
''Baiklah, ayo kita istirahat. Ayah lelah,'' ucap ayah Emil dengan nafas tersengal.
Semua yang melihatnya panik bukan main. Ragata dengan cepat membaringkan ayah Emil. Semuanya panik melihat ayah Emil yang tersengal seperti itu.
Annisa semakin tersedu. Ia Tidka tau harus berbuat apa untuk saat ini. Panik dan bingung melanda dirinya.
Ayah Emil mencoba meraih tangan bunda Zizi dan berbicara. ''Zzzi.. ooohhhbbbbaaatt... hah.. hah.. hah..'' ucap Ayah Emil tersengal-sengal.
Annisa yang mendengar nya bergerak cepat turun ke bawah di ikuti Tama. Annisa membuang asal rok dan mukenah nya. Tama melotot.
Dengan cepat ia mengambil mukenah itu dan mengejar Annisa yang sudah duluan turun menuju kamar bunda Zizi.
Tiba disana Annisa membuka pintu kamar itu secara paksa.
Brrraaaakkk..
''Astaghfirullah!'' pekik Tama begitu terkejut melihat tingkah Annisa yang begitu bar-bar saat panik.
Rambut hitamnya tergerai indah hingga turun ke wajahnya. Tama tertegun melihat itu. Annisa terlihat begitu cantik saat panik seperti itu. Tama tersenyum, tetapi terkejut kala mendengar jika Annisa kebingungan mencari obat ayah Emil.
Emil menggeleng kan kepalanya untuk menyadarkan dirinya dari pikiran jahat ingin menyentuh Annisa lagi.
''Ck. Dasar kamu Tama! Berhenti dulu untuk menginginkan itu! Saat ini situasi sedang genting! Haisshh.. ini otak bawah dan atas kok cenat cenut gini sih?!'' protes Tama pada tubuhnya sendiri.
Ia mendekati nakas dan melihat obat ayah Emil memang terletak disana. Tama menggeleng kan kepalanya melihat Annisa yang kalang kabut mencari obat ayah Emil.
__ADS_1
Ia terkekeh kecil, setelah nya mendekati Annisa dan menarik gadis yang sudah menjadi wanita itu untuk menghadap nya.
Brruukkk..
Cup!
Annisa terkejut. Reflek saja tubuh itu mematung seketika ketika putik ranumnya di kecup serta dipagut lembut oleh sang suami. Seketika pikiran panik tadi hilang entah kemana.
Annisa memejamkan matanya. Tama tersenyum, ia melepaskan pagutan nya dan melihat Annisa yang sudah kembali tenang. Dengan cepat Tama memakaikan mukenah berwarna putih itu kembali ke kepala Annisa.
Annisa membuka matanya. ''Sudah. Ayo kita ke atas. Abang udah dapat obat ayah! Ayo!'' Tama menarik Annisa yang saat sedang terdiam karena terkejut.
Seketika pikirannya blank. Ia mengikuti langkah panjang Tama menuju musholla atas.
Tiba di pertengahan tangga ia berpapasan dengan Bunda Zizi yang sedang tersedu. ''Obat? Kalian temukan obat ayah?'' tanya Bunda Zizi masih dengan air mata bercucuran.
''Ya sudah, kalian berilah. Bunda ingin mengambil bantal untuk ayah dulu,''
''Baik, kami ke atas!'' Tama berlalu dengan menarik Annisa yang seperti orang bingung. Bunda zizi melirik sekilas.
Setelah nya ia menuju ke bawah untuk mengambil bantal. Ayah Emil tidak ingin turun ke bawah. Ia ingin tidur disana bersama ke enam anaknya.
''Ini Dek!'' ucap Tama pada Ragata sembari menyerahkan obat ayah Emil dan memberikan pada mulut ayah Emil yang masih tersengal dengan air mata yang terus beruraian.
Annisa baru sadar ketika tangan nya di sentuh oleh ayah Emil. ''Apa yah? Ayah mau minum?'' tanya Annisa dengan jantung berdegup kencang.
__ADS_1
Ayah Emil menariknya untuk tidur di pelukan nya. ''Aayah .. iiingin.. ttttidur sssssambil hah memeluk mu...'' jawabnya dengan terbata karena sesak itu belum juga berkurang.
Annisa menurut. Ragata bergeser dan memberi jarak pada Annisa untuk tidur di pelukan ayah Emil.
Putri kecil yang tidak pernah ia sentuh sejak ia lahir. Baru sekaranglah ia merengkuh tubuh Annisa dan memeluknya dengan erat. Rasa bersalah itu selalu menghantui nya.
Bahkan setiap malamnya. Mak Alisa tersedu di pelukan Papi Gilang. Ira menatap Ragata. Sang suami mengangguk, ia pun berbaring di belakang ayah Emil sembari memeluk paruh baya itu dengan dada yang semakin sakit melihat sang ayah kesakitan seperti itu.
Giliran Lana, Syakir, Arta dan Bella yang kini memeluk ayahnya. Jika Lana dan Arta bersama Ira. Syakir dan Bella bersama Annisa.
Semuanya bisa mendapatkan tubuh ayah Emil yang sudah lumayan tenang dengan nafas yang pelan. Mata yang basah itu terpejam erat.
Annisa pun ikut terpejam. Seumur hidupnya baru kali ini ia bisa tidur di pelukan ayah Emil. Sedari kecil ia hanya tidur di pelukan Papi Gilang.
Inilah yang pertama dan mungkin yang terakhir kalinya ia memeluk sang ayah tercinta.
Bunda Zizi semakin tersedu. Tama dan Ragata mendekati bunda Zizi dan membawa wanita paruh baya yang belum terlalu tua itu untuk mendekati sang suami yang kini direngkuh oleh ke enam anak kandungnya.
Mak Alisa sudah tidak kuat lagi untuk melihat semua itu. Ia pun jatuh pingsan di dalam pelukan Papi Gilang. Papi Gilang tau itu. Tetapi tidak ingin mencari keributan disana.
Karena ia tau jika mantan suami Mak Alisa itu sedang ingin bersama seluruh anaknya. Maka ia lebih membaringkan Mak Alisa dan mengganjal kepala itu dengan pahanya pengganti bantal.
💕
🤧🤧🤧
__ADS_1
Kalau ada typo nanti othor revisi lagi. Hiks..
Like dan komen ye? 🤧🤧