
''Makan yang banyak. Jangan sampai kamu kurus gegara saya tadi Kakak ipar!'' seloroh Tian pada Annisa
Annisa yang sedang makan tersedak. Ia melotot pada Tian. ''Apa katamu Kristianto Nugroho??? Mau saya pecat kamu di tempat kerja saya??'' ancam Annisa tidak main-main dengan ucapan nya.
Tian tertawa. ''Janganlah kakak ipar... Bang Tama! Apakah sekarang posisi CEO di bengkel kamu sudah berganti orang? Hingga kakak ipar yang memutuskan nya??'' seloroh Tian lagi.
Tama tertawa. ''Sudah.. kamu makan saja dulu. Jangan memancing singa betina yang sedang diam Tian...''
''Abang??? Mau???'' tunjuk Annisa pada leher Tama dengan cara di gorok
Tama tertawa. Begitu pun dengan Anto. Ia terkekeh melihat tingkah Annisa berubah menjadi jutek setelah pulang dari pantai tadi. ''Kamu jangan main-main Tian, saya saja bisa di pecat jadi adik ipar kalau berani macam-macam?'' kini gantian Anto yang menggoda Annisa.
Annisa menghela nafasnya. ''Jika kaIian anggap aku ini anak-anak, memang iya aku anak-anak! Tapi ingat! Aku sudah bisa menghasilkan anak! Asal kamu tau itu bang Anto adik ipar sialan!'' ketus Annisa pada Anto.
Tama melototkan matanya pada Annisa. ''Apa?? Abang tidak terima?? Memang benar Kan kalau aku ini sudah bisa menghasilkan anak?? Aku itu tidak marah dengan masalah tadi. Hanya kesal saja. Dikala perutku lapar, kalian makan dengan kenyang tanpa memikirkan aku yang belum makan sejak pagi! Dan ketika aku kembali ada orang asing yang tidak di undang datang-datang menghabiskan semua makanan yang di tinggal untukku? Sekarang aku tanya sama kamu bang Tian! Apa Yang akan kamu lakukan disaat perut kamu lapar tapi makanan kamu habis tak bersisa dimakan oleh orang lain?? Kalau itu adikmu atau kakakmu, kamu masih bisa ditolerir bukan?? Lah ini?? Entah siapa dan darimana datangnya, tiba-tiba makan makanan punya ku dengan santai nya! Mana ngakunya udah kenal sama bang Tama lagi sedari kecil?! Aku yang sedari bayi sudah sama bang Tama saja tidak sampai se bangga itu menunjukkan nya!'' kesal Annisa dengan nafas memburu.
Wajah itu sangatlah terlihat kesal sekali. ''Kalian boleh menganggap ku masih labil. Iya aku labil dan masih belum bisa berpikir matang seperti kalian yang sudah dewasa! Tapi aku punya otak yang bisa aku gunakan untuk memilah mana yang baik dan mana yang buruk! Dan kamu Mitha! Aku tau kamu itu lebih tua dariku! Tetapi bukan berarti kamu bisa menyindirku seperti itu! Seperti apapun aku, aku tetaplah kakak iparmu Kamitha Andriyana Pratama! Dan kamu bang Tama. Ajari tamu dan kedua adikmu dalam berbicara yang tidak menyinggung perasaan orang lain! Masih untung itu aku? Kalau orang lain? Kalian bertiga pasti sudah di tuntut atas pencemaran nama baik terhadap orang yang telah kalian sindir! Aku sudah kenyang! maaf merusak acara makan kalian!''
Deg!
Deg!
__ADS_1
''Sayang! Tunggu dulu. Makanannya belum habis. Kapan kamu kenyang??''
Annisa menatap datar pada Tama. ''Sejak orang lain datang kerumah kita dan menyindir ku? Begitu juga dengan kedua adikmu! Aku tau aku ini siapa! Lebih baik kamu mencari orang lain yang sepadan dengan mu! Tidak denganku yang masih anak-anak ini!''
Deg!
Deg!
''Annisa...''
''Kakak ipar .. A-aku tak bermaksud-,''
''Kamu berhak Kamitha! Katakan pada Abang mu untuk segera melepaskan ku agar kamu bisa mendapatkan kakak ipar yang sepadan denganmu dan sesuai dengan kriteria kamu! Besok, aku akan pulang kerumah Mak. Kalau Abang ingin antar, silahkan! Kalau pun tidak, tidak masalah untukku! Siapa lah aku ini yang hanya seorang anak kecil bagi kalian yang sudah dewasa dan berpikiran matang!'' kata Annisa dengan wajah datarnya. Ia berlalu pergi dengan wajah datar dan dingin nya.
Annisa tidak peduli. Ia berlari masuk ke kamar lain setelah mencuci tangannya. Entah kenapa hari ini Annisa seperti sengaja di permalukan di hadapan orang lain oleh suami dan adik iparnya.
Belum lagi sejak kedatangan Tian, lelaki itu terus saja menggoda nya. Begitu pun dengan Anto. Ia sibuk menyindir Annisa yang bertingkah seperti anak-anak.
Annisa berusaha sabar saat mereka makan tadi. Namun, perkataan Anto dan Tian tadi begitu mengganggu dirinya. Lebih baik ia menyendiri daripada harus bertemu dengan mereka berempat lagi.
Tama menatap datar pada ketiga nya. Ketiganya tidak ada yang berani bersuara. ''Kamu saya terima di tempat kerja saya seperti kata istri saya tadi. Pulanglah!''
__ADS_1
''Maaf Bang...'' Tian menunduk malu
Tama menoleh pada Mitha dan Anto yang saat ini sedang menatapnya. ''Jauh sebelum aku bertemu dengan kalian sebagai adikku, Annisa lah lebih dulu yang mengisi kehidupan ku! Jangan sekali-kali sekali menjelekkan dirinya yang masih kecil! Saya kecewa dengan kalian berdua! Sedari tadi saya berusaha diam agar tidak memancing keributan! Tapi kalian berdua selalu saja memancing nya!''
''Susah payah saya mendapat dan membujuk Annisa untuk menjadi istri saya, tapi dalam sekejab kalian menghancurkan hubungan kami yang sudah terjalin lama! Saya kecewa sama kalian berdua! Pulang dan jangan kembali sebelum hubunganku dan kakak ipar kecilmu belum membaik!''
Dddduuuuaaaaarrrrrrrrr...
''Abang...''
''Pulang Kamitha!''
Kamitha mengangguk patuh. Ia dengan segera membersihkan sisa makanan itu. Setelah semuanya beres, Mitha pulang bersama Anto. Wajah itu mendadak sendu karena Tama mengusir mereka.
💕💕💕💕
Nah loh.. kayaknya adek Annisa ini lagi PMS kali ye? Sensi amat jadi orang??
Hemm.. baiklah, sambilan nunggu cerita ini update, mampir dulu yuk di karya temen othor yang satu ini.
__ADS_1
Noh, video kepoin ye?
Like dan komen selalu othor tunggu! 😘 Jangan lupa lempar kembang buat Othor! Biar othor rajin dan semangat update nya!