Annisa Istri Kecilku

Annisa Istri Kecilku
Hancur sehancur-hancurnya


__ADS_3

Annisa berjalan gontai menuju ke samping showroom dimana ada tanaman bunga Bougenville disana yang ia tanam dulu saat pertama kali ia datang ke showroom Papa Fabian bersama Tama.


Aaaaaaaaaa....


Annisa meriang dan menjerit pilu ketika tiba didamping taman bunga itu. Ia memukul dadanya yang begitu sesak tak tertahankan saat ini.


''Aaaaaaaaaaa... huaaaaaaaa... tidaaaaaaakkkk... haaaaaaaaaa.. abaaaaaaaaaangggg... haaaaaaaaaa... Abang jaahaaaaatttt!!!'' raungnya begitu pilu.


Sedangkan di salah satu kamar yang ada di showroom itu seorang lelaki tersentak kaget saat merasakan dadanya sepeti di himpitan batu besar hingga sulit rasanya untuk bernafas.


''Sayangku!!'' serunya dengan nafas tersengal-sengal.


Keringat dingin membanjiri seluruh tubuhnya yang kini sudah tidak menggenakan pakaian. Mata itu begitu berat untuk dibuka seakan ada lem disana yang menempel.


Annisa masih saja menangis seorang diri di taman bunga miliknya itu. Ia memukuli dadanya yang begitu terasa sesak karena mengingat pemandangan yang begitu menggoreskan relung batinnya.


''Haaaaa... aaaaaaaaaa.. Abang jahat padaku! Haaaa tidaaaaaaakkkk... Abang jaahaaaaatttt!!! Abang jaahaaaaatttt!!! haaaaa... aaaaaaaaaa...'' Raung Annisa semakin menyayat hati.


Siapapun yang mendengarnya mau apsgi akan merasa kan sakit yang Annisa rasakan saat ini.


Seseorang yang baru saja terbangun itu masih saja terduduk. Ia masih mencoba menenangkan hatinya yang entah kenapa terasa tidak tenang.

__ADS_1


''Sayang...'' lirihnya dengan mata terpejam.


Sekujur tubuhnya masih mengeluarkan keringat dingin. Ia sedang mencoba menhan reaksi dari tubuhnya sendiri yang saat ini semakin menggila hingga tidak tertahankan.


''Sayangku...''


''Abaaaaaaaannnggggg... Abang tega padaku. Sakit bang! Hiks.. sakiiiiiittt.. aku harus apa Bang? Kenapa sangat sakit ketika mata kita sendiri yang melihatnya?? Haaaaa... Abang... hiks.. hiks..''


''Sssttt.. sayang...''


Ia sudah tidak sanggup lagi untuk bergerak saat ini. Seluruh tubuhnya seperti terbakar dan sangat panas.


''Haaaaa... Abang jahat! Abang kejam! Tega Abang sama aku! Haaaaaaaaaa...'' raungnya lagi.


Annisa tidak tau harus berbuat apa sekarang. Ingin marah? Marah pada siapa?? Ingin memukul, tetapi yang ingin dipukulinya sedang tidak bersamanya.


Kalau orangnya ada, pastilah saat ini Annisa sudah menghajar nya habis habisan. Kenyataan pahit yang ia dapatkan hari ini begitu membuatnya terpuruk.


Begitu membuatnya hancur sehancur-hancurnya. Ingin berlari pulang, tetapi kaki itu tidak kuasa untuk berjalan.


Seluruh tubuhnya terasa lemah tak berdaya. Kepalanya pusing karena sudah terlalu lama menangis. Annisa terus saja memukuli dadanya yang berlapis bahu hingga sulit untuk bernafas

__ADS_1


Sedang sibuknya Anisa meriang seorang diri, tiba-tiba ponselnya berdering. Annisa tersentak. Dengan tangan gemetar ia mencoba mengambil ponsel yang ada di dalam tas Selempang miliknya.


Ia menatap layar ponsel miliknya yang sedang terpampang nama sang sahabat. Masih dengan tersedu Annisa mencoba mengangkat panggilan itu.


''Ha-ha hiks llo Tia??'' ucapnya masih dnwgn tersedu.


Air mata itu tidak berhenti untuk mengalir. Annisa mengusap air mata itu dengan kasar. Mutia yang sudah mendengar suara Serka Annisa merasa aneh.


''Nis?? Kamu kenapa?? Kamu nangis? Kenapa? Apa bang Tama tidak mengizinkan mu untuk berangkat besok pagi?'' cecar Mutia dengan banyak pertanyaan.


''Hiks . En-nggak kok. Hiks.. Abang ngizinin kok. Hiks. Aku tidak ada apa-apa hiks sama Abang. Kami sedang bersama saat ini,'' Annisa meremat lagi dadanya yang terdapat begitu sakit. ''Hiks.. kamu sih ganggu aja!'' ucapnya pura-pura ketus. Padahal saat ini ia sedang menangis seorang diri.


Demi menutupi dirinya yang sedang tidak baik-baik saja, Annisa sengaja melakukan hal itu. Sementara Mutia di seberang sana terkekeh.


''Maaf Nis. Aku kira kamu sedang Tidka baik-baik saja. Aku khawatir sih. Hatiku tidak enak sama sepeti Sarah. Sedari tadi Sarah sudah menghubungi mu. Tetapi kamu tidak mengangkat nya. Kami panik Nis. Maaf.. kalau begitu aku tutup ya? Jangan lupa besok pagi-pagi sekali kita sudah berkumpul di bandara,'' ucapnya pada Annisa yang kini semakin tersedu.


Sakit sekali hatinya saat mendengar suara sang sahabat mengatakan hal itu. ''Ya, aku tutup. Hiks.. besok kita bertemu di bandara! Assalamualaikum..''


''Waalaikum salam..'' lirih Mutia semakin tidak tenang.


Annisa kembali tersedu. Ia meraung lebih kuat dari yang tadi. Seluruh hati dan pikiran nya saat ini benar-benar hancur. Ia tidak tau harus berbuat apa saat ini.

__ADS_1


Sadar, jika ada dua orang yang sedang menunggu nya. Ia mengusap kasar air mata yang terus berjatuhan tanpa henti di wajah mulusnya.


''Baik, aku akan pergi ke Bandung seperti yang sudah di tentukan. Aku pergi bang Tama. Semoga kamu bisa menerima nya. Kita akan menyelesaikan masalah ini saat aku sudah selesai dari sekolah ku nantinya. Jika Abang sanggup menunggu, silahkan tunggu. Tetapi jika tidak, berarti cukup sampai disini usia pernikahan kita. Aku harus pulang ke rumah. Hiks.. kenapa masih sakit???'' lirihnya masih dengan terisak.


__ADS_2