, Tama sudah tiba di bumi perkemahan asri itu. Tama melajukan motor gede nya menuju mereka semua berada.
Mendengar suara motor Tama, Annisa menangis lagi. Ia yang sedang menggantung di pohon kayu tertawa namun menangis.
''Hiks . Abang .. adek disini...'' lirih Annisa sudah begitu lemah. Sudah hampir satu jam Annisa bergelantungan di dahan pohon kayu itu seorang diri.
__ADS_1
Sedang seseorang yang berusaha ia tolong dan saling menolong itu jatuh ke dasar jurang.
Tama berlari dengan tergesa-gesa menuju sekawanan guru yang sedang berdiri di tepi jurang nan dalam itu.
''Annisa!!!'' serunya sambil berlari.
Entah seperti apa hatinya saat ini. Yang jelas ia seperti akan kehilangan hidupnya. Kakinya berlari sekuat mungkin untuk menuju tepi jurang itu dengan air mata berlinangan.
Semua guru terbengong melihat Tama menangis seperti itu. Tanpa sadar dengan dirinya tidak membawa apapun, ia langsung terjun ke dalam jurang itu untuk menyusul Annisa.
''Abaaaaaaaannnggggg...'''
''Aaaaaaaaaaa.... jaaaaaannggggaaaannnn....'' pekik semua orang itu bersamaan.
Plaak..
Brruukkk..
''Sayangku!!''
''Abangggg!!''
''Arrrgggghhttt... astaghfirullah.. ya Allah.. sakitnya...'' desis Tama saat merasakan kakinya begitu sakit saat tersangkut akar pohon yang bergelantungan itu.
Dahan kayu yang lumayan besar itu menepis tubuh Tama dan membuatnya jatuh terhempas hingga beberapa meter dari jarak Annisa sekarang. Annisa memekik.
Begitu juga dengan para guru yang ada diatas sana. ''Abangggg...'' pekik Annisa lagi.
Suara nya sudah tidak terdengar jelas lagi di telinga Tama. Tama menguatkan dirinya untuk mencapai Annisa lagi. Dengan cara bergelantungan di setiap akar pohon yang lumayan besar itu.
''Hiks .. Abang.. adek udah nggak Kuat..'' lirih Annisa begitu lirih.
''Tunggu! Sstt... Abang kesitu. Tahan sebentar! Lima menit saja, ya?''
Annisa menggeleng. Seluruh tubuhnya terasa kaku dan beku saat ini karena sudah hampir satu jam lebih Annisa bergelayut di akar pohon beringin yang begitu besar itu.
''Adek udah nggak kuat Bang.. Abang naik aja ya? Biarkan adek jatuh bersama Paman Bram? Paman Bram juga terjatuh saat menolong adek tadi. Niat hati ingin menolongnya, malah adek yang terjatuh. Begitu juga dengan Paman Bram.. Abang...'' panggil Annisa masih dengan menatap Tama yang sedang berusaha mendekatinya dengan cara bergelantungan di setiap akar pohon itu.
Tama tidak menyahuti, tapi tetap terus berusaha. Pikirannya merajalela sekarang. Apakah ia akan selamat? Atau Annisa akan selamat?? Beribu macam pikiran buruk itu muncul di benaknya, namun ia tepis karena mengingat Annisa saja bisa bertahan selama satu jam.
Lalu, bagaimana dengan nya?? Haruskah ia menyerah dan membiarkan Annisa lepas begitu saja? Tama menggeleng. Semua itu tidak luput dari perhatian Annisa.
__ADS_1
''Sudah Bang.. Abang sudah letih.. adek pun letih harus bergelantungan seperti ini. Izinkan adek pergi ya? Jika memang kita berjodoh, seberat dan sejauh apapun kita melangkah, pasti akan di pertemukan kembali. Begitu pun sebaliknya. Adek sangat menyayangi Abang. Adek harap, Abang bahagia setelah kepergian adek nanti. Abang cari pengganti lain yang bisa menemani Abang seperti adek. Adek cukup sampai disini.. hiks.. adek sayang sama Abang.. saaangggaatt sayang. Bang Adrian Pratama! Akan kubawa mati cinta ini! Selamat tinggal Bang Tama... semoga Abang bahagia...'' lirih Annisa dengan mata terpejam.
