
Setelah makan siang bersama, kini mereka sedang melaksanakan sholat duhur di mesjid. Papi Gilang, Kakek Yoga, Tama, Rayyan dan Algi mereka berlima sudah pergi sedari suara adzan berkumandang.
Dengan mengendarai mobil Papi Gilang, Tama yang menyetir. Sedangkan ke empat wanita dirumah itu sedang beristirahat. Salah satunya Annisa.
Tubuhnya begitu lelah setelah perjalanan panjang tadi. Ia tidur dikamar beralaskan Ambal bulu. Ia merebahkan dirinya yang begitu lelah disana.
Ia terlelap saat merasakan hembusan angin yang berhembus melalui jendela kamar yang dibuka oleh nya. Sedangkan Nara dan kedua keponakan nya itu sedang tidur di kamar nenek Alina.
Mereka bertiga ingin tidur siang di temani kedua paruh baya lanjut usia itu. Rumah itu mendadak sunyi sepi saat para lelaki yang baru saja pulang dari mesjid.
''Lah, kok sepi?? Pada kemana nih?'' ucap Algi sambil celingak-celinguk mencari keberadaan mereka semua.
Papi Gilang Terkekeh, ''Istiraharatlah! Kami dan saudara-saudara mu yang lain pasti sedang istirahat saat ini. Kamu juga Bang. Sedari kemarin jadi supir pasti lelah.'' Katanya pada Tama.
Tama mengangguk dan tersenyum, ''Iya Pi. Tama istirahat dulu ya Kek?''
Kakek Yoga tersenyum, ''Ya, pergilah. Kakek pun ingin istirahat. Pegal punggungnya. Udah tua. Maklum saja!'' katanya pada pada keempat orang itu.
Mereka terkekeh bersama.
Setelah nya mereka berempat pun menuju kamar masing-masing. Tama kebingungan saat melihat ada tiga pintu disana. Rayyan terkekeh, karena Tama menggaruk keningnnya yang tidak gatal.
''Abang masuk aja ke pintu itu. Kakak ada dikamar itu. Ia tidak mungkin masuk ke kamar kami.'' Kata Rayyan sambil terkekeh, ia dan Algi masuk ke kamar mereka.
Papi Gilang menepuk pundaknya dengan pelan. ''Masuklah, jika kamu ingin bersama nya. hem? Papi juga mau istirahat. Lelah! Hah! Mak kalian itu! Jika Papi menolak, Papi akan di pecat jadi suami olehnya! Ada-ada saja! Mana bisa aku pisah sehari saja darinya! Bisa berkarat ini kayu laut milikku! Awas kamu sayang! Jangan salahkan aku akan menghukum mu setelah ini! Ck! Tau saja dia rumahnya. Baru menyebut nya saja sudah on! hadeuuhh..'' gerutu Papi Gilang sambil berjalan masuk menuju ke kamar nya.
Tanam terkekeh mendengar gerutuan Papi Gilang. ''Hem.. Papi iya udah merasakannya sejak lama. Lah aku? Harus puasa selama setahun lagi! Hadeeeuuhh.. bisa pusing lagi aku! Berdekatan sama Annisa, seperti tubuhku kesetrum listrik bertegangan tinggi! Harus bisa di tuntaskan ini! Hadeeeuuhh.. Cok, Cok.. bisa-bisa nya kamu on! Padahal ketemu aja belum dengan orangnya!'' Gerutu Tama sambil tangannya bergerak membuka pintu kamar Annisa.
Ceklek!
Deg!
Tama mematung. Ia mematung ditempatnya. Terlihat Annisa tetidur dengan pose menantang. Tama menelan salivanya.
__ADS_1
''Ck! Kamu tidurnya kok gitu sih sayang? Mana dibawah lagi! Hadeuuhh.. lebih baik tidur juga ah disebelah nya. Capek!'' keluhnya sambil merebahkan dirinya di sebelah Annisa yang sudah terlelap terlebih dahulu.
''Hemmm.. nyamannya..'' bisik Tama saat memeluk tubuh chubby Annisa.
Mereka berdua terlelap bersama. Sadar akan rasa nyaman yang sedang memeluk tubuh nya, Annisa semakin terlelap saat merasakan nyaman menyergap hingga ke relung hatinya.
Annisa tersenyum saat merasakan kehangatan di tubuhnya. Harum tubuh yang begitu ia kenal. Ia semakin mendekat kan tubuhnya.Tama tersenyum dalam mata terpejam.
Hingga keduanya terlelap begitu damai dalam pelukan yang saling menghangat kan tubuh masing-masing.
*
*
*
Sore harinya.
Tok, tok, tok..
