
Selesai berbelanja, kini kedua orang yang sedang dimabuk cinta itu menuju bengkel Tama lagi.
Mereka berdua masuk sambil tertawa bersama. ''Hihihi.. jadi Abang itu lembut juga ya orang nya? Tapi kenapa padaku Abang jutek banget ya Bang??''
Anto terkekeh. ''Kamu masih punya hutang penjelasan pada Abang. Jelaskan padanya, apa yang terjadi sepuluh tahun silam itu bukan kamu pelakunya. Kamu sudah punya bukti yang Abang suruh cari kan??''
Mitha mengganguk mantap. ''Sudah. Adek masuk ke dalam dulu ya? Mau ajak Abang pulang. Gerah. Mau mandi. Dari kemarin tinggal di hotel mulu. Nggak enak!'' katanya pada Anto.
Anto tertawa. Mereka berdua masuk kedalam bengkel Tama dan melihat Tama sedang berbicara di telepon.
''Iya sayang. Besok ya Abang kesana. Nggak bisa hari ini. Abang sibuk banget di bengkel. Oh, oke-oke! Siap sayang! Tentu. Abang juga sayang sama kamu. Belajar yang rajin ya? hem.. waalaikum salam..'' kata Tama pada sambungan ponsel nya.
Ia terkekeh kecil saat Annisa baru saja memintanya untuk datang ke sekolah karena ada yang ingin ustadzah Hanim sampaikan tentang sekolah nya.
Sementara Mitha tertegun melihat kelembutan Tama pada sang istri. Yaitu kakak iparnya. ''Bang?''
Tama berbalik, wajah yang tadinya terkekeh begitu tampan kini menghilang sudah. Yang tersisa hanya wajah datarnya saja.
''Sudah?'' tanya nya pada Anto
Anto mengangguk. ''Sudah. Mitha ingin pulang katanya. Biar bengkel aku yang urus. Abang pulang aja dulu. Dari kemarin Abang belum istirahat sama sekali.'' Ucap Anto pada Tama.
Tama mengangguk dan segera berlalu meninggalkan Anto yang menatap kepergian pujaan hatinya dengan tersenyum manis. Mitha mengedip kan sebelah matanya. pada Anto. Membuat Anto tertawa.
''Nakal!''
''Sama Abang aja!'' sahutnya manja.
Anto terkekeh geli lagi. Mitha segera mengikuti Tama yang sudah lebih dulu masuk ke mobil miliknya.
Masuk ke dalam mobil Tama sudah di suguhkan dengan sebuah foto yang menggelantung di kaca spion kecil di hadapannya.
Foto Tama dan Annisa. Foto saat mereka berlibur ke Jakarta dulu bersama Rayyan dan yang lainnya.
__ADS_1
Mitha tertegun melihat senyum Annisa begitu manis dan tertawanya itu begitu lepas ketika bersama Tama. Begitu pun dengan Tama. Belum lagi di dalam mobil itu harum lembut parfum wanita yang begitu lembut dan menenangkan.
Seutas senyum terbit di bibir Mitha. Tama tersenyum tipis melihat tingkah adiknya ini. Mereka menuju ke rumah Tama dan Annisa yang hanya berjarak sepuluh menit saja.
Tiba disana, Mitha lagi dan lagi tertegun melihat rumah berlantai dua dengan pohon mangga dan pohon jambu madu di depannya. Begitu asri. Belum lagi taman bunga yang begitu terawat.
Membuat rumah itu begitu hidup. Mitha berdiri mematung di depan pintu rumah Tama yang di luar ekspektasi nya selama ini. Mitha pikir, Tama memiliki rumah seperti rumah mereka yang mirip dengan mansion saat masih bersama Papa Fabian.
Tetapi Tama berbeda. Mata Mitha berkaca-kaca. Tama mendekati adik amnja nya itu. ''Ayo!'' ajaknya sambil merangkul bahu adik manja nya itu yang sudah terisak.
Tama tersenyum sekaligus terkekeh saat melihat wajah Mitha sembab. Ia yakin, Anto pastilah membuatnya menangis tadi. ''Duduk dulu. Ada yang ingin kamu jelaskan sama Abang tentang hubungan mu dengan adik angkat Abang??''
Deg!
Deg!
Mirah terkejut. Ia yang sedang tersedu tiba-tiba saja menoleh pada Tama. Tama tersenyum begitu manis, mbuat Mitha tersedu lagi.
Ia beralih duduk dan memeluk erat tubuh Tama. ''Sssttt.. jangan nangis.. Abang nggak marah kok. Malahan Abang senang kalau kamu bisa menikah dengan nya?''
Deg!
Ssrrroooottt...
Mitha mbuang ingusnya. Sementara Tama tertawa terbahak. Mitha merengut. ''Abang ih!'' sungutnya tak suka karena melihat Tama tertawa karena ulahnya.
