
Setelah Anisa setuju untuk pulang kerumah mete yang ada di jalan komplek indah permai, kini Tama sedang menghubungi ustdazah Hanim untuk meminta izin jika Annisa harus pulang dulu kerumah orang tuanya karena kondisi Annisa yang belum fit.
Ustadzah Hanim menyetujuinya dan memberikan Annisa izin pulang untuk istirahat selama seminggu di rumah kedua orang tuanya.
Ustadzah Hanim percaya pada Tama. Karena Tama merupakan Abang angkat Annisa. Jadi, beliau tidak perlu khawatir lagi tentang Annisa. Semuanya beres karena Tama.
Akhirnya mereka berdua pulang kerumah batu yang sudah di beli Tama beberapa tahun yang lalu. Rumah untuk sang istri tercinta kelak.
Entahlah itu Selena atau pun wanita lainnya, pikir Tama. Mereka berdua menuju ke kediaman baru pertama kalinya untuk Annisa.
Satu jam kemudian, mereka tiba di rumah baru Tama. Annisa mengernyitkan dahinya saat melihat seorang perempuan sebaya Tama sedang di teras sambil bermain ponsel.
Dengan dress sepanjang lutut, rambut tergerai dan juga heels tinggi menambah daya tarik bagi mereka yang melihatnya.
Deg!
Jantung Tama bergemuruh hebat saat melihat penampakan seorang wanita yang baru saja ia ceritakan pada sang istri.
''Selly??'' gumam Tama, tapi masih terdengar oleh Annisa.
Annisa menoleh pada Tama. Ia melihat wajah Tama menjadi pucat. Tanpa di duga, Tama pun melihat padanya.
Annisa menatapnya dengan datar, tapi arti tatapan itu sungguh membuat Tama berkeringat dingin.
Istri kecilnya ini sungguh manis jika sedang bahagia. Tapi jika sedang marah, maka apapun yang dilewati nya akan habis semua ia lahap.
Seperti api yang berkobar hebat dan tidak bisa dihentikan. Begitulah penafsiran Tama terhadap Annisa.
Tama menelan saliva nya begitu sulit. ''Jangan tatap Abang seperti itu sayang! Abang tak tau kalau dia akan kerumah kita sayang! Beneran? Kamu kan tau sejak tadi malam kita tidur berdua dan ponsel pun kamu yang pegang??'' kata Tama kepada Annisa yang masih menatap nya dengan raut wajah dingin.
''Kenapa??'' tanya Annisa yang membuat Tama bingung dengan pertanyaan nya itu.
''Maksudnya kenapa bagaimana??'' balas Tama masih bingung.
''Kenapa wanita itu sampai tau, jika rumah Abang ada disini? Apakah Abang menyembunyikan sesuatu dariku?? Atau... memang ini tujuan Abang?? Untuk membuat ku terluka untuk yang kesekian kalinya??''
Deg.
Deg.
Tama terkejut, ''Nggak Sayang! Nggak ada niat Abang seperti itu!''
''Terus? Kenapa MANTAN Abang itu bisa ada dirumah kita? Jika bukan Abang yang memberitahu nya, lalu siapa lagi?? Nggak mungkin dong, wanita itu seorang cenayang?? Jika dia cenayang, pastilah sudah tau tentang siapa sebenarnya istri Abang!'' ketus Annisa begitu kesal.
Tama tertawa mendengar ucapan Annisa hingga kepalanya mendongak ke atas, sementara Selly yang mendengar suara Tama tertawa datang menemui mereka yang masih betah duduk didalam mobil.
Melihat kedatangan Selly wajah Annisa bertambah kesal. Tama semakin tertawa melihat nya.
Dengan segera Tama mencuri ciuman sekilas di bibir Annisa.
Cup.
__ADS_1
Annisa melotot. ''Abang!!! ishhh...'' gerutu Annisa lagi.
Bibirnya manyun seperti bebek. Sedangkan Selly mengetuk pintu mobil itu dan tersenyum manis pada Tama.
Tama menoleh pada Selly dengan tersenyum juga, semakin membuat Annisa kesal. Geram, Annisa turun dan menutup pintu dengan kuat.
Braaakkk..
''Astaghfirullah!!'' ucap Tama dan Selly bersamaan.
Selly melihat Annisa terus masuk dengan tergesa walau sesekali sempoyongan, Tama yang melihat itupun mengejarnya dengan Selly pun ikut mengejar.
''Abang bantu!'' kata Tama pada Annisa sambil memegangi tubuh Annisa.
Plak..
Annisa menepis tangan Tama dengan kuat hingga terdengar seperti suara tamparan, Selly terkejut melihat itu. Dengan segera ia maju dan berdiri di samping Tama.
''Hei anak kecil! jangan kasar gitu dong, sama orang tua??'' tegur Selly dengan congkaknya
Ia menatap tak suka pada Annisa. Annisa dan Tama berhenti untuk membujuk Annisa dengan memegangi tangannya.
Tama menoleh pada Selly yang melihat tak suka pada Annisa. Sedang Annisa, ia mengepalkan kedua tangannya.
