
Setelah mendengar pencerahan dari Rayyan, kini Annisa lebih mantap lagi. Hanya dia yang tau apa keputusan nya. Yang jelas, pencerahan dari Rayyan sangat berguna baginya yang sedang membutuhkan pencerahan.
Annisa sangat, sangat, bersyukur akan kehadiran Papi Gilang dan Rayyan di dalam kehidupan mereka.
''Ya sudah, sekarang sudah lebih baik kan? Setelah mendengarkan pencerahan dari seorang calon CEO Bhaskara group??'' goda Mak Alisa pada Rayyan.
Rayyan tersenyum jumawa. ''Yes! Cakep Mami! Bener sekali! I Love You so mucchh.. untuk Mami ku tersayang, Cup!'' lagi, Rayyan mengecup pipi Mak Alisa di depan sang Papi.
Membuat pria matang belum terlalu paruh baya itu melotot tak terima pada putra sulungnya. ''Ck! Udah ih! Jangan di garap terus napa istri Papi?! Ck! Awas! Minggir!'' ketus Papi Gilang pada putra sulungnya itu.
Annisa tertawa. Sedangkan Rayyan hampir saja terjungkal Jika tidak di pegangin oleh Mak Alisa.
PLAKK!
''Allahu Akbar!! Sakit sayang! Kok di timpuk sih?! Ini kekerasan dalam percintaan namanya! Ishh.. panas ih! Haduuhh..'' keluh Papi Gilang sambil mengusap lengan kirinya yang di pukuli oleh Mak Alisa begitu kuat karena menarik Rayyan secara paksa hingga mengakibatkan putra kesayangannya Mak Alisa itu hampir terjatuh, jika Tidak ia pegangi.
Mak Alisa menatap tajam pada Papi Gilang. ''Apa?! Nggak suka?? Makanya jangan buat kayak gitu! Kalau anaknya jatuh gimana? Mau kamu Abang masuk rumah sakit gegara kelakuan mu yang tidak ubah seperti anak kecil itu?!'' ketus Mak Alisa begitu kesal kepada Papi Gilang.
Rayyan cengengesan menatap sang Papi yang melotot padanya. ''Hehehe.. I am sorry my friend! Don't be mad at me please...'' ( aku minta maaf, tolong jangan marah padaku ) pinta Rayyan dengan mata puppy eyes nya.
__ADS_1
Membuat Annisa tertawa, Mak Alisa masih jutek sama Papi Gilang. Sedang sang Papi memutar bola mata malas melihat tingkah putra sulung nya.
''Okey.. fine! You Win! Ya, kamu menang! Papi kalah! puas?!'' ketus Papi Gilang begitu kesal pada putra sulungnya itu.
Selalu saja hal itu yang Rayyan katakan ketika sang Mami marah pada Sang Papi. Papi Gilang mengalah, pria matang belum paruh baya itu lebih memilih duduk dengan Annisa dan memeluk putri sambungnya itu.
''Tak masalah jika Mami kamu marah. Tapi punya kakak untuk Papi sayang. Iya kan Nak??'' kata Papi Gilang sa mengecup kening Annisa sekilas.
Membuat Mak Alisa jengah akan sikap suami muda dan tampannya itu. Sementara Annisa tergelak saat melihat wajah Mak Alisa kesal kepada sang Papi. Papi Gilang tidak peduli. Siapa suruh tadi memukul lengan nya hingga meninggal kan rasa perih?
Sok.. rasain!
'''Udah ih! Kalian kemari ingin nemuin kakak kan? Udah Mak.. damai atuh ih!'' tegur Annisa pada Mak Alisa yang masih kesal kepada Papi Gilang.
Rayyam masih saja tertawa. ''Hahaha.. jadi bermusuhan ini. Padahal kan saling cintaaaa...'' Golda Rayyan kepada kedua orang tuanya.
Maj Alisa melengos, begitu juga dengan Papi Gilang. Sama-sama buang muka. ''Mak, Papi, Dek.. Terimakasih banyak karena telah memberikan pencerahan pada Kakak. Maaf.. Jika dua Minggu yang lalu kakak kabur dari kalian semua.. benar kata Adek, Kakak ini masih labil. Tidak bisa mengambil keputusan. Hanya karena hasutan dari gadis yang bernama Husna itu, Kakak kecewa sama bang Tama.. Kakak pergi dan kabur darinya tanpa mendengar kan penjelasan nya. Maafkan Kakak Mak, Papi.. maaf...'' lirih Annisa sembari menunduk sendu.
