Annisa Istri Kecilku

Annisa Istri Kecilku
Selesai


__ADS_3

Tama membuka seluruh pakaian yang melekat di tubuh Annisa, Annisa terkejut. Ia membuka matanya segera. ''Eh?''


Tama tersenyum, ''Mandi dulu. Biar badan kamu seger. Sekalian kita juga harus bersiap-siap kan?''


Annisa mengangguk, ''Ya sudah, kita mandi bersama biar cepat!'' Tama mengangguk.


Mereka pun mandi bersama tanpa ada kegiatan yang lainnya seperti yang diharapkan para readers yaitu pecah tanggul surga. 🤣


Cukup sepuluh menit saja mereka sudah selesai. Tama keluar lebih dulu menggunakan bajunya yang tadi begitu juga sarungnya.


Sedang Annisa menggunakan Handuk yang dibawa Tama tadi. Ketiga orang itu pun menoleh ketiak pintu kamar mandi terbuka. Annisa mendadak malu karena ada dua orang gadis yang tidak di kenalnya disana.


''Kamu pakai baju saja disini. Abang pakai baju di kamar mandi. Mana baju yang harus saya pakai Mbak??''


''Ini. Ini dalaman nya dan ini bagian luarnya.'' Sahutnya sembari memberikan satu set setela jas berwarna putih agak kebiru-biruan.


Tama tersenyum, ia mengambil baju itu dan berlalu ke kamar mandi. Annisa pun demikian. Setelah memakai baju dalam, kini ia pun segera dipakaikan baju untuk resepsi pernikahan mereka malam ini.


Waran yang sama dengan jas Tama. Tama yang sudah siap pun ikut keluar. Ke empat orang itu menoleh. Semuanya tertegun melihat pemuda dewasa nan sangat tampan itu.


''Sudah selesai?'' tanya Tama pada Annisa dan penata rias nya.


Keempat gadis itu terkejut bersamaan. Mereka terkekeh sambil menunduk. Malu sama Tama yang kini sedang menatap mereka dengan alir bertaut.


Annisa tersenyum melihat wajah tampan Tama. ''Suami siapa sih ini? Kok tampan amat yak? Boleh dong.. di karungin??'' goda Annisa pada Tama.


Tama tergelak keras. Begitupun dengan ketiga orang itu. ''Udah ah! Kami duduk dulu deh Tama. Biar saya yang siapkan Annisa. Baru baju aja ini. Makeup nya aja belum? Maulah siapnya jam enam ini!'' ucapnya pura-pura kesal.


Tama terkekeh. ''Polesan nya jangan ketebalan Mbak. Yang biasa aja. Biar terlihat natural. Saya lebih suka Annisa yang seperti itu. Cantik alami dan apa adanya.'' Balasnya pada penata rias Annisa, membuat gadis seumuran Tama itu tersenyum.


''Tentu Prince Adrian Pratama! Kamu duduk saja dulu. Kamu pun harus di makeup tipis nanti. Tipis-tipis aja. Annisa ini yang lumayan. Tapi dilihat dari kecantikan alaminya, tidak perlu tebak kdn ya?'' Annisa mengangguk, ''Oke, kita mulai!'' ucapnya dengan tangan yang sudah memegang foundation untuk wajah Annisa.


Butuh sekitar setengah jam untuk merias Annisa. Setelah selesai, barulah Annisa ia pasangkan hijab yang bermahkota kan Tiara diatas hijabnya biru muda miliknya.


Selesai dengan itu, ia memberikan satu heel setinggi tujuh Century untuk Annisa kenakan. ''Tidak usah memakai kaos kaki ya? Nanti kamu payah jalan nya. Lagi pun baju ini dalam banget kok. Nggak akan kelihatan kaki kamu. Iyakan Tama??''


Tama tersenyum, ''Iya. Baju kamu panjang kok. Ayo kita keluar, lihat nih ponsel Abang terus aja berdenging sedari tadi!'' tunjuknya pada ponsel miliknya.


