
''Maafkan Bunda, nak.. maaf.. Bunda nggak tau Sama sekali apa yang terjadi kepada kedua adikmu. Syakir tidak pernah ngomong kalau-,''
''Gimana ceritanya Abang mau ngomong sama Mak, kalau tiap Abang ingin ngomong mak selalu memotong ucapan Abang. Abang salah apa sama Mak?? Adakah selama ini Abang durhaka sama Mak? Apakah Abang menipu Mak selama ini?? Apakah Abang selalu meminta yang aneh-aneh sama Mak sampai Mak begitu marah sama Abang?? Hiks.. Abang kecewa sama Mak! Sangat kecewa!''
Deg!
Deg!
Bunda Azizah tergugu mendengar ucapan Syakir padanya. ''Nak...''
''Selama ini Abang kurang apa sama Mak? Abang tidak pernah sekalipun berbohong sama Mak. Abang rela menerima tuduhan Mak yang sebenarnya itu untuk Arta! Apakah Abang ini bukan anak kandung Mak?? seperti yang dikatakan oleh Arta? Apa Abang ini anak angkat kalian berdua???''
Dddduuuuaaaaarrrrrrrrr...
Tersentak untuk yang kesekian kalinya Bunda Zizi dan Ayah Emil. Mereka tak menyangka putra sulung mereka berpikiran seperti itu. Sementara Tama terkekeh kala mengingat ucapan Annisa tentang cetak mencetak.
Annisa menoleh pada Tama dan menatap nya dengan tajam. Sedangkan Mitha terkikik geli. Tama berdehem karena salah tingkah di tatap Annisa begitu tajam.
''Nak...'' lirih ayah Emil sembari mendekati Syakir untuk memeluknya begitu juga dengan Bunda Zizi.
Namun, apa yang terjadi membuat mereka terkejut. Syakir memilih berdiri dan menarik Annisa ikut dengan nya. Sementara Arta duduk di lantai sambil terisak sambil memegangi ponsel mahal miliknya yang terjatuh bertaburan di lantai.
''Enggak! Abang nggak mau ikut sama Kalian! Abang ikut Kakak sama bang Tama aja! Mulai besok, Abang akan tinggal sama kakak dirumah bang Tama!''
Ddduuaaarrr...
__ADS_1
Mak Azizah luruh kelantai lagi. Sungguh sakit hatinya saat melihat putra sulungnya tidak ingin lagi berbicara padanya.
''Segitu terlukanya kah kamu sama Mak, Nak??''' lirih Bunda Zizi dalam hati.
Annisa merangkul erat tubuh adik tirinya itu yang tidak ingin pulang dan bersama kedua orang tuanya lagi. Ia menoleh dengan sendu pada Ayah Emil dan Bunda Zizi.
''Sekarang Abang tanya untuk yang terakhir kalinya, benar? Jika Abang ini anak angkat kalian berdua? Kalau iya, dimana kedua orang tua Abang? Dimana kalian memungut Abang ketika kecil dulu?'' tanya Syakir dengan rasa takut yang tiada Tara sedang melanda dirinya saat ini.
Tubuh kurus itu bergetar sangat hebat. Seumur-umur ia tidak pernah bertanya atau berkata apapun pada Mak Azizah dan Ayah Emil. Ia selalu manut dan patuh kepada kedua orang yang begitu ia sayangi.
Tama dan Annisa memeluk tubuh itu begitu erat. ''Nak .. kamu itu anak kandung kami. Bukan anak angkat. Mak melahirkan mu dengan bertaruh nyawa. Siapa yang bilang kamu anak angkat. Kamu putra Mak Syakir! Putra sulung Mak!" tegas Bunda Zizi seraya mendekati Syakir untuk di peluknya.
Namun, lagi dan lagi ia harus kecewa karena Syakir lebih memilih menghindar dan berdiri di belakang tubuh Annisa dan Tama.
Annisa yang paham segera membawa Syakir ke depan, tapi tetap saja bocah berumur tiga belas tahun itu tidak mau.
"Dek-,"
"Jangan paksa Abang Kak. Abang nggak mau! Cukup sudah Abang kecewa.. Abang tidak mau terluka untuk yang kesekian kalinya. Cukup, Kak. Jangan paksa Abang..." lirihnya masih memeluk tubuh Annisa dengan erat
Lagi dan lagi air mata itu jatuh tanpa di pinta. Hijab biru muda Annisa basah bagian belakangnya setelah tadi bagian depan. Annisa memutar bola mata malas.
"Hadeeeuuhh.. tadi dari depan kakak kamu siram! Dan sekarang? Dari belakang pula! Awas ih!" gerutu Annisa pura-pura kesal pada Syakir.
Tama terkekeh. Sedangkan Syakir menggeleng. "Nggak mau! Kalau Abang ke depan, nanti kakak dorong Abang untuk peluk Mak. Abang nggak mau! Abang banyak dosa kak. Biarkan Abang menebus dulu dosa Abang selama ini dengan cara mengembalikan uang Mak yang sudah habis Abang gunakan untuk biaya sekolah Abang. Abang udah besar kok. Abang bisa cari uang sendiri. Ayo, bantuin Abang untuk bisa belajar memegang ponsel Kak. Abang nggak paham sama sekali kak. Belum lagi setiap ada informasi dari sekolah, pastilah Abang harus Nanya dulu sama teman sebangku Abang yang punya ponsel Android yang kayak kakak beli. Nggak kayak adek Arta. Mak sama ayah tahan banting tulang untuk memenuhi keinginan nya!"
__ADS_1
"Syakir....." lirih dua paruh baya yang semakin tersedu karena ucapan Syakir yang begitu menohok hati mereka.
"Baiklah.. tapi kita harus makan siang dulu. Kakak lapar dan mau sholat. Udah masuk waktu dhuhur! Ayo Bang kita ke mushola rumah sakit!" imbuhnya pada Tama.
Tama mengangguk, "Yah, kami ke mushola dulu ya? Sekalian nanti Abang beli makan siang. Ayah mau apa? Biar Abang belikan?" tanya Tama pada ayah Emil.
Ayah Emil menggeleng. Mata itu menatap nanar pada Syakir yang menunduk tidak berani menatap mereka berdua. "Ayah mau Syakir..." lirihnya begitu sendu.
Namun, Syakir tetaplah Syakir. Jika hatinya sudah kecewa sulit baginya untuk bisa kembali pada orang yang telah membuat nya terluka begitu parah dan lama.
Jika bukan karena kedatangan Annisa, mungkin saat ini Syakir akan tetap tertindas oleh adik kandungnya sendiri.
💕💕💕💕
Noh, makanya jangan suka buat orang terluka! Nggak enakkan??
Hemm.. baiklah. Sambil menunggu cerita adek Annisa update mampir dulu yuk, ke karya temen othor yang satu ini.
Karyanya Kak Nita.P
Cus kepoin! seru loh..
Like, komen, kembang, vote dan rate setiap kali kalian mampir, okeyy??
__ADS_1