Tama terkejut lagi, ia melihat perubahan pada wajah Annisa yang begitu dingin saat ini. Annisa berbalik dan menatap nyalang pada Selly.
Deg!
Selly terkejut melihat tatapan Annisa begitu dingin padanya. ''Siapa kau berani mengaturku dirumah ku sendiri?! Kau siapa?! Datang tak undang, tiba-tiba nyerocos yang tidak jelas kepada pemilik rumah! Pulang sana! Mengganggu saja!'' ketus Annisa, tapi begitu dingin dan menusuk.
''Kau! Berani sekali kau bicara seperti itu padaku! Apakah kedua orang tuamu tidak pernah mengajarimu sopan santun??'' ucap Selly dengan suara naik satu oktaf.
Tama tersentak dengan ucapan Selly. Sementara Annisa terkekeh, namun begitu menyeramkan. Tama tau itu.
''Dek...''
''Kenapa?? Kau tak suka aku berbicara seperti itu kepadamu? Boleh aku tau? Apa hak mu berbicara seperti itu kepadaku?? Saudara bukan! Kakak bukan! Calon istri Tama? Apalagi! Kau itu! hanya tamu yang tak di undang datang kerumah ini tiba-tiba! Jangan mengusik kehidupan ku nona! Kau tidak tau apapun tentang ku! Bang Tama! Sekarang kau pilih! Aku? Atau mantan mu ini?!'' tukas Annisa begitu dingin kepada Tama.
Lagi dan lagi Tama terkejut dengan ucapan Annisa. Ia tidak tau harus berbuat apa sekarang.
Hadeeeuuhh.. ini cewek kok nekad banget sih?! Bisa batal acara senang-senang ku dengan Annisa! Ck! Pengganggu!
Mau di usir, nanti ketahuan pula jika Annisa itu istriku? Aduhh ! Piye iki?? Mak... bantuin Abang Napa?! Ribet euuyy..
Gumam Tama dalam hati. Annisa menatap lekat bola mata Tama yang sedang gelisah. Ia tersenyum kecut, saat menyadari jika Tama lebih penting menutupi pernikahan mereka berdua daripada mengatakan nya pada wanita itu.
''Aku sudah tau jawabannya mu apa bang Tama. Selamat! Aku pergi! Urus wanita mu! Aku akan pulang ke rumah Mak Alisa saja.'' Tegasnya namun terkesan begitu dingin.
Selly tetap menatap nyalang pada Annisa. Dengan segera Annisa pergi dari hadapan Tama.
Tama terkejut. ''Tunggu sayang!''
__ADS_1
Deg!
Deg!
Selly terkejut mendengar panggilan Tama untuk Annisa. Ia berbalik dan melihat Tama yang sudah menyusul Annisa sampai ke mobil mereka tadi.
''Tunggu sayang! Kamu tidak boleh pergi! Tubuhmu masih lemah! Kamu harus banyak istirahat! Ayo, kita masuk. Nggak enak di lihat tetangga. Ayo, nanti biar Abang yang ngomong sama Selly ya?'' bujuk Tama dengan lembut, tapi Annisa tetap keras kepala.
Ia tetap melangkah kan kakinya keluar dari pintu gerbang rumah Tama dan mendorong Tama hingga membentur bodi mobil.
Braaakkk..
''Astaghfirullah!!'' seru Tama dengan sedikit meringis.
Annisa tak peduli. Ia tetap berjalan untuk keluar dari gerbang rumah mereka, melihat itu Tama menjadi marah karena Annisa yang tidak mau mendengar kan ucapannya.
''Berhenti sayang! Abang melarangmu untuk pergi dari rumah kita walau satu langkah saja!'' tegas Tama
Deg!
Annisa mematung di tempatnya. Ia tau apa arti kata-kata itu. Ia mengepalkan kedua tangannya saat merasakan jika tangan Tama mengelus punggung nya dengan lembut.
Annisa memejamkan kedua matanya saat merasakan nyaman menulusup kehatinya walau hanya dari sentuhan tangan Tama saja.
Grep.
Tama mengangkat Annisa ala bridal style. Annisa terkejut. Hampir saja terjatuh, jika ia tidak merangkul leher Tama dengan cepat.
Tama melihatnya dan tersenyum teduh. Annisa membuang wajahnya tidak ingin melihat Tama. Tama terkekeh.
Semua itu tak luput dari perhatian Selly. Ia tak mengira jika Annisa adalah kekasih Tama seperti yang ia ceritakan kemarin.
💕💕💕💕
Assalamualaikum.. selamat siang semua..
Mulai hari ini, othor akan update rutin ye?
Jangan lupa like dan komen!
Kembang dan vote nya juga!
Nah.. mumpung hari Senin, boleh dong ya othor minta vote nya?
Othor ingat kan. Kalau kalian ingin vote cerita adek Annisa harus setiap Senin ye? Agar vote kalian terbaca oleh sistem.
Jika tidak, percuma saja.
Okey??
Kembang tak apa. Kapan pun boleh kok. Hehehe..
__ADS_1
Ngarep banget ye othor?
Okey, selamat membaca... 😘😘😘