Annisa menggeliat begitu juga dengan Tama. Mata keduanya begitu lengket seperti lem. ''Ehem.. iya Dek.. sebentar!! Ini mau bangun!!'' sahut Annisa dari dalam kamar.
''Buruan Kakak! Bangunin Abang! Kakek sama Papi udah nungguin Abang mau ke mesjid bersama!''
Deg!
''Ke mesjid?? Emangnya ini jam berapa sih?!'' gerutu Annisa masih dalam pelukan hangat. Tama.
Pemuda tampan itu begitu terlelap dalam tidurnya. Nara berdecak sebal. ''Lihat jam kakak! Buruan! Jangan sampai Kakek sama Papi marah!'' seru Nara begitu gusar diluar sana.
Annisa melirik jam yang ada di dinding. ''Beneran jam enam. Abang pulas banget lagi. Gimana mau bangunin coba? Abang.. bang! Bangun!''
Annisa menggoyang tubuh Tama, tapi tidak ada reaksi sama sekali. Lagi, ia coba. Tetap sama. Tama hanya menggeliatkan tubuhnya saja. Tanpa mau membuka matanya.
__ADS_1
Berulang kali dicoba tetap sama. Annisa pasrah. Akhirnya ia keluar untuk mengatakan pada kedua orangtuanya jika Tama tidak bangun, mungkin terlalu lelah.
Tiba dibawah, Annisa melihat Papi Gilang dan Kakek sudah bersiap. ''Papi. Kakek. Kayaknya Abang nggak ke mesjid deh. Udah berulang kali Kakak bangunin tapi nggak bangun juga. Kayaknya lelah banget deh.'' Kata Annisa pada kedua orang yang sedang menunggu Tama itu.
Papi Gilang terkekeh. ''Ya sudah, kami saja yang pergi ke mesjid. Bangunin lagi. Kasihan asharnya. Nanti Maghrib lagi. Paksa aja. Setelah sholat, ia boleh tidur lagi. Ayo, Pa! Nanti keburu Maghrib kita di jalan.''
''Ya, kita berdua saja ini. Sedang para bocah sudah duluan tadi dengan motor tua Papa! Entah kenapa Rayyan sangat suka motor tua Papa? Tiap kali pulang kemari, ia pasti membawa motor tua itu. Sudah menjadi kesenangan tersendiri kali ya?'' Kakek Yoga terkekeh-kekeh mengenang kelakuan rayyan dulu saat berusia lima tahun.
Papi Gilang pun ikut terkekeh mengenang Rayyan saat berusia lima tahun dulu. ''Betul sekali Pa! Sudah menjadi kenangan tersendiri saat ia pulang kesini, pastilah motor tua itu yang jadi incarannya!''
Kedua orang itu terkekeh bersama. Annisa pun ikut terkekeh. Mereka pergi setelah berpamitan dan akan pulang saat isya nanti.
Sementara Tama yang baru bangun dari tidurnya terkejut ketika melihat jam di dinding kamar itu sudah menunjukkan pukul enam lewat dua puluh.
Pertanda waktu Maghrib sebentar lagi. Ia bangkit dan ngacir masuk kamar mandi. Annisa yang baru saja masuk pun kebingungan mencari Tama.
Ia ingin masuk kamar mandi untuk mandi juga bertepatan dengan Tama yang juga membuka pintu.
Duk!
''Astaghfirullah!''
''Auuuccchh... sssttt...''
Tama terkejut melihat kening Annisa kejedug pintu. ''Ya Allah sayang. Maaf. Abang nggak sengaja! Maaf.. Abang buru-buru mau ke mesjid. Udah janji sama Pak dan kakek. Dan kuah kebetulan malam ini ada pengajian rutin di mesjid sehabis Maghrib. Maaf sayang.. Abang nggak sengaja! Maaf.. beneran!'' ucap Tama begitu panik saat melihat dahi Annisa memerah karena ulahnya.
Annisa tersenyum walau meringis. ''Tak apa. Bersiaplah. Nanti adek minta nenek gilingkan buah pala biar nggak bengkak. Pergilah. Adek juga mau mandi.''
''Beneran??'' tanya Tama memastikan.
Annisa mengangguk dan tersenyum. ''Beneran Abang.. ayo sana! Tuh! udah adzan loh..''
''Oke, oke. Abang pakai baju dulu baru pergi. Hadeuuhh.. gara-gara keletihan menjadi supir sampai tidur pun bangun nya terlambat kayak gini.'' ucap Tama
__ADS_1
Ia terburu-buru memakai baju dan kain sarungnya. Setelah selesai, ia pun berpamitan pada Annisa dan berlaku ke mesjid dengan mengendarai mobilnya agar lekas sampai.
Sementara Annisa terkikik geli saat melihat wajah Tama begitu kesal karena terlambat bangun dan ketinggalan oleh kedua orang tuanya.