Annisa Istri Kecilku

Annisa Istri Kecilku
Anakmu, Bang Tama


__ADS_3

Kini semua orang sedang menikmati makan siang mereka yang tertunda. Bagaimana tidak, Tama dan Mitha senagaja menahan lapar demi bisa makan masakan Annisa setelah lima tahun berlalu.


Kenapa lima tahun? Bukankah Annisa meminta Tama untuk datang setelah empat tahun keberadaannya di Bandung sana?


Semua ini memanglah keinginnan Tama yang menginginkan datang menemui Annisa saat sudah lima tahun berlalu.


Tama memiliki alasan kenapa dirinya ingin menemui Annisa saat sudah lima tahun. Bukan karena kedua anaknya. Tetapi karena hal lain. Hal yang berkaitan dengan pembangunan showroom mereka yang ada di daerah Bandung. Yang Annisa sendiri pun tidak tau akan hal itu.


Dan saat ini Tama datang setelah menyelesaikan tugas tentang showroom nya itu. Selama ini Annisa tidak tau, jika Tama selalu mengawasi dirinya dari jauh melalui orang suruhannya.


Begitu pun sang papi. Ia pun tinggal diam begitu saja. Ia pun meletakkan satu orang kepercayaannya itu di sekitar Annisa agar ia bisa memantau kehidupan Annisa seperti apa.


Apakah kekuranagn atau tidak. Walaupun sang Papi tau, jika Annisa tidak pernah kekurangan karena kiriman Tama yang selalu membengkak di rekening pribadinya.

__ADS_1


Satu hal yang mereka semua tidak tau ialah tentang keberadaan duo bocil biang rusuh itu. Annisa sangat lihai menyembunyikan kedua anaknya dari mata-mata sang Papi.


Hingga saat melahirkan Annisa pun bisa mengelabui suruhan sang Papi itu hingga ia tidak tau jika Annisa akan melahirkan. Sungguh, Annisa begitu lihai dalam menyembunyikannya. Annisa ingin, seluruh keluarga tau saat permasalahan diantara keduanya sudah selesai.


Itu yang Annisa inginkan. Maka dari itu, ia memilih menyembunyiikan tentang kedua anaknya itu. Dan yang Annisa inginkan ialah sebelum orang lain tau tentang kedua anaknya dan akan menimbulkan kesalahpahaman lagi nantinya, Annisa ingin Tama lebih dulu yang tau tentang keberadaan darah dagingnya itu.


Dan ya, Annisa sudah menebaknya. Tama pasti akan shock saat mengetahui kedua darah dagingnya itu. Annisa puas akan hal itu.


Dan disinilah mereka berada saat ini. Di dalam kamar si kembar Tama dan Annisa saling tidur dengan memeluk salah satu anak kembarnya itu.


Annisa tersenyum, manis sekali. Tama sangat menyukai senyum itu. Senyum yang selama ini selalu ia lihat melaui potret orang suruhan nya.


"Bukan Adek nggak ingin ngomong sama Abang. Tetapi Adek pun baru tau setelah Adek pernah pingsan di pesawat dan tidak sadarkan diri selama dua minggu lamanya.."

__ADS_1


Deg!


Tama terkejut. "Pingsan?? Saat di dalam pesawat??" tanya Tama memastikan


Annisa mengangguk. "Ya, saat Adek berangkat ke Bandung tanpa berkabar sama Abang sama sekali. Hanya surat saja sebagai bukti Adek meminta izin kepada Abang waktu itu." Jelas Annisa dengan sendu membuat Tama mengingat kejadian lima tahun yang lalu saat Annisa melihatnya di showroom bersama Ustadzah Azura.


Tama menghela nafasnya. "Apakah kamu ingin mendengar tentang masalah di showroom itu sekarang, sayang?" tanya Tama pada Annisa yang kini sedang menatapnya dengan dalam.


"Nggak usah Bang. Nanti aja saat kita tiba di Medan. Pertemukan dulu Adek dengan Ustadzah Azura. Dan juga bukti rekaman cctv di ruangan kerja Abang dan kamar kita yang saat itu.. kalian tempati. Biar adek sendiri yang melihatnya dengan mata kepala ku sendiri seperti apa hal itu terjadi sebenarnya. Untuk saat ini, kita bicarakan dulu tentang kedua anak kita. Mereka kembar saat adek tau dari Sarah dan Mutia setelah dua minggu Adek tidak sadarkan diri waktu itu."


"Mereka bilang, kalau saat itu Adek sedang hamil delapan Minggu. Yang artinya sudah dua bulan sejak terakhir kali Abang menyentuhku waktu itu. Hari dimana perpisahan sekolah itu, adek memang udah hamil sebenarnya. Tetapi adek nggak tau. Ya.. Adek pikir datang bulan terlambat itu hal biasa. Eh, nggak taunya Adek hamil. Hamil anak kita berdua. Buah cinta kita yang begitu Abang inginkan selama ini. Dan Allah mengabulkan semua itu. Tetapi di saat kabar bahagia itu datang, kita malah diberikan ujian seperti ini."


"Tetapi tak apa. Selama Adek hamil mereka berdua tidak rewel kok. Mereka sangat baik dan patuh. Apalagi saat Adek menyebut nama Abang. Mereka berdua pasti anteng kembali. Walau sedang bertengkar sekalipun! Mereka berdua anakmu, bang Tama. Darah dagingmu. Buah cinta kita berdua. Maaf.. Jika Adek sengaja menyembunyikannya dari Abang."

__ADS_1


"Adek punya alasan untuk itu. Adek takut, jika Adek memberitahukan kepada Abang yang sebenarnya. Abang nanti akan menolak kehadiran mereka berdua. Padahal yang Abang tau, kalau saat Adek pergi, Adek tidak hamil. Adek tidak ingin menimbulkan kesalahpahaman lagi diantara kita berdua.." lirih Annisa dengan mata terpejam dan memeluk erat tubuh si sulung yang kini memeluk erat tubuhnya.


__ADS_2