
Tama masih menatap Annisa yang kini tersedu karena melihat dirinya. Anto dan Mitha pun menatapnya dengan tatapan yang begitu terkejut.
"Ja-jadi.. Se-selama ini kakak ipar.." ucap Mitha tergantung kala bocah kembar itu melirik ke arahnya dengan mata yang masih basah dengan air mata.
"Hiks.. Tante siapa? Kok mirip dengan Papi Tama??" tanya si gadis cantik mirip dengan Tama itu.
Mitha yang masih tertegun dengan kedua bocah rusuh yang diberi gelar tuyul oleh kedua sahabat Maminya hingga othor di katain, membuatnya menoleh pada si kembar sepasang itu.
Bibir tipis yang sednag menggendong anak balita sebaya si kembar itupun tersenyum lembut padanya. "Ya, Tante adiknya Papi Tama. Boleh Tante tau siapa nama kalian berdua?" tanya Mitha dengan segera menurunkan satu orang bocah laki-laki mirip dengannya itu ke tanah dan ia pun berjongkok dimana Tama yang kini pun sedang terduduk di tanah dengan memeluk kedua anaknya itu.
Kedua bocah rusuh itu melepas pelukannya dari rubuh hangat sang Papi dan menyusut cairan kental itu hingga berbunyi.
Srrrooottt..
Srrroooott..
Tama terkekeh, begitu pun dengan Mitha. Annisa yang sudah kuat berdir pun kini berjalan di temani kedua sahabatnya menemui Tama.
__ADS_1
"Ayo, Bang Tama, kak Mitha, Bang Anto. Masuk dulu kerumah. Nggak enak dilihat orang diluar begini. Ayo Nis, ajak keluarga masuk! Lihat tuh, tetangga kita pada kepho!" ucap Sarah sedikit ketus ketika ,melihat para tetangganya keluaran dari rumah mereka untuk melihat siap tamu Annisa.
"Baik, ayo nak! Abang butuh penjelasan dari kamu tentang hal ini!" tegas Tama tetapi denagn kata-kata yang lembut.
Mata Annisa kembali berkaca-kaca. "Kamu masih sama seperti yang dulu Bang Tama. Bagiaman caranya aku berpindah kelian hati, jika hatiku masih terpaku padamu dan sangat terpaut padamu suamiku, imamku, cintaku, serluruh hidupku," batin Annisa menatap haru pada Tama yang kini mengandeng kedua anaknya untuk masuk kedalam rumah Annisa yang di tempati Annisa selama lebih kurang lima tahun ini.
Mereka semua masuk kerumah itu sambil tertawa melihat tingkah lucu dari duo rusuh itu. Di dlam rumah sudah tersedia makan yang begitu menggugah selera.
Kedua bocah rusuh Annisa dan Tama itu pun berbinar meliaht yang sudah terhidang di lantai. Lagi dan lagi Tama tertegun. Ia menatap haru pada Annisa.
"Assalamu'alaikum Abang.." lirih annisa saat mengecup tangan itu dengan takzim.
Tama tersenyum, tangan kirinya pun terulur untuk mengusap ubun-ubun Annisa dan membaca doa disana.
Tes.
Tes.
__ADS_1
Buliran bening dari mata Annisa menetes di tangan Tama. "Wa'alaikum sayangku.. Cintaku.. Pujaan hatiku.. Bidadari surgaku.." lirih Tama begitu pelan dan hanya Annisa saja yang mendengarnya.
Annisa bangkit dan mentap Tama yang kini juag sedang menatapnya denagn lembut. Tama mendekati wajah Annisa dan mengecup lembut dahinya.
Annisa memejamkan kedua matanya saat merasakan deru nafas hangat Tama dan juag kecuapn kasih sayang dari Tama setelah sekian tahun lamanya.
Diarasa cukup, Tama melapaskan kecupan itu. Ke empat orang yang berada tidak jauh dari mereka berdua terharuu melihat kedua pasangn beda usia yang saling menyayangi dan membutuhkan satu sama lain itu.
"Duduk, Bang. Adek udah masak banyak untuk kalian semua. Astagfirullah ya Allah. Abang! Adek!" seru Annisa begitu terkejut kala melihat kedua biang rusuh itu sedang makan kue khusus yang Annisa buat untuk Tama kini dlahap habis oleh kedua anaknya.
Tama tertawa melihatnya. "Isshh.. Kok dihabisi sih sayang? Itu Mami buat khusus untuk Papi lohh.." tegur Annisa pada kedua anak kembarnya itu dengn sedikit kesal karena tingkah mereka yang selalu membuat Annisa terkadang marah kepada mereka berdua.
"Sudahlah sayang. Biarkan saja mereka yang makan. Toh, kamu bisa buat lagi akn nanti untuk Abang? Abang lama kok disini? Seminggu loh.." goda Tama Pada Annisa membuat sang istri tersipu malu.
Entah kenapa sedikit saja ucapan Tama yang menggodanya membuat pipi Annisa memerah. Mitha, dan Anto terkekeh melihatnya.
Sedangakan kedua sahabat Annisa itu sibuk mengurus kedua bocil biang rusuh Annisa dan Tama itu.
__ADS_1