Annisa Istri Kecilku

Annisa Istri Kecilku
Sunyi, sepi sangat terasa


__ADS_3

Bella, Syakir dan Arta memeluk erat tubuh Annisa. Lana dan Ira mematung melihat mereka berpelukan.


''Sudah.. jangan menangis. Abang dan kakak mu akan menepati janji kami. Tapi Abang tidak bisa berjanji bahwa Abang kan sering datang kesini. Kalian kan tau, kalau Abang itu punya usaha yang tidak bisa ditinggal begitu aja?''


Syakir mengurai pelukannya dari tubuh Annisa. Ia tersenyum menatap Tama. ''Iya, Abang tau kok seperti apa kesibukan bang Tama di bengkel dan showroom. Tak apa. Nanti Abang beri pengertian pada adek untuk bisa mengerti. Tapi kalau kapan saja kami datang kakak dan Abang nggak marah kan ya?''


Annisa tersenyum, ''Ya enggaklah. Ngapain pula kakak marah. Malahan Kakak senang kalau kalian datang. Inginnya tinggal bersama kalian dan menemani kalian hingga kalian dewasa. Tapi itu tidak mungkin. Kakak harus pergi kuliah ke Bandung. Undangan untuk datang kesanapun sudah ada. Tinggal menunggu kapan berangkat nya aja. Tapi kalian jangan khawatir, kalaupun Kakak jauh. Kalin tetap bisa kok menghubungi Kakak. Ya?''


Ketiga nya mengangguk patuh. ''Ya sudah, kami semua pamit. Bunda .. jaga diri dan kesehatan. Kalau Bunda butuh sesuatu, hubungi kakak ataupun bang Tama, ya? Jangan sungkan! Kakak bersedia Kapan pun kalian butuhkan!''


Deg!


Ira dan Lana seperti di tikam ulu hati mereka. Kenapa adiknya ini seolah menjadi yang paling bertanggung jawab disana? Sedang masih ada mereka berdua? Entahlah. Lana dan Ira memikirkan hal yang seharusnya belum terjadi.


''Tentu nak. Jangan pernah lupakan kami disini. Kami sudah tidak punya siapapun disini. Bunda hanya mengingat pesan Ayah. Kalau bunda tidak boleh pergi dari rumah ini terkecuali jasad Bunda..'' lirih Bunda Zizi dengan dada sesak.


Annisa mengelus lembut punggung Bunda Zizi. ''Tak akan pernah Bunda.. Bunda dan ketiga adikku sudah menjadi tanggung jawabku saat ayah berpulang ke pangkuan Allah. Kakak akan memegang teguh janji Kakak sama ayah. Bunda tidak usah takut. Kami pamit Bunda.. Uwak.. adek.. kakak pulang ya? Assalamualaikum..''

__ADS_1


''Waalaikum salam.. sering-sering lah menghubungi adikmu. Dan kalau tidak kamu akan tau kan seperti apa adik bungsu kamu itu?'' ucap Bunda Zizi membuat semua yang ada disana tertawa.


Ira dan Lana pun ikut tertawa.


Mereka semua masuk ke mobil masing dan mulai pulang ke tempat semula. Tiga mobil berlalu dari rumah ayah Emil. Terakhir Lana. Ia menatap rumah ayah Emil dengan dada yang masih sresak.


Masih teringat olehnya dulu saat ia mendatangi rumah itu dimana ayah Emil dan gadis pilihan nenek Rima sedang tertawa bersama.


Air mata menetes dari pipi nya yang tertutup helm fullface nya.


Tiga mobil itu mengklakson bersama. Begitu pun dengan Lana. Ia pergi dengan bibir tersenyum tetapi air mata bercucuran.


Kini tinggallah ke empat orang yang dilanda kesunyian yang mendalam itu. Selama seminggu ini mereka begitu senang saat seluruh keluarga nya berkumpul.


Tapi kini, mereka semua sudah kembali kerumah masing-masing. Syakir, Arta dan Bella memeluk erat tubuh ringkih Bunda Zizi yang semakin kurus selama seminggu ini.


Mereka menangis bersama. Sunyi, sepi seketika. Bahkan sangat terasa. Uwak Rita memeluk mereka berempat.

__ADS_1


''Sabar ya? Semua ini memang sudah menjadi kehendak takdir. Kalian harus bisa pasrah. Ingat, apakata Tama kemarin malam?''


Bunda zizi tetap diam. Ia terus memeluk ketiga anaknya. Uwak Rita melanjutkan nya lagi. ''Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati. Baik tua maupun muda, semuanya akan merasakan. Tetapi kapan dan dimana hanya Allah yang tau. Jika itu sudah terjadi, maka itulah ketetapan Nya yang harus kita terima. Kita yang ditinggal harus kuat dan tabah. Selalu ingat Allah dimana pun berada. Karena hanya Allah lah yang bisa menolong kita.''


''Minta pada Nya agar selalu memberikan ketenangan di hati kita. Dan untuk kamu Zi. Kakak tidak akan melarang mu untuk menikah lagi. Tetapi kakak ingin, jika kamu menikah lagi. Carilah suami yang bisa menerima kamu dan juga ketiga anakmu. Karena kakak tau, kamu butuh seseorang untuk membiayai hidup kalian bertiga. Kakak akan membantu kalian semampu kakak. Kamu dengar Zi?''


Bunda zizi mengurai pelukannya dari ketiga anaknya. ''Aku tidak akan menikah lagi kak. Sesuai dengan janjiku pada bang Emil dulunya. Bang Emil yang pertama dan terakhir untukku. Untuk kebutuhan ku sehari-hari aku masih bisa bekerja di perusahaan Bos Gilang. Suami mbak Alisa. Tadi beliau sudah menyuruhku untuk segera kesana kak. Tak apa. Kakak tenang saja ya? Palingan nanti aku nitip ketiga Anakku sama kakak saat aku bekerja..'' lirih Bunda Zizi pada Uwak Rita.


Uwak Rita menghela nafasnya. ''Ya sudah, kalau begitu kami pamit. Jaga diri. Kalau terjadi apa-apa, segera hubungi kami ya?''


''Tentu kak.''


''Tentu Wak.'' Sahut bunda Zizi dan Syakir bersamaan.


Mereka pun semua pulang setelah berpamitan pada Bunda Zizi. Kini tinggallah mereka berempat.


Sunyi.. sepi.. begitu terasa setelah semuanya pergi meninggalkan mereka berempat.

__ADS_1


__ADS_2