
''Selamat datang menantu ku. Kami menerima mu dengan lapang dada. Pintu hotel ini terbuka luas untukmu!'' ucap salah satu saudara Papa Fabian yang mirip sekali dengan Papa Fabian.
''I-ini...'' tunjuknya pada seorang pria paruh baya yang seusia dengan Papa Fabian. Papa Fabian dan Mama Linda terkekeh saat melihat wajah terkejut Annisa yang menatap silih berganti pada keduanya.
Tama tersenyum, ''Beliau Pakde Abang. Abang nya Papa yang tinggal di Kalimantan. Mereka kembar!''
''Hah??'' Annisa terkejut lagi. Mulut itu sampai menganga lebar saking terkejutnya.
Pakde Faris tertawa. Ia mendekati Annisa dan mengecup kening Annisa dengan lembut. Ia peluk erat tubuh Annisa yang sudah susut selama enam bulan ini.
''Selamat datang sayang.. kami menyambut mu dengan suka cita. Selamat datang di keluarga besar PRATAMA! Menantu Cantikku! Cup!'' ucapnya lagi, ia mengecup kembali kening Annisa.
Annisa tertegun. Mata itu menatap terkejut pada Pakde Faris.
Tes.
Tes.
Pakde Faris mengusap nya dengan lembut. ''Jangan menangis.. masa' iya pengantin nya nangis? Dikira Pakde apa-apa in kamu lagi! Tuh, lihat Bude kamu! Udah kayak singa betina yang siap ingin menerkam Pakde!'' tunjuknya pada sang istri. Bude Rasmia namanya.
Semua yang ada disana tertawa bersama mendengar kelakar Pakde Faris. Sedang di ujung sana, seorang Wanita paruh baya itu mendatangi Annisa dengan wajah garangnya.
''Aww.. wadaaewww!! Sakit Mami!! Ih, kok di cubit sih?! Papi nggak ngapa-ngapain loh sama menantu kita?! Tega amat sih kamu sama Papi?!'' serunya pada Bude Rasmia.
Papa Fabian tertawa. Begitu pun dengan Mama Linda. Mereka berdua mendekati Annisa dan memeluknya. ''Selamat datan kembali di Keluarga Pratama sayang. Kami sudah lama menunggu mu. Ayo, banyak adat yang harus kamu ikuti. Lihatlah! Seluruh keluarga mu dari Aceh pun sudah tiba sedari kemarin. Mereka tidak sabar ingin bertemu dengan mu! Ayo!'' ajaknya pada Annisa yang saat ini masih mematung dengan lelehan bening terus mengalir di pipi halusnya.
__ADS_1
Mama Linda merangkul erat tubuh Annisa dan membawanya ke hadapan seluruh keluarga.
''Hai hai.. menantu cantik kita sudah tiba rupanya! Selamat datang di keluarga besar Adrian Pratama, Annisa Pratama!''
Deg!
Deg!
Annisa tersedu. Ia semakin tersedu kala nenek dari sebelah Tama datang dan menyambutnya dengan hangat. Nenek yang merupakan kakak dari nenek Tama. Mama kandung Papa Fabian yang saat ini menetap di Jakarta bersama ke enam anaknya.
Sedangkan nenek Tama sendiri sudah tiada. Beliau sudah meninggal ketika umur Tama tiga belas tahun.
''Ayo?'' ajak Tama kini yang sedang menggamit tangan nya. Annisa mengangguk walau masih dengan menangis.
Nenek Irma yang sedari tadi menunggu nya pun kini sedang berjalan cepat menuju Annisa.
Grep!
''Abang nggak ngapa-ngapain kok Nek. Beneran!'' jawab Tama pura-pura ketakutan
Annisa terkekeh, ia mengusap bulir bening itu dengan kedua tangannya. ''Alhamdulillah kakak baik Nek. Kakak kurus bukan karena bang Tama. Tapi kakak selalu belajar tiap malamnya agar bisa lulus dengan nilai terbaik dan bisa mendapatkan juara umum!''
''Masyaallah... Nenek doakan supaya kamu mendapatkan juara umum nanti!''
''Amiin..'' sahut semua yang ada disana mengaminkan ucapan Nenek Irma.
__ADS_1
''Ayo, kamu harus istirahat dulu. Ayo Tama. Kamu juga. Kalian berdua istirahat lah dulu. Setelah ini akan ada adat yang harus kalian ikuti. Terutama kamu Annisa!''
''Baik Nek.'' Jawab Annisa
Mereka bergandeng tangan menuju seseorang disana yang sedang menatap Annisa dengan senyum tampannya. Annisa melepaskan tangannya dari Tama dan berlari-lari kecil ingin menemui pemuda tampan berseragam loreng itu.
''Huaaa.. Abang!!'' serunya sambil berlari mendekati Lana yang saat ini sedang merentangkan tangannya sambil tertawa melihat tingkah Annisa.
Grep!
Pelukan dua saudara itu membuat semua yang ada disana terharu melihat keakraban mereka berdua. Seorang wanita berniqob pun datang menemui mereka berdua.
''Udah ih! Kakak juga belum ketemu loh sama adek kakak yang tampannya ini? Kamu jangan memonopoli Abang sendiri dong Dek!'' tegur Kak Ira
Ia sengaja menarik lengan Annisa yang menggamit erat tubuh pemuda tampan yang saat ini sedang tertawa itu. ''Lepasin ih! Kakak juga kangen tau!'' sungutnya lagi.
Semua yang ada disana sangatengenal siapa Ira. Ira ini punya cara sendiri untuk ajaran dnehn semua adiknya. Ia sengaja membuat semua adiknya merasa kesal padanya.
Motto Ira, biar di benci tapi disayang. Apa gunanya disayang kalau akhirnya di buang? Itulah motto hidup bersama saudaranya. Putri sulung Mak Alisa dengan ayah Emil.
Tama Terkekeh-kekeh melihat tingkah Annisa dan Ira yang saling berebutan ingin memeluk Lana. Semua yang ada disana dibuat tertawa oleh ketiga saudara itu.
''Aduhh.. adawww!!'' pekik Lana begitu keras.
Ia mengusap telinga nya yang terasa panas. ''Kakak ah! Kok di jewer sih? Sakit ini kuping Abang!'' gerutunya begitu kesal pada Ira.
__ADS_1
Ira mencebik, ''Gilirsn adek aja lama kamu peluknya! Lah kakak? Sedari tadi mandangin kamu kayak kambing congek sejak kamu datang, kamu masih nggak peduli! Kesal kakak sama kamu!'' ketusnya kemudian segera pergi menuju suami dan anaknya.
Annisa terkikik geli melihat sang kakak merajuk. Tama mendekati Annisa dan merangkulnya. Mereka berjalan bersama menuju Lana dan Ira yang saat ini sedang berdebat kecil.