Annisa Istri Kecilku

Annisa Istri Kecilku
Bonchap terakhir


__ADS_3

Noh. Mana yang kecewa sama adek Annisa yang udah Tamat othor kasi dah bonus chapternya tetatapi hanya dua aja ye?


Kalau kalian mau tau lagi di mana adek Annisa ada, mampir aja di karya othor yang lain. Mereka ada disana kok. Salah satunya PENANTIAN KINARA DAN SANDIWARA CINTA.


Mampir ye? Othor tunggu lohh.. Tanpa kalian apalah othor remahan rengginang ini. 🥺🥺🥺


Happy reading...


Tiga tahun berlalu.


Setelah melahirkan si kembar tiga dulunya, kini Annisa sudah tidak di izinkan hamil lagi oleh Tama. Semua itu demi kebaikan serta masa kehidupan mereka berdua.


"Abang?" panggil Annisa pada Tama yang kini sedang terpejam dan memeluknya dengan erat.


"Hum? Apa? Kamu ingin sesuatu?" tanya Tama dengan cepat membuka kedua matanya.


Annisa tersenyum sangat manis padanya, membuat Tama mengernyitkan dahinya. Tama sangat mengenal sifat Annisa seperti apa. Mereka itu sudah bersama sedari Annisa bayi.


Berpisah sebentar, kemudian bertemu lagi hingga mereka menikah sampai saat ini yang usia pernikahan mereka sudah memasuki delapan tahun lamanya. Tama tau, jika Annisa seperti itu pastilah menginginkan sesuatu.


"Katakanlah apa yang kamu inginkan! Kecuali kamu ingin hamil lagi. Itu tidak akan Abang kabulkan!"


Deg!


Bibir Annisa yang tadinya tersenyum lebar dan sangat manis hingga membuat Tama diabetes. Eh? Kini Tiba-tiba saja menyurut seiring dengan ucapan Tama.


Wajah itu di tekuk masam. Tama terkekeh, ia mengecup puncak kepala Annisa dengan sayang. Annisa masih tetap sama.


"Dengarkan Abang sayang. Abang itu sangat menyayangimu. Bahkan sangat menyayangimu. Lebih dari yang kamu tau selama ini. Abang melarang mu karena Abang tidak ingin kehilanganmu. Dan si kembar pun masih membutuhkan kasih sayang yang lengkap dari kita berdua. Sudah cukup lima anak. Itu sudah lewat dari slogan Dua Anak Lebih Baik!" ucapnya

__ADS_1


Annisa yang mendengarnya pun tertawa. Tama Tersenyum. Ia berhasil membawa sang istri kembali. "Tapi adek menginginkan satu orang lagi untuk menjaga kita nantinya. Tiga perempuan dan dua laki-laki. Adek ingin laki-laki satu lagi Abang. Adek janji! Ini yang terakhir kalinya adek meminta ini sama Abang. Adek ingin keluarga kita lengkap Abang.." lirih Annisa menatap dalam pada manik mata hitam Tama yang mentap nya dengan lembut.


Ia tersenyum, "Oke, jika kamu ingin hamil. Bagaimana kalau seandainya saat anak kita lahir lagi nanti perempuan bukannya laki-laki? Apakah kamu ingin hamil lagi? Secara kamu udah berjanji sama Abang. Apa yang akan kamu lakukan nantinya?" Tanya Tama pada Annisa yang kini tertegun dengan ucapannya.


Annisa tersenyum, "Adek janji sama Abang. Ini permintaan adek untuk yang terakhir kali dalam masalah hamil. Jika yang keluar nanti adalah perempuan lagi, maka itu akan menjadi hamil terakhir untuk Adek!" ucapnya dengan mantap


"Yakin?" Annisa mengangguk dengan bibir tersenyum manis. "Nggak akan berubah lagi seperti sekarang ini?" tanya nya lagi untuk memastikan.


"Adek Janji! Ini yang terakhir!" jawabnya sangat mantap


Hingga Tama tertawa melihatnya. "Baiklah Ratuku. Seperti yang kamu inginkan, akan Abang turuti kemauan mu! Cup!" Tama mengecup putik ranum Annisa yang selalu membuatnya candu setiap saat.


Dengan segera Tama melakukan ritual mereka untuk yang kesekian kalinya setelah tadi ia dan Annisa melakukannya.


