
''Apa urusannya dengan mu! Apa pentingnya untuk kamu tau? Aku tidak ada hubungan dengan mu sama sekali! Jadi, kamu tak berhak tau tentang privasiku! Ingat Azura? Kamu! Bukan siapa-siapa aku! Sedangkan Annisa .. ia mahram ku! Ia mahram yang halal untuk ku sentuh kapan pun aku mau!''
Deg!
''Apa?!'' pekik ustadzah Azura begitu terkejut.
''Untuk apa kamu datang kerumah ku? Dan darimana kamu tau jika aku memilki rumah disini?'' tanya Tama begitu dingin terhadap ustdazah Azura.
Ustdzah Azura masih shock dengan pernyataan Tama baru saja. ''Ta-tapi... kalian berdua 'kan belum menikah? Bagaimana bisa kalian-,''
''Apa mau mu, Azura?! Huh? Kamu tak perlu tau tentang urusan pribadi ku! untuk apa kamu datang kesini?! Ada urusan penting? Atau hanya Alasan mu saja? Ingat Azura! Aku tegaskan sekali lagi, AKU TIDAK MEMILIKI HUBUNGAN APAPUN DENGANMU. JADI MENJAUHLAH DARIKU! kamu dengar?!''
Deg!
''Bang! Aku kesini memang ingin menemui mu seperti janji kita kemarin-,''
''Janji yang mana?? Aku tidak pernah merasa berjanji padamu! Tapi kamu lah yang memaksaku untuk berjanji! Berjanji suatu hal yang bahkan tidak aku inginkan! Pulanglah Azura. Aku tidak ingin mengotori lidahku dengan cara berdebat denganmu!'' usir Tama secara halus.
Ustadzah Azura terkejut lagi. ''Tapi Bang, aku datang kesini untuk mengatakan kalau kedua orang tuaku sudah menyetujui, aku bertunangan dengan mu Minggu ini! Apakah kamu lupa bang Adrian??''
Deg!
Deg!
Annisa terkejut begitu juga dengan Tama. Annisa menatap Tama yang juga menatap nya.
''Ke dapur!'' bahasa mulut Annisa pada Tama.
Tama mengangguk kecil. Azura melihat tingkah mereka menjadi curiga. Curiga dari awal kedatangan Tama ke pesantren itu dua tahun yang lalu saat ia mengantar Annisa.
Tama menghela nafasnya. ''Oke. Kita bicarakan! Silahkan duduk! Aku akan ke belakang dulu untuk menuntun Annisa membuat kan minum untuk kita berdua,'' imbuhnya pada Azura.
Azura tersenyum. Padahal tadi wajahnya sudah menegang mendengar ucapan Tama yang menolak nya secara mentah-mentah.
Ustdzah Azura tersenyum jahat kala melihat Annisa di tuntun Tama menuju ke dapur.
Aku tidak akan membiarkan Adrian direbut oleh mu! Kau hanya anak kecil Annisa! Tidak mungkin Tama menyukaimu! Aku akan merebutnya darimu, lihat saja!
__ADS_1
Gumamnya dalam hati sambil melihat kesana kemari. Matanya menelisik ke seluruh ruangan.
Ia terkejut saat melihat foto Tama sedang berdua dengan Annisa di pantai. Bukan foto Annisa yang sekarang, tapi foto ketika Annisa masih SMP kelas satu.
Semua di dalam lemari kaca itu merupakan album kenangan mereka berdua. Azura mengepalkan kedua tangannya.
Sementara di dapur, Tama duduk jongkok di hadapan Annisa. Annisa tersenyum kaku pada Tama.
Tama tau itu. Ia menghela nafas panjang. ''Dengar sayang ! Abang dengannya tidak ada hubungan apapun! Abang tidak pernah berjanji seperti itu padanya. Itu hanya omong kosong nya saja. Kamu tau sendiri kan seperti apa Azura di pesantren mu??''
Annisa melihat ke arah lain. Tidak mau menatap Tama. Tapi Tama tidak mengizinkannya. Ia memegang kedua pipi halus itu untuk melihat padanya.
''Sayang..''
