Annisa Istri Kecilku

Annisa Istri Kecilku
Kamitha Andriyana Pratama


__ADS_3

Kamitha mengikuti Anto yang sedang berjalan di pinggiran jalan. Ia berjalan lenggak lenggok seperti artis peraga busana saja. ( othor nggak paham dengan namanya yang jelas itu lah pokoknya 🤣)


Anto menggeleng kan kepala nya saat melihat gaya berjalan di pinggiran trotoar itu. Ia terkekeh geli melihat tingkah Mitha. Merasa dirinya ditertawakan, Mitha melangkah cepat agar bisa beriringan jalan dengan Anto.


Grep!


Deg!


Anto terkejut. Ia melirik ke sisi kanan nya ada Mitha disana. Mitha tersenyum padanya.


Deg, deg, deg..


Jantung Anto berdegup tak beraturan saat melihat Mitha tersenyum manis padanya. Anto melengos. Ia menatap ke depan kembali.


''Abang kenapa? Nggak suka ya? Kalau aku pulang??'' tanya nya dengan suara lembut.


Anto berdehem, ia jadi salah tingkah sendiri. ''Nggak ada. Siapa bilang Abang nggak suka kamu pulang?? Omongan dari mana itu?'' katanya sambil terkekeh kecil.


Mitha tersenyum, ''Hehehe.. kirain Abang nggak suka kalau adek pulang!''


Deg!


Anto menoleh pada Mitha. Tatapan mereka saling beradu. Mitha tersenyum manis padanya. Anto pun ikut tersenyum. ''Kamu nggak malu jalan sama Abang?''


''Malu?'' tanya Mitha


Anto mengangguk, Mitha terkekeh kecil. ''Dari pertama adek kenal Abang, adek nggak pernah malu kok jalan sama Abang. Kenapa tadi pura-pura cuek saat adek datang?'' tanya Mitha dengan wajah merengut nya.


Anto tertawa. ''Nggak sayang.. bukan pura-pura nggak kenal. Tapi kamu sendiri yang bilang kalau kita harus sembunyi-sembunyi kan??''


Mitha nyengir kuda. Gemas, Anto mencubit pipi Mitha. ''Astaghfirullah! Jauh ih! Entar khilaf, bisa habis Abang di gebukin Abang kamu!''


Mitha tertawa. Anto terkekeh. Ya, Mitha sedang menjalin hubungan dengan Anto. Anto menginginkan cara ta'aruf tanpa bersentuhan. Ia ingin mengikuti jejak Tama.


Tapi sayang nya yang di ajak ta'aruf gaya nya seperti anak gadis yang tinggal di kota metropolitan. Hadeeeuuhh.. Anto menggeleng kan kepalanya saat melihat rok span diatas paha Mitha.


''Sayang?''


''Hem, ada apa?'' tanya Mitha

__ADS_1


Ia menatap Anto dengan senyum tidak putus dari bibir tipisnya. ''Mulai sekarang, belajar lah dari kakak ipar. Ia memang gadis kecil bahkan belum tamat SMA. Tapi auratnya sedari kecil tidak pernah terbuka. Bang Tama sangat menyanjung tinggi harga dirinya. Abang pun ingin seperti itu.''


''Berubah lah demi kebaikan dirimu sendiri. Jangan kamu menutup aurat ini karena perintah Abang ataupun perintah bang Tama. Kami lelaki. Benar kata Abang. Jika kamu pamer aurat seperti ini, bukan hanya kedua orang tuamu masuk neraka. Tapi Abang, bang Tama, Abang mu yang lain bahkan pemuda yang memandang auratmu juga ikut ikut ke neraka karena memandang lekuk tubuh mu yang terbuka.''


''Jadilah wanita Sholehah. Banyak belajar dari Kakak ipar. Beliau begitu apik dalam menutup auratnya. Kamu tau? Tidak ada seorang pun lelaki dunia ini yang rela jika aurat istrinya dilihat dan dinikmati oleh pria lain diluar sana. Kamu bisa bangga karena keindahan tubuhmu. Tapi itu merupakan neraka bagimu! Akan tetapi... jika tubuhmu tertutup dan hanya terbuka saat bersama suami mu saja, maka pahala besar untukmu. Da ganjaran nya adalah surga jannatul ma'wa untukmu. Maukah kamu ikut Abang ke surga Nya Allah bersama-sama??''


Deg!


Deg!


Deg!


Mitha berhenti melangkah. Ia menatap Anto dengan mata berkaca-kaca. Anto tersenyum dan mengangguk. Mitha menunduk malu. Ia terisak.


''Hiks .. hiks.. ma-maaf...'' lirih Mitha.


Anto tersenyum, inilah yang disukainya dari adik bungsu Tama ini. Walau terkesan manja, tapi ia sangat lembut. Hatinya mudah tersentuh. Sama seperti Annisa.


''Sudah.. jangan menangis. Mulai hari ini, bertaubat lah. Abang lebih menyukai calon istri Abang memakai baju tertutup seperti kakak ipar. Kamu bisa terjaga dan juga tubuhmu tidak akan kepanasan. Dan juga .. kamu sudah mengurangi zina mata bagi para lelaki yang memandang auratmu. Hem??'' kata Anto lagi.