Sedangkan ponsel Annisa kini, Kinara yang memegangnya. Annisa tertawa. ''Ya, ayo!''


Mereka berdua pun keluar dari dalam kamar. Baru saja ingin membuka pintu, pintu dari luar sudah dibuka terlebih dahulu oleh Kinara dan Mak Alisa.


''Sudah siap??''


''Sudah Mak,'' sahut Tama dan Annisa.


''Ayo, Papi, Ayah dan Bunda serta Mama Linda dan Papa Fabian juga sudah siap. Mereka sedang menunggu kalian berdua. Ayo!'' ajak Mak Alisa pada kedua pengantin usang rasa baru itu.

__ADS_1


Mereka pun berjalan beriringan menuju ballroom hotel bkembali di ikuti ketiga pasang orang tua mereka.


Ada ayah Emil dan Bunda Zizi di belakang Annisa. Papa Fabian dan Mama Linda di barisan kedua. Sedangkan yang terakhir, Mak Alisa dan Papi Gilang bersama Kinara.


Mereka berjalan beriringan menuju pelaminan Kinara. Lana yang melihatnya langsung saja berbicara melalui pengeras suara di atas panggung sana.


Tama dan Annisa terkekeh kala mendengar celutukan Lana untuk mereka berdua. Di ikuti Syakir dan Rayyan. Mereka bertiga memeriahkan panggung dengan menyanyikan sebuah lagu dari Upin dan Ipin yang berjudul pengantin baru.


Mereka bernyanyi sambil menabuhkan gendang di tangan mereka. Alat yang digunakan Lana saat nasyid dulu ketika pernikahan sang Papi dengan Mak Alisa.


Semuanya tamu tertawa mendengar nyanyian itu. Lucu menurut mereka. Annisa dan Tama pun ikut tertawa.


Acara resepsi pernikahan Tama dan Annisa begitu meriah sore itu. Mereka semuanya bersuka cita bersama menikmati alunan merdu suara Lana dan Syakir.


Ya, Syakir. Adik kandung beda ibu dengan Annisa itu tahan latihan bernyanyi bersama Tama di bengkelnya beberapa bulan ini agar bisa tampil di panggung pernikahan sang Kakak.


Ia membawakan sebuah lagu bintang hatiku dari Demeises. Lagu favorit kesukaan Papi Gilang saat bertemu dengan Mak Alisa dulu.


Annisa terharu. Ia menitikkan air mata nya saat Syakir menunjuk dirinya dan Tama untuk maju ke pelaminan untuk bernyanyi.


Annisa mengangguk begitu pun dengan Tama. Mereka bertiga ikut menyanyikan lirik lagu kesukaan Papi Gilang itu.


Dengarlah bintang hatiku


Aku akan menjagamu


Dalam hidup dan mati ku


Tatapan mata Annisa tertuju pada Tama yang saat ini sedang menatap nya dengan lembut.


Teringat janjiku padamu


Suatu hari pasti akan ku tepati.


Lagi, mata itu berkaca-kaca. Masih teringat oleh Annisa jika Tama dulu pernah berjanji akan bersamanya hidup dan mati saat mereka akan jatuh ke dalam jurang nan dalam.


Aku akan menjagamu.


Semampu dan sebisaku


Walau ku tau ragamu tak utuh


Kutrima kekuranganmu


Dan ku tak akan mengeluh


Karena bagiku engkaulah nyawaku..

__ADS_1


Karena bagiku.. engkaulah .. nyawaku...


Annisa memeluk tubuh kekar Tama sambil menangis lagi. Ia pun ikut bernyanyi.


Mereka bertiga menyandungkan lagu kenangan Papi Gilang dulu. Kedua paruh baya itu saling merangkul.


''Ternyata.. sudah sebesar ini. Putra kita tidak pernah melupakan lagu kesukaan ku. Kamu tau sayang? Lana tau segalanya tentang ku dibanding kan kedua putraku yang lain. Dia yang lebih tau tentang Papi tirinya ini. Dan aku sangat bersyukur. Karena bisa menikahi Mak nya dan mendapatkan tiga anaknya. Salah satu nya Lana.''