Mak Alisa tersenyum, ia mendekati Annisa dan memeluknya dengan sayang. ''Tak apa nak.. Memnag sudah seperti jalan takdir yang harus kamu lalui. Pesan Mak, bersamaku dengan takdir masa depan mu. Jangan dengarkan apapun yang orang lain katakan. Seperti yang Abang bilang tadi, kalau kamu harus yakin dengan hubungan mu. Karena hanya kamu yang tau apa dan bagaimana kelangsungan hidup untuk. hubungan mu dengan Tama.
__ADS_1
''Mak yakin, kamu pasti bisa memilih mana yang baik dan bisa kamu kerjakan dan mana yang tidak. Ingat nak. Kamu sudah menjadi isteri Tama. Jadi haram bagimu untuk melangkah satu langkah saja dari rumah kalian tanpa izin darinya. Termasuk ketika nanti Mak, ayah dan Papi tiada. Seorang anak perempuan itu merupakan perisai bagi kedua orang tuanya di akhirat kelak. Karena dengan kamu menurut akan perintah suami mu, maka surga lah hadiahnya untuk kami yang telsh melahirkan dan meerawatmu.''
''Patuh dan menurut lah padanya. Semua itu baik untukmu. Dan ingat! Diharamkan bagi seorang istri untuk masuk surga bahkan mencium bau surga jika ia meminta cerai kepada suaminya tanpa alasan yang jelas. Setiap masalah itu ada jalan keluar nya. Berpikir lagi dengan bijak sebelum kamu mengambil keputusan. Keputusan yang baik, akan menentukan masa depanmu. Ingat Nak. Kamu berdosa jika kamu menolak keinginan suami dakksm setiap hal. Mengerti??''
Annisa mengangguk, lalu Annisa menatap Papi Gilang, Papi Gilang terkekeh. ''Tenang sayang.. Papi juga sudah memiliki perisai untuk di akhirat kelak. Nara. Perisai Papi untuk menuju surga Nya Allah.'' jelas Papi Gilang dengan tersenyum lembut pada Annisa. Putri sambung sedari ia bayi.
Annisa menunduk. ''Isyaallah Mak, kakak mengerti dan sanggup serta siap menjalani pernikahan ini dengan Abang. Semua ini demi kalian bertiga. Agar kelak disurga, kalian bisa bertemu bersama. Kakak akan menuruti semua perintah Abang. Untuk sekarang, biarkan kakak di pesantren dulu. Jangan katakan pada Abang, kalau kakak sudah menerimanya kembali.''
Annisa menghela nafasnya. ''Sebenarnya kakak tidak ingin berpisah. Tapi ada satu hal yang nanti harus kakak tegaskan kepada Abang. Tapi tunggu kakak lulus dulu. Semua ini demi kebaikan bersama. Mak dan Papi, kakak harap mengerti. Apapun yang terjadi ke depannya, itu merupakan goresan takdir untuk kami berdua. Bisa kan?'' pinta Annisa dengan sangat kepada kedua orang tuanya.
Anak Alisa tersenyum lembut menatap putri bungsunya ini bersama ayah Emil. ''Tentu. Keputusan takdir itu adalah yang terbaik untuk kita semua. Selalu berserah diri padanya. Libatkan Allah dalam setiap rencana masa depan yang akan kamu susun. Karena dengan kamu melibatkan Allah, maka semua itu pasti akan terlaksana dengan baik. Kuncinya, sabar dan tawakal. Serta perbanyak komunikasi dengan Tama. Jangan lagi menolaknya. Kamu tidak tau, seberapa rapuhnya Tama saat tau kamu pergi meninggalkan nya.''
''Mak harap janji yang baru saja kamu ucapkan, akan terlaksana dengan baik. Satu pinta Mak. Kalau ada masalah jangan lari. Cari tau dulu kebenaran nya, baru setelah itu kamu putuskan. Hem? Mak yakin, putri Mak ini sudah dewasa. Dewasa sebelum waktunya. Padahal hatinya di dalam begitu rapuh. Kamu bisa nak. Mak yakin itu!'' ucap Mak Alisa pada Anisa.
Begitu banyak petuah bijak dan nasehat untuk dirinya dan Tama dalam kehidupan rumah tangganya. Semoga saja, Annisa tidak berulah lagi dikala ujian rumah tangga menimpa mereka kembali.
Semoga saja.
💕💕💕💕
__ADS_1
Kalau sanggup, nanti malam ada satu lagi. Jangan di tungguin! 😁😁