Mitha mengangguk. ''Baik, nanti malam Adek akan ngomong sama Abang tentang hubungan kita. Dan juga.. adek akan minta Abang untuk mengajari adek memakai pakaian tertutup demi melindungi diri dari dosa termasuk orang-orang yang melihat tubuhku secara percuma..'' lirihnya sambil menunduk


''Ayo, kita beli baju untukmu dulu. Untuk sekarang, Abang tidak bisa memberikan mu pakaian. Karena kamu masih tangung jawab bang Tama dan tuan Fabian. Tetapi setelah tugas itu tergantikan dengan Abang, maka kamu berhak mendapatkan nya.''


Mitha semakin tersedu. Inilah alasan utamanya pulang ke Medan. Demi Anto. Pemuda dewasa yang dulunya pernah menolongnya saat ia di kejar oleh Mama Karin untuk dibawa pergi menjauh dari Papa Fabian dan Tama.


Saat itu, Tama lah yang menolong Mitha untuk melarikan diri. Ia begitu kasihan melihat adik bungsunya itu disiksa oleh Mama tirinya. Mama Karin.


Ia di kurung tanpa diberikan makan dan minum karena menolak menurut dengan perintah Mama Karin untuk mencoba membunuh Tama. Pewaris tunggal keluarga Pratama.


Mitha menolak, lantaran selama ini hanya Tama yang sangat baik kepadanya. Walau berbeda ibu, tapi ia begitu menyayangi Mitha. Sikap juteknya kepada Mitha itu karena pernah terjadi kesalahpahaman diantara mereka berdua.


Karena itulah Mitha pulang ke Medan demi menyelesaikan masalah yang dulu pernah terjadi antara dirinya dan Tama. Kejadian yang membuat Tama hampir tiada. Dan Mitha lah sebagai pelaku yang tertuduh.


Padahal bukan seperti itu kejadian nya. Mitha sudah siap menunjukkan bukti yang ada di ponselnya kini. Selama lima tahun ikut Mama Karin ke Jakarta semua itu demi hubungan nya dengan sang Papa dan Abang kandungnya. Adrian Pratama.


''Ayo, kita masuk? Setelah ini kamu pulang ya? Masih ingat jalan pulang kerumah Abang bukan??'' goda Anto pada Mitha.


Mitha tersenyum walau dengan wajah sembab. ''Tau Abang. Terimakasih karena masih mau mengingatkan gadis tidak beradap seperti ku...'' lirihnya lagi masih dengan bibir bergetar.

__ADS_1


Andai.. Anto bisa menyentuhnya lebih dalam, pastilah saat ini ia kan memeluk erat tubuh chubby Mitha.


''Sudah sayang.. jangan menangis lagi. Ayo, mata mu sudah cukup bengkak itu. Mau kamu bang Tama menghajar Abang karena dikira telah membuat mu menangis, hem?''


Mitha menggeleng cepat. Ia mengusap wajahnya dengan cepat dan ia memaksakan tersenyum pada Anto walau air mata masih terus saja mengalir deras.


Anto terkekeh, ''Udah ih! Ayo, kita beli baju kamu dulu.'' Mitha mengangguk, mereka berdua masuk ke dalam butik muslimah itu dan mulai memilih baju yang cocok untuk Mitha.


Mereka tertawa bersama saat baju yang Mitha kenakan ternyata menggantung di kaki alias kurang dalam. Kaki jenjang Mitha tetap terlihat.


Terpaksa pemilik butik itu yang memilihkan baju yang pas untuknya tanpa di kenakan lagi. Tidak hanya baju gamis, hijab, serta yang lainnya sekiranya di butuhkan untuk menutup tubuh indahnya Anto belikan.


Ia berbohong pada Mitha bahwa itu uang Tama. Padahal itu uang pribadinya. Uang yang akan di pergunakan untuk sang istri nanti. Nafkah darinya.


Tama menatap dalam pada Mitha yang sedang menghitung jumlah belanjaan nya.


''Abang sangat mencintai mu Kamitha Andriyana Pratama.. sangat mencintaimu..'' lirih Anto dalam hati saat melihat senyum manis terus tersungging di bibir Mitha.


Jika untuk rumah, rumah Anto dan Tama berdekatan bahkan hanya bersekat dinding saja. Anto sengaja memilih tinggal dekat dengan Abang nya itu.


Karena takut terjadi sesuatu seperti kejadian sepuluh tahun yang lalu. Dimana Tama hampir tiada karena di coba bunuh oleh Mama Karin. Mamanya Mitha.


💕💕💕💕


Adek Mitha akan nongol terus ye? Karena dia yang akan menolong Tama saat terpuruk nanti! ups! hehehe..


*


Oke deh. Sambilan nunggu adek Annisa dan bang Tama update, mampir dulu yuk di karya temen othor yang satu ini.


Karyanya Kak Nazwatalita.


TAKDIR



Cus kepoin!


Like dan komen kalian selalu othor tunggu! 😘😘

__ADS_1


__ADS_2