
''Besok, kita menemui kakak ipar mu, hem?'' kata Tama pada Mitha yang saat ini masih betah dalam dekapan Tama.
Mitha mengangguk, ''Tentu. Adek harus banyak belajar dari Kakak ipar. Sungguh beruntung Abang bisa memiliki nya. Tidak seperti ku ..'' lirih Mitha begitu sendu.
Tama tersenyum, ia mengurai pelukannya dan memegang kedua bahunya Mitha yang menunduk. ''Dengarkan Abang. Tidak perlu malu saat kita belajar ingin menjadi lebih baik lagi. Kamu tidak perlu malu. Seharusnya kamu bangga karena masih ada orang terdekatmu yang menginginkan dirimu berubah menjadi lebih baik lagi. Pernyataan jika hidayah itu datang dari orang yang tepat. Termasuk dari calon suami kamu?''
Mitha mengangguk setuju. ''Ngomong-ngomong.. kapan nih kamu dinikahin sama Anto? Jangan lama-lama loh.. entar berujung dosa. Mau Kamu?''
Mitha menggeleng cepat. ''Ya enggaklah Abang. Biarkan adek bertemu dengan Kakak ipar dulu besok, baru setelahnya adek putuskan.''
''Oke. Kita anggap Masalah yang lalu selesai. Sekarang tinggal menunggu masalah pernikahan kamu yang akan di adakan kapan. Satu bulan lagi? Dua bulan? Atau lima bulan lagi setelah kakak ipar mu cuti semester??'' tanya Tama pada Mitha.
__ADS_1
Mitha meletakkan tangan di dagu sambil ia ketuk ketuk pelan seolah sedang berpikir. ''Emmm.. kita lihat nanti aja deh Bang, adek ingin ketemu kakak ipar dulu pokoknya!'' jawabnya mantap.
Tama terkekeh. ''Baiklah tuan putri.. Apapun keputusan mu semoga itu yang terbaik buat kamu. Ayo, istirahat dulu. Kamar kamu ada di sebelah kamar Abang. Anto juga sering menginap disini. Walaupun ia punya rumah dekat sama Abang. Tapi ya begitu. Tetap ingin tinggal bersama Abang,'' celutuk Tama membuat Mitha terkekeh.
''Itu tandanya kalau bang Anto sayang sama Abang. Kami berdua sayang sama Abang. Abang tau, selama adek di Jakarta bang Anto lah yang selalu melaporkan segala sesuatu yang terjadi sama Abang. Termasuk saat Abang kecelakaan dan pulang kemari masih dalam keadaan terluka. Adek tau semuanya..''
Tama tersenyum, ia mengusap surai hitam milik Mitha. ''Ya, Abang tau itu. Kalian berdua bersekongkol untuk menyembunyikan hal ini dari Abang. Untung saja kakak ipar mu begitu jeli. Hingga Abang tau semuanya.''
''Ya, Abang pun begitu. Ingat, mulai malam ini semua baju kamu yang tidak bisa kamu pakai, buang atau jadikan kain lap saja. Diberikan untuk orang lain pun percuma. Menambah dosa!''
Mitha tersenyum nyengir. ''Iya, tuanku raja Adrian Pratama... gimana sama ratu kamu ya Bang? Kok bisa sih dia betah banget sama kamu yang cerewet ini??''
__ADS_1
Tama tertawa. ''Kamu salah dek. Jika dia sudah pulang, maka Abang lah yang selalu mendapat kan Omelan nya. Apapun dan segala hal ia selalu mengomel. Padahal selama Abang bersamanya dari bayi hingga sekarang, kakak mu itu orangnya manis dan sangat pendiam. Eh, tak taunya pecah Periuk di dapur kalau ratu ku itu sudah pulang!'' celutuk Tama membuat Mitha tertawa terbahak.
Begitu juga dengan Tama. Mereka berdua membicarakan sang ratu yang saat ini masih bertugas di sekolahnya.
Sedangkan Annisa bersin-bersin tidak jelas saat ia sedang menulis sesuatu di papan tulis. Hingga cairan kental itu melorot hingga menetes ke bibirnya.
Annisa terkekeh. ''Pasti lagi ada yang nyeritain aku nih. Aku jamin, Jika itu adalah Abang. Siapa lagi yang sering sebut sebut aku saat ia sedang bercerita dengan orang lain?? Hah.. semoga Abang nggak marah nanti saat tau apa yang akan ustadzah Hanim katakan padanya. Semua ini demi masa depan ku. Ya.. Walaupun ku tau jika aku sudah menikah. Kan boleh saja sekolah waktu sudah menikah? Huffftt.. Aku tetap harus mengikuti apa kata bang Tama. Semoga saja Rajaku itu tidak marah padaku besok. Ya, semoga saja.'' lirihnya dalam hati.
Bibir yang tadinya melengkungkan senyum, kini tiba-tiba mendadak sendu. Takut, jika Tama tidak mengizinkan usulan yang ustdzah Hanim berikan nanti untuk nya.
Semoga saja kehadiran Mitha bisa meredakan kekesalan Tama pada Annisa nantinya. Semoga saja.
__ADS_1