
''Cepetan Anto! Ishh.. lelet banget sih bawa mobilnya?!'' sentak Tama begitu kesal
Sedari tadi mobil itu sangat lambat menurutnya. Padahal Anto sudah ngebut melajukan mobil di jalan raya yang sangat ramai pengendara lainnya.
Anto berdecak sebal. ''Sabar atuh Bang! Ini pun udah ngebut! Mau Abang, kita belum sampai kerumah sakit tapi kita juga bakalan masuk rumah sakit??''
Deg!
Tama terdiam. Ia duduk tenang kembali setelah tadi begitu gusar. Ia menghela nafas panjang.
''Maaf Nto.. Abang panik aja tadi. Masalahnya selama dua tahun ini Annisa tidak pernah sakit seperti itu. Mana ngigau manggil nama Abang lagi. Sabar sayang.. Abang datang...'' lirih Tama dengan meraup wajahnya kasar.
Senyum tipis terbit dari bibir Anto. ''Kamu berhasil Dek! Kamu berhasil! Sekarang Abang tau apa yang menjadi kelemahan bang Tama. Yaitu, kamu! '' gumam Anto dalam hati.
Tama kembali tenang tidak segusar tadi. Kini mereka hampir tiba didepan rumah sakit di sebelah pesantren Annisa.
Dari kejauhan sudah terlihat Pak Hamdi, ustadzah Hanim dan Sarah menunggu dengan cemas.
Tiba disana, Tama langsung saja berlari meninggalkan Anto yang terkekeh karena kelakuan nya.
Bagiamana tidak, mobil belum sepenuhnya berhenti, tapi Tama sudah ngacir lari keluar. Ia dengan segera memarkirkan mobil milik Tama dan turun mendekati Tama yang sudah berlari masuk kedalam ruangan Annisa.
''Gimana ini Dok? Tubuh pasien panas sekali. Obat penurun panas yang kiat berikan tidak mempan sama sekali. Mana yang di panggil belum datang juga? Ishh..'' gerutu seorang perawat pendamping dokter diruangan itu.
Braaakkk..
''Astaghfirullah!!'' suster dan dokter itu berucap bersamaan.
Mereka menoleh pada Tama yang sedang terengah-engah karena baru saja berlari. ''Haahh.. hoshhh.. hossshh.. gimana dengan adik saya? Apakah demamnya tidak turun?'' tanya Tama dengan segera mendekati bangkar dimana Annisa berada.
''Abaaang.. bang Tama... adek mau bang Tamaaaa.. abaaaangg... jangan pergiiiii... jangan pergiiiii...''
Deg!
Nyeri hatinya mendengar gumaman Annisa. Tama mendekat dan menyentuh tangan halus yang terasa begitu panas itu.
Tama mendekatkan wajahnya pada Annisa dan..
Cup.
Tama mengecup dahi Annisa yang masih terasa panas.
Klep, klep.
''A-abang... panas... haus...'' Tama terkejut ia melepaskan kecupan dari dahi Annisa dan menoleh padanya.
Tama tersenyum namun air mata mengalir. ''Adek haus??'' Annisa mengangguk.
__ADS_1
Mata itu tidak beralih sedikitpun dari Tama. Tama terisak, dengan segera ia mengambil minum yang tersedia di nakas itu dan memberikan nya pada Annisa menggunakan sedotan.
Annisa menyedot air itu begitu banyak saking hausnya. Mata Annisa tidak beralih kemana pun, tetap tertuju pada wajah tampan Tama yang sembab karena air mata terus beruraian.
Semua yang ada disana terdiam melihat itu. Termasuk dokter yang sedang mengurus Annisa.
Sadar jika diruangan itu bukan Hanya mereka berdua, tama menoleh pada mereka semua. ''Annisa sudah sadar, dan saya yang akan merawat nya. Terimakasih Dokter! Jika ada apa-apa nanti saya kabari. Dan untuk Pak Hamdi, ustadzah Hanim, Sarah, saya ucapkan terimakasih banyak Karena telah membawa Annisa kesini. Jangan khawatir tentang nya. Saya yang akan mengurusnya selama di rumah sakit ini. Sekali lagi terimakasih..'' ucap Tama dengan tulus.
Wajah tampan nan Sembab itu membuat semua orang disana kebingungan. Tapi tidak bisa berbuat apapun.
Karena sedari tadi yang di inginkan Annisa adalah dirinya. Pak Hamdi mengangguk begitu juga dengan Sarah.
''Baiklah kalau begitu, kami permisi pulang Bang Tama. Jika besok Annisa sudah sehat kami akan menjemput mu kembali. Mari Ustadzah? Jangan khawatir Annisa pada orang yang tepat.'' Kata Pak Hamdi dan diangguki Sarah.
''Mari Ustadzah?'' ajak Sarah.
Ustdzah Hanim menoleh pada Sarah, Sarah tersenyum dan mengangguk. ''Baiklah, kami permisi pulang ya? Besok pagi saya akan menjenguk Annisa lagi kesini. Bang Tama, jaga Annisa. Saya percaya anda bisa menjaga nya. Kami permisi. Assalamualaikum..''