''Ya, aku tau itu.'' Sahut Mak Alisa sembari semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh hangat Papi Gilang.


Selesai bernyanyi, keduanya pun turun untuk menyambut tamu lagi hingga habis. Lelah. Tapi inilah yang harus Annisa lewati.


Tepat pukul sepuluh lebih dua puluh dua malam, acara itu pun selesai. Tama dan Annisa diantar pulang kerumah langsung oleh Anto dan Kamitha menggunakan mobil Tama yang sudah dihiaskan dengan bunga-bunga.


''Alhamdulillah.. selesai juga..''


''Ya, Alhamdulillah.. tiga hari kita dirumah ya? Baru setelahnya kerumah ayah. Abang cuma bisa menginap empat hari disana. Karena cuti Abang cuma seminggu. Tak apa kan??'' tanya Tama pada Annisa.


Annisa mengangguk. ''Tak apa Bang. Di izinkan kerumah ayah aja itu sudah cukup buatku. Aku tiduran dulu ya Bang? Ngantuk!'' katanya pada Tama.


''Tidur lah. Abang pun sangat lelah. Bangun kan kami saat tiba dirumah ya?'' Katanya pada Anto dan Mitha.


Keduanya mengangguk setuju.


Baru saja keduanya terpejam, sudah terdengar suara mendengkur. Anto dan Mitha saling pandang kemudian terkekeh.


Anto dan Mitha saling berbicara di dalam mobil agar tidak sunyi. Sama seperti Annisa dan Tama dulunya.


Sedangkan di hotel sana, ayah Emil berulang kali menghela nafas panjang. Dadanya begitu sesak saat ini. Tetapi tidak ia tunjukkan pada Bunda zizi.


Mereka semua akan pulang besok kerumah masing-masing. Semuanya sudah terlelap. Sedangkan ayah Emil masih duduk di sajadah nya dengan nafasnya yang mulai sesak.


Berulang kali menghela nafas. Ia menoleh pada ketiga anaknya. ''Ayah akan menunggu sampai kakak kalian datang .. baru setelahnya ayah akan pergi.. ayah akan tenang jika Kakak kalian datang menemani kalian disaat ayah pergi...'' lirihnya dengan air mata yang sudah menetes.


Ya, ayah Emil sudah tau jika waktunya tidak lama lagi. Sakit paru-paru yang ia derita sudah semakin parah. Sengaja ia menyembunyikan penyakit nya dari seluruh keluarga nya.


Alasan sembuh itu tidak ada. Berbulan-bulan ayah Emil selalu meminum obat dengan rutin. Ia ingin hidup Sampai Annisa menikah ulang. Begitu katanya pada dokter.


Dokter Khusus paru-paru itu pasrah akan jawaban ayah Emil yang menyuruh nya untuk rawat inap lagi karena belumlah sembuh. Tidak cukup dengan obat saja. Begitu kata dokter itu.


Tetapi ayah Emil Keukeh menolaknya. Ia tetap ingin menunggu resepsi pernikahan Tama dan Annisa yang sudah Tama sampaikan saat ulang tahun Bella dulu.


Dan ya, ayah Emil berhasil. Tapi tidak tau untuk ke depannya. Dada itu tiba-tiba sesak sendiri. Wajah nya merah padam. Tetapi ia tetap bertahan.


Ia mencoba mengambil obatnya dan meminumnya kembali. Menunggu lima menit, barulah rasa sesak itu berkurang. Dan ayah Emil bisa bernafas dengan lega.


Ia akan pergi setelah Annisa datang untuk menemaninya di hari-hari terakhir nya. Tapi entah kapan? Ia pun tidak tau. Ia hanya bisa berharap itu saja di sisa hidupnya.

__ADS_1


💕💕💕💕


Like dan komen ye? Kembang nya buat Othor!


__ADS_2