''Jelaskan! Bukankah kamu pulang setelah kian lama ikut Mama Karin pasti ingin menjelaskan sesuatu sama Abang? Sok, Abang dengar kan!'' Mitha menatap dalam pada Tama.
Tama tersenyum lembut padanya. Lagi dan lagi mata Mitha berkaca-kaca. Dengan cepat ia merogoh rok span nya dan memberikan ponselnya pada Tama.
''Disini??'' Mitha mengangguk dan tersenyum.
''Semua buktinya ada disana.'' Katanya pada Tama
__ADS_1
Membuat Tama mengangguk. ''Oke. Kita lihat apa yang ada di sini!'' katanya sambil membuka ponsel milik Mitha yang menunjukkan layar wallpaper nya dirinya, Papa Fabian, Mama Linda dan kedua adik kandung Tama bersama Mama Linda yang saat ini sedang sekolah juga sama seperti Annisa.
Tama tersenyum, dengan segera ia membuka penyimpanan folder tentang sebuah video yang menunjukkan bukti bahwa Mitha tidak bersalah.
Tama tersenyum. Ia melihat pada Mitha yang saat ini juga menatapnya. ''Anang sudah tau, Jia adek Abang yang cantik kesukaan Anto ini tidak bersalah. Abang tau. Abang tau segalanya sayang.. tanpa bukti pun Abang tau jika kamu tidak bersalah. Abang tau itu. Maaf kalau Abang terpaksa mengusir mu saat itu.''
''Demi menjaga Mama dan Papa begitu juga dengan adik Abang yang cantik ini tpidk terluka makanan Abang menuruti perkataan Mama Karin, bahwa kamulah yang mencoba membunuh Abang waktu itu. Semua ini demi kamu. Abang sengaja menyuruhmu pergi agar kamu bisa mendapat kan buktinya dan kamu bisa pulang kesini dengan baik-baik saja. Semua ini rencana Abang dan calon suami mu. Dia mengatakan semuanya pada Abang tanpa terkecuali. Jadi kamu tidak bisa berbohong!''
Mitha semakin tersedu. Ia memeluk erat tubuh Tama. Ia sangat merindukan Abang sulungnya ini. ''Hiks.. maafkan adek, Bang.. bukan maksud adek ingin mencelakai Abang dulu. Adek di tekan sama Mama. Mama bilang, adek harus membunuh Abang agar seluruh harta Papa jatuh ke tangan Mana dan kami bertiga. Tapi adek nggak mau. Makanya adek sengaja menjadikan diri adek sebagai tertuduh agar Abang tidak dicelakai untuk yang kesekian kalinya oleh Mama.''
''Hiks.. masakan adek, Bang.. maaf.. adek terpaksa.. maaf...'' lirihnya sesegukan di dalam pelukan Tama.
Tama memeluk erat tubuh sang adik sedarah dengan nya ini. Tama begitu menyayangi Mitha dari pertama mereka bertemu ketika Mitha berumur tujuh tahun dulu saat pertama kali Papa Fabian mengenalkan nya sebagai adik kandung sendiri papa dengan nya.
Dia adik Tama yang lainnya mereka mengikuti keinginan Mama Karin, makanya Papa Fabian hanya bisa membawa si bungsu untuk di kenalkan pada Tama. Itupun tanpa sepengetahuan Mama Linda.
Hanya satu orang yang tau yaitu Mak Alisa. ''Sudah.. Abang sudah memaafkan mu sedari dulu. Abang sengaja bersikap jutek padamu agar kamu bisa merubah diriku menjadi lebih dewasa lagi. Ck. Bukannya lebih dewasa malah semakin menjadi anak-anak! Hadeeeuuhh...''
Plaak..
Mitha menepuk dada Tama karena geram. Tama tertawa terbahak. Mitha dan Annisa itu begitu mirip. Bedanya hanya, kalau Mitha itu manja kepadanya sementara Annisa tidak seperti itu. Mengingat Annisa, senyum Tama terus tersungging di bibir tipis nya.
Mitha bahagia melihat Abang tersayangnya itu bahagia karena istri kecilnya. Sedikit tidaknya Mitha tau, jika istri Tama itu masihlah sekolah. Semua itu Anto lah yang memberi tahukan kepada nya.
💕💕💕💕
Tenang-tenang dulu ye? Sebelum terjadi huru hara. Eh?
Hehehe .. mumpung masih anget-angrtnya nih ye.. mampir dulu yuk. Rekomendasi cerita yang sangat bagus untuk kamu baca.
Karyanya Tie tik. a
__ADS_1
Cus kepoin! Ceritanya seru loh..
Like, komen, vote, kembang, dan rate jangan lupa ye setelah membaca karya recehan othor ini.