Tama tidak mendengarkan ucapan Annisa, ia terus berusaha untuk mencapai Annisa yang tinggal sejengkal lagi.
Dan saat Tama sudah tiba di dekatnya, tangan Annisa terlepas.
''Aaaarrrgghhtt...'' pekik semua orang yang ada di atas sana.
Mereka memekik histeris. Jantung Tama berdetak tak karuan saat tangan Annisa terlepas dari akar pohon tempat nya bergelantungan.
Tama menggeleng, ''Nggak! Kamu nggak boleh pergi sayang! Abang membutuhkan mu! Abang sayang sama kamu, Dek! Jangan tinggalkan Abang? Abang akan mati tanpa mu! Apalah arti Adrian Pratama tanpa Annisa? Nggak! Abang nggak akan ijinin kamu pergi! Jika kamu pergi, Abang pun ikut pergi bersama mu! Abang akan ikut kamu, sayang!''
Hap!
Tama menangkap tubuh Annisa yang sudah tak berdaya. ''Hiks.. bangun sayang! buka matamu? Kamu ingin pergi? Tidak mengajak Abang?? Baik, kita berdua akan pergi bersama! Kita tinggalkan dunia ini bersama-sama! Abang sangat menyayangimu cintaku! Seluruh jiwaku ada bersama mu! Aku tak rela jika kamu pergi sendiri! Abang akan ikut bersama mu! Cup!'' Tama mengecup dahi Annisa dengan mata terpejam.
Ia melepaskan tangannya dari akar pohon yang membelit dirinya dan juga tubuh Annisa. Mereka jatuh ke bawah dengan perlahan. Semua yang ada disana, memekik dan menangis melihat Annisa dan Tama jatuh ke bawah dengan terbelit di akar pohon.
Tama mendekap tubuh Annisa. ''Jika kamu mati, Abang pun akan mati ikut bersamamu sayangku! Seluruh hidup dan mati ku ada bersamamu? Untuk apa Abang hidup, jika kamu tidak ada di sisi Abang. Lebih baik Abang pergi bersamamu. Dengan begini kita akan bersama-sama selamanya. Tidak ada maut lagi yang memisahkan kita. Tapi kitalah yang menjemput maut itu sendiri. Abang mencintai mu Annisa, adik kecilku! Cup!''
Annisa tersenyum dalam mata terpejam. Dua insan berbeda usia yang cukup jauh terpaut dalam sebuah takdir yang mereka tidak sangka-sangka.
Seiring dengan tubuh jatuh kebawah. Kesadaran mereka pun mulai menghilang. Samar, buram dan gelap seketika.
Hingga mereka berdua terbangun saat berada di kamar VVIP rumah sakit milik Lana. Seluruh keluarga berkumpul disana menemani dirinya dan juga Annisa.
Mereka sadar setelah dinyatakan koma selama dua Minggu lamanya. Saat itu seluruh keluarga sudah pasrah dengan keadaan mereka.
Tapi seperti kata Annisa tadi. Jika mereka berjodoh dan ditakdirkan bersama pasti akan bertemu kembali.
Dan untuk Pak Bram, seorang paruh baya yang di coba tolong oleh Annisa dan juga menolong Annisa, pria itu lumpuh total. Seluruh kakinya tidak bisa di gerakkan karena urat Saraf yang terhubung ke kaki tidak bisa berfungsi dengan baik lagi.
Annisa dan Tama sangat beruntung saat itu. Karena tubuh mereka berdua terbelit di akar pohon dengan saling berpelukan. Sedangkan Pak Bram, beliau jatuh ke dasar jurang dengan kaki tidak bisa di gerakan lagi.
Annisa dan Tama Selamat karena pemadam kebakaran datang tepat waktu. Jika tidak, entah apa yang terjadi pada mereka berdua pada saat itu.
Flashback End.
💕💕💕💕
Ingin tau siapa itu Pak Bram? Nanti lagi ye??
__ADS_1