Mereka berjuang bersama untuk mendapatkan kenikmatan surga dunia di dalam rumah Tangga mereka yang nantinya akan membuahkan hasil seperti keinginan Annisa.


"Tunggu satu Minggu lagi Bang Tama. Kamu Pasti akan terkejut!" ucapnya dengan terkikik geli dan semakin mengeratkan pelukan nya di tubuh hangat Tama.


Satu Minggu kemudian, Tama merasakan pusing yang tiada tara di pagi itu saat mereka sedang sarapan bersama kelima anaknya.


Wajahnya begitu pucat. Tama memijit pelipisnya dengan kuat. Ia mendesis. Tania menatap sang Papi dengan khawatir.


"Papi kenapa? Papi sakit? Udahh minum obat?" tanya Tania pada Tama yang kini mendadak mual karena bau dari pewangi pakaian yang Tania kenakan.


Ia menutup mulutnya dan berlari di dekat westafel. "Hueeekkk.. Hueeeekkk.. Errggtthhtt.. Hueekk.." Tama memuntahkan semua sarapan paginya di westafel dapur hiingga membuat Annisa terkejut bukan main.


Dirinya yang tadi sedang membuang sampah kini terkejut melihat Tama yang bergelantungan di westafel dapur dengan tangan berada di sebelah kepalanya yang terasa berdenyut.


Tania dengan cepat memijat tengkuk sang papi hiingga semakin membuat papi nya mual saat mencium bau aroma pewangi Di baju yang Tania kenakan.

__ADS_1


"Astagfirullah! Papi kamu kenapa Nak?" tanya Annisa pada Tania yang kini sedang memijat tengkuk sang papi dengan khawatir.


"Nggak tau, Mi. Tiba-tiba aja Papi mual saat Kakak datangi. Kakak cuma khawatir lihat wajah Papi yang begitu pucat selama seminggu ini. Apa Papi masuk angin ya Mi?" tanya Tania masih dengan memijat tengkuk Tama.


Tama yang sudah tidak kuat lagi pun jatuh merosot ke bawah. Dengan sigap Annisa memegang tubuh kekar Tama.


"Danis!!!!" pekik Annisa memanggil putra sulungnya yang kini sedang bersiap.


Danis yang mendengar suara lengkingan Annisa secepat kilat berlari. Ia sangat tau, jika sang Mami sudah bersuara melengking memanggil namanya pastilah terjadi sesuatu dengan sang papi. Sama seperti seminggu yang lalu.


"Iya Mi!! Ini Abang lagi turun!!" pekiknya dengan segera berlari menuju kedua orang tuanya.


"Hosstt.. Hhosstt.. Apa Mi? Mau ponsel?" tanyanya masih dengan nafas terengah-terengah karena panik dan juga terkejut.


"Mana? Sinikan!" katanya pada Danis.


Dengan segera saudara kembar Tania itu pun memberikan ponsel yang sempat ia ambil tadi saat melewati kamar sang mami. Karena ia yakin, jika sang Ratu kesayangan papi nya itu pasti butuh ponsel saat ini. Ia sudah hafal dengan kebiasaan sang Mami selama ini.


"Terimakasih Nak. Mbak sus! Bawa si kembar kerumah Mitha dulu! Saya harus kerumah sakit! Dan untuk kalian berdua, minta Om Anto untuk mengantarkan kalian ke sekolah!" ucapnya kepada ketiga pengasuh si kembar dan juga kedua anaknya.


Mereka menagngguk bersama dan segera berlari menuju ke tempat masing-masing. Annisa denagn segera mendial nomor seseorang.


"Hallo, waalaikum salam iya Bang. Baik. Ini mau kesana! Hadeuuhh.. Kenapa harus Abang sih yang mengalami hal ini?!" gerutu Annisa yang masih bisa di dengar oleh Tama.


Tama tidak bisa berbicara. Tenaganya terkuras habis saat ini. Sudah dua minggu ini ia merasakan keaneahan seperti ini di tubuhnya.


Ingin bertanya pada Annisa apa maksud dari perkataan nya itu saja Tama tidak sanggup. Ia pasrah saat Anto memapahnya ke mobil untuk dibawa Annisa ke rumahh sakit.


Annisa sudah bisa menyetir mobil yang diajarkan oleh Kinara saat ia memiliki waktu senggang dlulunya.

__ADS_1


__ADS_2