''Waalaikum salam...'' sahut Tama dan dokter diruangan itu.
Setelah nyaereka bertiga keluar dan berpapasan dengan Anto. Anto tersenyum melihat Pak Hamdi. Pak Hamdi pun begitu.
Dokter pun melihat reaksi Annisa yang sudah tidak parah lagi seperti tadi. Namun panas itu masih terasa di tubuhnya.
''Baiklah Pak Tama. Jika ada sesuatu, cepat kabari kami. Untuk saat ini kami masih harus memantau Annisa. Kami permisi!''
Baunya seperti makanan. Annisa senang dan menatap Tama. Tama terkekeh, ''Adek lapar??'' Annisa mengangguk dan tersenyum manis padanya.
''Kemarikan Nto, Annisa mau makan. Kamu juga makan ya?'' kata Tama pada Anto
Anto mengangguk, ''Ya, tentu saja aku makan bang! Lapar perut ku! Sedari tadi belum makan! Sibuk nangani orang yang lagi patah hati!'' ketus Anto.
Tama terkekeh, Annisa tetap memandangi Tama dengan dalam. ''Lapar Bang..'' pinta Annisa dengan wajah pucat nya.
''Ya, ayo. Kamu duduk dulu biar bisa makan. Ini juga ada bubur? Mau?'' Annisa menggeleng
Tama mengangguk, kemudian ia mengangkat tubuh Annisa sedikit dan mendudukkan nya. Setelah nya, ia mulai membuka makanan itu.
Tama menyuapi Annisa dengan telaten. Mata Annisa tak lepas dari menatap Tama. Tama tersenyum lembut menatap Annisa.
''Aaa.. ini yang terakhir!'' Annisa membuka mulutnya dan menerima suapan dari tangan Tama.
Tama tersenyum lagi, yang semakin membuat jantung nya berdegup tak berirama. Mulut mengunyah, namun pandangan mata tetap pada sang pujaan hati.
''Abang nggak makan?'' tanya Annisa saat melihat Tama ikut makan bersama nya.
''Nanti saja. Minum obatnya dulu. Setelah ini istirahat. Abang mau sholat dulu. Udah hampir masuk waktu isya ini.'' Annisa mengangguk patuh.
__ADS_1
''Kamu mau sholat? Biar Abang siapkan mukenah nya?'' Annisa menggeleng
''Lagi kedatangan tamu,'' jawab Annisa
Tama mengangguk, kemudian ia berpamitan untuk sholat isya di musholla rumah sakit. Setelah selesai, ia makan terlebih dahulu.
''Anto, kamu pulang aja ya? Bengkel kosong saat ini. Begitu juga showroom mobil. Kamu awasi ya? Abang akan disini dulu untuk menemani Annisa. Pulanglah. Besok, Abang kabari kamu lagi.''
''Oke, aku pulang. Assalamualaikum..''
''Waalaikum salam..'' sahut Tama.
Melihat Anto sudah pulang, Tama kembali lagi ke ruang inap Annisa. Ia membuka pintu dengan perlahan, dan melihat Annisa sedang memainkan ponselnya miliknya.
Tama tersenyum, ''Belum tidur?'' Annisa menoleh
''Belum, nggak bisa tidur,'' jujur Annisa
Berulang kali ia berusaha memejamkan matanya, namun tetap tidak mau terlelap. Daripada dipaksa lebih baik ia tunggu Tama saja, pikir nya.
''Mau Abang temani?'' tanya Tama dengan menatap Annisa dari jarak yang dekat.
Annisa mengangguk, wajah itu masih datar. Tapi cantik walau hanya sedikit pucat.
''Oke. Kita akan tidur satu ranjang bersama. Nggak pa pa 'kan?'' Annisa menggeleng dan segera menggeserkan tubuhnya untuk memberi ruangan untuk Tama bisa tidur bersamanya di ranjang pasien.
Tama naik dan tidur berdempetan dengan Annisa. Ia miring menghadap Annisa, Annisa yang paham langsung saja masuk kedalam pelukannya.
Tama tersenyum, untuk pertama kalinya Annisa tidur dalam pelukannya setelah menikah.
Annisa pernah tidur dalam pelukan Tama terakhir kali nya saat ia berumur tiga tahun. Inilah kali pertama Annisa bisa tidur dalam pelukan Tama setelah kian tahun berlalu.
Dan itupun saat Annisa sudah sah menjadi istrinya. Baru saja nempel di pelukan Tama, Annisa sudah terlelap.
Tama terkekeh, ia mengecup kening Annisa dengan dalam. Rasa kantuknya mulai melanda saat merasakan kehangatan dari tubuh Annisa.
Tanpa sadar ia pun terlelap ikut ke alam mimpi bersama Annisa yang telah terlebih dahulu masuk ke alam mimpi.
💕💕💕💕💕
Assalamualaikum .. hehe..
Othor nyapa lagi yah..
Mengucapkan salam itu wajib bagi kita yang beragama muslim..
Jangan lupa tinggalkan jejak ya? 😁😁
__ADS_1