Annisa tersenyum, ia memegang kedua tangan Tama. ''Iya, adek percaya kok sama Abang. Adek tau seperti apa ustdzah Azura. Belum jadi aja dia udah mengklaim pada ku, jika Abang itu miliknya! Huh! Kesel sih? Tapi.. melihat Abang seperti ini, adek percaya! Abang tidak akan pernah berpaling ke lain hati! Tapi ingat Bang! Jika suatu saat adek mendapati Abang melakukan hal seperti ini, maka.. jangan salahkan adek jika adek akan menghilang dari muka bumi ini!''
Deg!
Tama tersentak dengan ucapan Annisa. ''Nggak sayang! Kamu nggak boleh pergi dari muka bumi ini! Abang masih butuh kamu di hidup Abang! Abang tidak akan berjanji, tapi Abang akan berusaha menjadi suami yang terbaik di hidupmu. Jangan katakan itu.. Abang tidak sanggup tanpa mu..'' lirih Tama dengan wajah sendunya menatap Annisa.
Tama terkekeh. ''Ya sudah, kita buatkan saja kopi pahit untuknya. Agar dia siap menerima kenyataan pahit seperti yang akan ia alami sebentar lagi!'' Annisa tertawa.
''Jangan gitu ih! Nggak baik loh.. tamu itu adalah raja. Jadi.. kita harus menghormati nya!''
''Ya, jika tamu itu baik, tentu Abang hormati! Lah ini? Datang-datang sok pingin tau segala kehidupan Abang?! Emang dia itu siapanya Abang?! Heh! Males ah! Kalau kamu nggak keluar, Abang pun tidak akan keluar! Biar saja dia menunggu disana!'' ketus Tama dengan wajah kesal.
Annisa tergelak.
Deg!
Jantung ustdzah Azura berdenyut sakit. Ia yang ingin datang ke dapur untuk melihat Tama dan Annisa, ia di suguhkan dengan pemandangan yang menusuk relung hatinya.
Cup!
''Eh? Abang ishhh.. suka banget sih nyuri-nyuri kesempatan?!'' sewot Annisa.
Tama tertawa.
__ADS_1
Cup.
Lagi ia kecup putik merah jambu yang sudah membuatnya candu itu. Ustdzah Azura melototkan matanya. Kakinya lemas tak bertulang.
Matanya panas. Rasanya ingin terbakar saat itu juga. Sementara dua sejoli itu larut dengan gairah kasih sayang mereka.
Melumaaat memagut dan mengecap bibir manis sang istri yang selalu membuat nya merasakan sensasi lain saat menyentuh nya seperti itu.
Dirasa cukup, Tama melepaskan nya. Ia menyatu kan kening nya dengan Annisa. Nafas mereka berdua memburu.
Tama terkekeh melihat wajah merona Annisa. Annisa jadi malu. Ia memukul dada Tama dan memeluknya dengan erat.
Tama tertawa. ''Hahaha .. Abang suka kamu yang malu-malu seperti ini! hem?''
Annisa menggeleng. Tama semakin tertawa. Semua itu tak luput dari penglihatan mata ustdzah Azura.
Tangannya mengepal erat. Ingin sekali menarik gadis kecil yang sedang berada di pelukan Tama itu. Tapi itu tidak mungkin. Rahasianya pasti akan terbongkar nanti.
Jika tujuannya adalah untuk merebut Tama secara paksa dari Annisa. Adik angkat Tama. Dirasa cukup panas, ia kembali bergegas duduk di sofa ruang tamu dengan berpura-pura melihat seluruh ruangan rumah Tama.
Setelah acara pagutan tadi selesai, kini kedua pasangan beda usia itu menuju keruang tamu kembali untuk berbicara hal yang serius dengan ustdzah Azura.
Mereka berdua duduk berdampingan setelah meletakkan minuman di meja tepat di hadapan ustdzah Azura.
''Maaf, kami tidak punya persiapan apapun. Hanya ada jus saja. Silahkan di minum,'' ucap Tama dengan sopan pada ustadzah Azura.
Ustadzah Azura memaksakan senyumnya. Ia mengangguk dan menyeruput jus itu dengan tenang.
Padahal hatinya begitu panas saat ini. Melihat perbuatan dua orang tanpa status itu, membuatnya naik pitam. Ingin sekali mencakar dan menjambak gadis kecil itu.
Tapi ia tahan. Ia tetap tersenyum manis pada Tama, tapi tidak pada Annisa. Annisa tau itu. Tapi ia tidak peduli.
Yang penting Tama tetap berada di sisinya. Itu sudah cukup untuknya.
💕💕💕💕
Like dan komen!
__ADS_1